infobenua.com, Samarinda: Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Adnan Faridhan, membantah tudingan yang menyebut dirinya sebagai dalang di balik aksi unjuk rasa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda di depan Kantor Wali Kota beberapa waktu lalu. Ia menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan merupakan bentuk pelemahan terhadap kritik publik.
“Yang jelas tuduhan itu salah alamat. Saya tidak pernah terlibat apalagi mendalangi aksi itu,” tegas Adnan (21/6/2025).
Aksi HMI tersebut digelar sebagai bentuk evaluasi 100 hari kerja Wali Kota Andi Harun dan Wakil Wali Kota Saefudin Zuhri. Namun alih-alih ditanggapi secara substansi, kritik yang disuarakan justru dibalas serangan digital yang menuduh aksi tersebut ditunggangi kepentingan politik dan dibiayai pihak tertentu.
Nama Adnan ikut terseret dalam tudingan yang disebar oleh sejumlah akun anonim di media sosial. Ia disebut sebagai aktor intelektual yang menggerakkan massa mahasiswa. Tuduhan itu ditolaknya mentah-mentah dan dinilainya sebagai fitnah yang membahayakan kebebasan berpendapat.
“Ini bukan kali pertama. Setiap kali ada suara kritis, nama saya dilibatkan. Padahal saya tidak punya keterkaitan apa pun,” katanya.
Ia mengaku prihatin dengan pola serangan digital yang kini makin sistematis, menyasar aktivis, mahasiswa, dan politisi yang vokal menyampaikan kritik. Menurutnya, praktik semacam itu mengarah pada pembungkaman ruang demokrasi secara digital.
“Siapa pun yang mengkritik, langsung dicap punya kepentingan. Ini bahaya kalau dibiarkan. Demokrasi kita bisa mati pelan-pelan,” ujarnya.
Terkait hal ini, Ketua HMI Cabang Samarinda, Syahril Saili, telah melaporkan salah satu akun media sosial ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi palsu. Akun tersebut menuduh HMI sebagai alat politik yang digerakkan oleh tokoh tertentu.
Adnan menyebut dirinya telah dihubungi oleh Syahril terkait laporan tersebut dan siap memberikan keterangan jika diperlukan.
“Kalau dibutuhkan, saya akan bantu menjelaskan. Tapi semua saya serahkan ke proses hukum,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa sudah ada dua laporan resmi yang dilayangkan ke aparat penegak hukum terkait penyebaran fitnah oleh akun-akun anonim. Adnan mendesak kepolisian untuk mengusut siapa aktor di balik serangan tersebut agar kasus serupa tidak terus berulang.
“Kalau ini dibiarkan, semua yang kritis bisa kena. Demokrasi kita bisa lumpuh,” tegasnya.
Meski mendapat serangan, Adnan menegaskan tidak akan mundur dari tugasnya sebagai wakil rakyat. Ia menyatakan akan terus bersuara demi kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
“Saya tidak akan berhenti menyuarakan apa yang perlu dikritisi. Karena ini bagian dari tugas konstitusional saya,” pungkasnya.
penulis Frida editor Eka mandiri

















Users Today : 1606
Total Users : 1412417
Views Today : 2108
Total views : 6721438