Teks foto: Sekolah Dasar (SD) 005 di Kecamatan Sungai Kunjang Kelurahan Loa Buah
Infobenua.com.Samarinda —Sebanyak 370 siswa SD Negeri 005 Samarinda masih harus mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam dua sesi lantaran jumlah ruang kelas yang tersedia belum mencukupi kebutuhan sekolah.
Kondisi itu disampaikan Kepala SD Negeri 005 Samarinda Norman saat menerima kunjungan lapangan Komisi IV DPRD Samarinda di sekolah yang berada di Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang.
Norman mengatakan, saat ini sekolah hanya memiliki enam ruang kelas aktif. Untuk mengurangi kepadatan belajar, pihaknya mengusulkan pembangunan tambahan enam ruang kelas baru.
“Kami mengusulkan tambahan ruang kelas karena yang ada sekarang belum cukup. Harapannya anak-anak bisa belajar satu sesi, tidak lagi dua sesi,” kata Norman saat diwawancarai pada Rabu (12/8/2026).
Selain ruang kelas, pihak sekolah juga mengusulkan pembangunan pagar belakang sekolah yang sudah mengalami kerusakan. Fasilitas lain seperti ruang UKS juga masih menjadi perhatian karena saat ini menggunakan bekas rumah guru.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie mengatakan, kondisi bangunan SD Negeri 005 secara umum sudah cukup baik. Beberapa fasilitas seperti ruang laboratorium dan perpustakaan juga telah selesai dibangun pada 2024.
Namun, DPRD masih menemukan sejumlah kebutuhan yang perlu ditindaklanjuti, salah satunya ketersediaan tenaga pengajar, termasuk guru Bahasa Inggris.
“Secara keseluruhan cukup baik. Tinggal persoalan guru Bahasa Inggris yang memang belum ada. Ini akan kita komunikasikan dengan Dinas Pendidikan dan OPD terkait,” ujar Novan.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV juga melihat keberadaan kelas filial SD Negeri 005 di RT 19 Loa Kumbar. Kelas tersebut dibuka untuk melayani anak-anak yang tinggal jauh dari sekolah induk dan harus melewati jalur sungai untuk menuju sekolah.
Novan mengatakan, kelas filial menjadi solusi bagi warga Loa Kumbar yang masih masuk wilayah administrasi Kota Samarinda, tetapi memiliki akses geografis berbeda.
“Ini bagian dari pelayanan pendidikan. Warga Loa Kumbar tetap harus mendapatkan akses sekolah meskipun lokasinya cukup jauh dari sekolah induk,” jelasnya.
Di kelas filial tersebut, jumlah siswa masih relatif sedikit, yakni sekitar enam orang dengan dua tenaga pengajar. Namun, guru yang mengajar di lokasi itu masih menghadapi persoalan terkait tunjangan.
“Ini yang akan kita cek, apa kendalanya. Apakah dari regulasi atau persyaratan yang belum terpenuhi,” kata Novan.
Selain persoalan sarana dan prasarana, Novan menyebut kebutuhan tenaga guru di Samarinda masih cukup tinggi. Pemerintah daerah masih membutuhkan sekitar 500 guru untuk jenjang SD dan SMP.
Menurutnya, karena penambahan ASN belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah perlu mencari skema lain agar kekurangan tenaga pendidik dapat tertangani, termasuk melalui mekanisme PJLP.
“Kita dorong ada solusi agar guru yang mengajar tetap mendapatkan penghasilan yang layak,” demikian Novan.
Penulis Frida editor Eka mandiri



















Users Today : 1176
Total Users : 1420067
Views Today : 1991
Total views : 6733216