Infobenua.com, Riyadh — Arab Saudi melaporkan kepada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa produksi minyak mentahnya anjlok pada Agustus 2026 ke level terendah sejak 1990. Penurunan tajam tersebut terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dan mengganggu jalur ekspor minyak kerajaan di Teluk Persia.
Dalam laporan bulanan OPEC yang diperoleh Bloomberg, Riyadh menyampaikan bahwa produksi minyak mentah turun sekitar 1,9 juta barel per hari menjadi 6,238 juta barel per hari.
Angka tersebut bahkan berada di bawah titik terendah yang pernah dilaporkan Arab Saudi pada April, yang sebelumnya menjadi level produksi terendah sejak Perang Teluk. Penurunan produksi ini menandai kemunduran baru bagi produsen minyak terbesar di OPEC setelah beberapa bulan sebelumnya sempat meningkatkan produksi.
Gangguan Ekspor Tekan Pasokan
Penurunan produksi Arab Saudi terjadi bersamaan dengan meningkatnya gangguan terhadap pengiriman minyak di kawasan Teluk. Harga minyak mentah Brent pekan ini melonjak menembus US$100 per barel setelah terjadi serangan baru terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia. Kenaikan harga tersebut kembali meningkatkan tekanan inflasi dan biaya energi di berbagai negara.
Data pelacakan kapal tanker yang dikompilasi Bloomberg juga menunjukkan tren serupa dengan laporan pemerintah Saudi. Ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Agustus diperkirakan turun sekitar sepertiga dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 3 juta barel per hari.
Meski produksi menurun tajam, Arab Saudi melaporkan kepada OPEC bahwa “pasokan ke pasar” mencapai 7,122 juta barel per hari pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan volume produksi, sehingga mengindikasikan kerajaan kemungkinan memenuhi sebagian kebutuhan pasar dengan menggunakan cadangan minyak yang tersimpan.
Penilaian OPEC Berbeda
Laporan bulanan OPEC memuat dua jenis data produksi minyak, yakni laporan resmi yang disampaikan negara anggota dan estimasi dari sejumlah perusahaan eksternal yang disebut sebagai “sumber sekunder.”
Menurut penilaian sumber sekunder tersebut, produksi minyak Arab Saudi pada Agustus tidak turun sedalam laporan pemerintah Saudi. Rata-rata estimasi menunjukkan produksi Saudi berada di level sekitar 7,276 juta barel per hari, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Perbedaan tersebut mencerminkan adanya variasi metode penghitungan antara data resmi pemerintah dan pemantauan independen terhadap aktivitas produksi serta ekspor minyak.
OPEC Hadapi Ancaman Perpecahan
Di tengah tekanan akibat konflik Iran, OPEC juga menghadapi tantangan baru yang berpotensi memengaruhi soliditas organisasi. Venezuela, salah satu anggota pendiri OPEC, dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk keluar dari kelompok tersebut setelah hubungan Caracas dengan Washington mengalami perubahan signifikan.
Presiden Donald Trump disebut berhasil menarik Venezuela kembali ke dalam pengaruh Amerika Serikat melalui kesepakatan yang memberikan AS kendali mayoritas atas sebagian besar cadangan minyak negara Amerika Selatan itu. Ancaman keluarnya Venezuela muncul hanya beberapa bulan setelah Uni Emirat Arab resmi meninggalkan OPEC.
UEA memutuskan keluar karena ketidakpuasan terhadap kebijakan pembatasan produksi yang diterapkan organisasi tersebut selama bertahun-tahun. Di sisi lain, Irak juga terus mendesak OPEC agar mengakui kapasitas produksi minyaknya yang lebih tinggi. Baghdad sebelumnya memperingatkan akan mempertimbangkan keluar dari OPEC apabila tidak memperoleh kuota produksi yang dianggap sesuai.
Rangkaian perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap organisasi produsen minyak terbesar di dunia, yang kini harus menghadapi penurunan produksi di Arab Saudi sekaligus potensi berkurangnya jumlah anggota di tengah ketidakpastian pasar energi global. (*)



















Users Today : 195
Total Users : 1476685
Views Today : 312
Total views : 6871727