Infobenua.com, Flores — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ribuan gempa susulan terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Aktivitas gempa susulan diperkirakan terus berkurang dalam beberapa pekan mendatang.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan, berdasarkan pola aktivitas yang terpantau, intensitas gempa susulan diperkirakan mencapai tingkat yang lebih rendah dalam tiga hingga empat pekan ke depan.
“Laju gempa susulan dapat mencapai tingkat yang relatif rendah dalam tiga (minggu) sampai satu bulan ke depan, mungkin di akhir September 2026,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers, Rabu (19/08).
Nelly menegaskan, perkiraan tersebut tidak berarti gempa susulan akan berhenti sepenuhnya setelah September. BMKG, kata dia, masih akan memantau dan memperbarui informasi berdasarkan perkembangan aktivitas seismik di wilayah tersebut.
“Secara umum, dari grafik terlihat bahwa kecenderungannya menurun. Walaupun dalam beberapa periode dapat terjadi peningkatan aktivitas, secara keseluruhan gempa susulan ini akan menurun,” terang Nelly.
Ia memperkirakan proses penurunan aktivitas gempa akan berlangsung dalam rentang tiga hingga empat pekan.
“Hasil perhitungan sementara kami, kira-kira dalam waktu 21 sampai 30 hari ke depan (gempa susulan) akan segera menurun,” lanjutnya.
Gempa besar tidak diperkirakan terjadi dalam waktu dekat
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan masyarakat tidak perlu mengaitkan aktivitas gempa susulan saat ini dengan kemungkinan terjadinya gempa yang lebih besar dalam waktu dekat.
Menurut Teuku, sesar naik di busur belakang Flores membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengakumulasi energi dalam jumlah yang dapat menghasilkan gempa sebesar magnitudo 7,7.
“Perlu dipastikan bahwa diperlukan waktu hingga puluhan tahun agar sesar naik di busur belakang Flores ini dapat mengumpulkan energi dan menghasilkan gempa sebesar yang terjadi saat ini,” kata Teuku kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/08/2026).
Ia menjelaskan bahwa kemungkinan terjadinya gempa dengan magnitudo yang lebih besar maupun lebih kecil tetap ada dalam beberapa puluh tahun mendatang. Namun, potensi tersebut tidak menunjukkan bahwa gempa dengan kekuatan lebih besar akan segera terjadi.
Dalam pemutakhiran data hingga pukul 17.00 WIB pada Rabu (19/08), BMKG mencatat 3.055 gempa susulan, dengan gempa susulan terkuat mencapai magnitudo 6,2.
Teuku mengatakan sebagian gempa tersebut dirasakan oleh masyarakat.
“Adapun gempa yang dirasakan oleh masyarakat ada sebanyak 88 kali. Terkait proses peluruhannya, karena gempa utamanya cukup besar, yaitu M 7,7, maka penurunan aktivitas gempa memerlukan waktu kurang lebih 3 sampai 4 minggu ke depan,” lanjutnya.
Korban meninggal mencapai 73 orang
Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat gempa NTT terus bertambah. Hingga pukul 18.00 WITA pada 19 Agustus 2026, sebanyak 73 orang meninggal dunia, sedangkan korban luka berat dan luka ringan mencapai 931 orang.
Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman mengonfirmasi jumlah korban tersebut pada Rabu malam.
“Rekapitulasi sementara meninggal dunia 73 orang,” kata Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, Rabu (19/08) malam.
Korban tersebar di tujuh kabupaten di Pulau Flores. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban meninggal paling banyak, yakni 27 orang. Di wilayah tersebut, sebanyak 32 orang mengalami luka berat dan 104 orang luka ringan. Sebagian besar korban berada di wilayah Reo.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak kedua, yakni 24 orang. Wilayah ini juga mencatat 198 korban luka berat dan 421 korban luka ringan.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 11 orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan sembilan orang luka ringan.
Kabupaten Sikka melaporkan lima korban meninggal, 18 orang luka berat, dan 22 orang luka ringan. Sementara di Kabupaten Ende terdapat dua korban meninggal, lima orang luka berat, dan 67 orang luka ringan.
Di Kabupaten Ngada, jumlah korban meninggal tercatat dua orang, dengan 17 orang mengalami luka berat dan 19 orang luka ringan.
Adapun Kabupaten Manggarai Barat mencatat dua korban meninggal dunia, dua orang luka berat, dan empat orang mengalami luka ringan.
Dengan masih berlangsungnya proses peluruhan aktivitas gempa, BMKG meminta perkembangan seismik di NTT terus dipantau. Lembaga tersebut menekankan bahwa pola aktivitas gempa susulan dapat berubah dari waktu ke waktu meskipun kecenderungan umumnya menunjukkan penurunan. (*)



















Users Today : 536
Total Users : 1435058
Views Today : 2036
Total views : 6763944