Ket Foto: Kepala Dinas ESDM Kalimantan Timur, Bambang Arwanto.
Infobenua.com Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) melalui keterlibatan sektor swasta. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi berbasis fosil.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto, mengatakan partisipasi dunia usaha menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menurutnya, kebutuhan energi yang terus meningkat harus diimbangi dengan pengembangan sumber daya energi yang lebih bersih agar pasokan listrik bagi masyarakat tetap terjamin di masa mendatang.
“Keterlibatan pihak swasta dalam mengembangkan potensi pembangkit ramah lingkungan sangat krusial untuk memastikan ketersediaan pasokan daya berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Bambang pada Selasa (7/7/2026).
Saat ini, bauran energi baru dan terbarukan di Kalimantan Timur tercatat mencapai 12,94 persen. Angka tersebut masih akan terus ditingkatkan untuk mencapai target sebesar 79 persen pada tahun 2045 sesuai arah kebijakan pembangunan energi daerah.
Untuk mengejar target tersebut, Pemprov Kaltim tengah mendorong sejumlah proyek strategis. Salah satunya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan Batoq Kelo, Kabupaten Mahakam Ulu, yang direncanakan memiliki kapasitas hingga 300 megawatt.
“Selain fasilitas besar itu, rencana pengembangan arus Sungai Belayan Kutai Kartanegara dan kajian kelayakan di Sungai Kelay Berau menjadi prioritas utama percepatan energi kita,” kata Bambang.
Selain mengandalkan potensi tenaga air, pemerintah juga mengembangkan sumber energi alternatif dari limbah industri perkebunan. Sejumlah perusahaan kelapa sawit di Kaltim telah mulai memanfaatkan limbah produksi sebagai bahan baku pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.
Di sektor pertambangan, upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pemasangan panel surya untuk mendukung kebutuhan operasional perusahaan. Pemanfaatan energi matahari tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan energi konvensional sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon.
“Pemanfaatan teknologi cahaya surya tersebut menjadi solusi tepat guna dalam menekan emisi karbon sekaligus menjaga stabilitas ketahanan pasokan daya wilayah,” ungkapnya.
Bambang menjelaskan, transformasi energi yang tengah dijalankan juga sejalan dengan agenda diversifikasi ekonomi daerah yang menitikberatkan pada pengembangan sektor industri berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Di sisi lain, pemerintah turut memperluas pemanfaatan energi surya pada berbagai fasilitas publik, termasuk rumah sakit. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan pelayanan masyarakat sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
“Program praelektrifikasi kawasan pelosok turut digencarkan melalui pembangunan infrastruktur surya komunal yang menerangi 65 desa terpencil di Kaltim,” jelas Bambang.
Ia menambahkan, penguatan transisi energi juga didukung pengembangan bahan bakar nabati campuran B50. Program tersebut ditopang keberadaan fasilitas pengolahan di Kalimantan Timur yang berpusat di Balikpapan dan Bontang guna mempercepat implementasi energi yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri




















Users Today : 688
Total Users : 1365287
Views Today : 9491
Total views : 6601596