Infobenua.com, Jakarta — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan belum melihat dampak nyata fenomena El Niño terhadap ekspor batu bara Indonesia. Pernyataan tersebut muncul ketika data perdagangan dan laporan pelaku industri menunjukkan pengiriman batu bara mulai terganggu akibat menyusutnya debit sejumlah sungai di Kalimantan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pihaknya belum menerima laporan komprehensif mengenai dampak El Niño terhadap pengiriman komoditas mineral dan batu bara (minerba).
“Loh sampai sekarang kan dampak belum kita lihat secara nyatanya seperti apa, dan laporan juga enggak ke kami. Kami cuma ditanya wartawan-wartawan. Loh entar, terus kami jawabnya gimana, datanya belum ada,” kata Tri kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
Tri juga mengaku belum memperoleh laporan mengenai penurunan ekspor batu bara Indonesia pada Agustus 2026 yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.
“[Gangguan pengiriman batu bara] yang di Kalimantan mana? Saya belum belum [dapat laporan],” ungkapnya.
Namun, data pelacakan kapal menunjukkan penurunan ekspor yang cukup tajam pada Agustus. Berdasarkan data Kpler yang dikompilasi Sxcoal, ekspor batu bara Indonesia sepanjang bulan tersebut mencapai 36,1 juta ton, turun 23,34% secara tahunan dari 47,09 juta ton pada Agustus tahun sebelumnya. Secara bulanan, volume ekspor juga turun 6,54% dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 38,62 juta ton.
Ekspor Januari-Agustus Turun
Secara kumulatif, ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 302 juta ton. Angka tersebut turun 4,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. China tetap menjadi salah satu tujuan utama ekspor Indonesia. Pengiriman ke negara tersebut sepanjang delapan bulan pertama tahun ini mencapai 116 juta ton, turun 2,73% secara tahunan.
Sxcoal mengaitkan penurunan ekspor pada Agustus dengan dua faktor utama, yakni ketidakpastian kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 serta gangguan pengiriman akibat menyusutnya permukaan air sungai yang digunakan tongkang batu bara di Kalimantan.
“Selain ketidakpastian kebijakan, pasokan pada Agustus juga terkendala oleh rendahnya ketinggian air sungai akibat kekeringan,” tulis Sxcoal dalam laporannya.
“Ketinggian air di Sungai Barito turun menjadi 3—4 meter dari biasanya 8—18 meter, memaksa tongkang untuk mengurangi muatan hingga setengahnya. Beberapa bagian sungai menjadi tidak dapat dilayari, sehingga mendorong beberapa produsen untuk menyatakan force majeure,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar batu bara Indonesia dikirim melalui jalur laut setelah diangkut terlebih dahulu menggunakan tongkang dari area tambang menuju kapal induk.
China dan India Catat Penurunan
Sxcoal mencatat ekspor batu bara Indonesia ke negara-negara Asia pada Agustus 2026 mencapai 35,83 juta ton. Volume tersebut turun 23,66% dibandingkan Agustus 2025 dan 6,59% dibandingkan Juli 2026. Ekspor ke Asia menyumbang sekitar 99,3% dari total pengiriman batu bara Indonesia pada bulan tersebut.
China menjadi pembeli terbesar dengan volume 14,47 juta ton. Angka itu turun 30,78% secara tahunan, meskipun masih meningkat tipis 1,26% dibandingkan Juli. India menempati posisi berikutnya dengan impor 7,1 juta ton batu bara Indonesia. Jumlah tersebut turun 15,83% secara tahunan, tetapi meningkat 12,01% secara bulanan.
Ekspor ke Filipina mencapai 2,69 juta ton, turun 18,1% secara tahunan dan 26,38% secara bulanan.
“Filipina sangat bergantung pada impor batu bara dari Indonesia. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di negara tersebut tetap stabil secara tahunan sepanjang 2026, sehingga permintaan impor tetap stabil meskipun dalam skala yang moderat,” ungkap Sxcoal.
Sebaliknya, ekspor ke Malaysia meningkat menjadi 2,2 juta ton atau naik 28,52% secara tahunan dan 4,91% secara bulanan. Pengiriman ke Vietnam juga tumbuh secara tahunan. Ekspor pada Agustus mencapai 2,07 juta ton, naik 28,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi turun 21,58% dari Juli.
Sungai Kalimantan Mulai Surut
Gangguan pengiriman terutama menjadi perhatian di sejumlah sungai utama Kalimantan yang menjadi jalur transportasi batu bara dari tambang menuju terminal ekspor. Penurunan debit air dilaporkan terjadi di Sungai Mahakam, Kapuas, dan Barito. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi bahwa kondisi Sungai Mahakam yang mulai surut telah menghambat pengiriman batu bara.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan asosiasinya belum dapat memperkirakan secara pasti volume ekspor yang tertahan akibat kondisi tersebut. Meski demikian, penurunan debit air membatasi draft atau kedalaman sarat tongkang sehingga kapal tidak dapat memuat batu bara dalam kapasitas maksimal.
“Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kelancaran pemenuhan pasokan batu bara dan berpotensi meningkatkan stok sementara di area tambang maupun stockpile pelabuhan,” kata Gita saat dihubungi, Selasa (8/9/2026).
Pembatasan muatan juga telah diberlakukan di Sungai Mahakam.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda Mursidi mengatakan pihaknya telah menginstruksikan perusahaan dan pemilik pelabuhan untuk mengurangi muatan batu bara pada tongkang menjadi sekitar 5.500—6.000 ton. Dalam kondisi normal, tongkang dapat mengangkut hingga 7.000 ton batu bara. Namun, menyusutnya debit sungai membuat kapasitas tersebut tidak lagi aman bagi pelayaran.
“Kita juga melakukan imbauan. Artinya, instruksi juga sebetulnya kepada semua perusahaan termasuk pemilik pelabuhan untuk melakukan pemuatan di bawah batas normal lah,” kata Mursidi, dikutip dari YouTube Tribun Kaltim, Jumat (4/9/2026).
Barito Terancam Ganggu Ekspor
Sungai Barito menjadi salah satu titik yang paling mendapat perhatian karena merupakan jalur penting bagi pengangkutan batu bara dari wilayah pertambangan menuju terminal ekspor. Argus Media melaporkan bahwa penurunan kedalaman Sungai Barito mulai membatasi pergerakan batu bara dari kawasan tambang menuju terminal ekspor. Sejumlah produsen bahkan dilaporkan telah menyatakan keadaan kahar atau force majeure akibat gangguan tersebut.
“Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering,” tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan dampak penyusutan Sungai Barito dapat menghambat pengiriman sekitar 3,9 juta ton batu bara dalam satu bulan.
Ketua Komite Pertambangan Minerba Apindo Hendra Sinadia mengatakan sejauh ini belum menerima laporan dari perusahaan anggota mengenai pengumuman keadaan kahar maupun wanprestasi.
“Info yang saya dapat dari perusahaan anggota, dampak dari mulai suratnya hulu sungai Barito mengganggu shipment yang diperkirakan sekitar 3,9 juta ton dalam sebulan,” kata Hendra ketika dihubungi, Senin (7/9/2026).
Perbedaan antara pernyataan Kementerian ESDM dan laporan dari lembaga pelacak perdagangan serta asosiasi industri menunjukkan bahwa dampak El Niño terhadap rantai pasok batu bara masih berkembang. Meski pemerintah belum menerima laporan komprehensif, penurunan permukaan air di sejumlah sungai Kalimantan telah mulai membatasi kapasitas angkut tongkang dan berpotensi menekan volume ekspor apabila kondisi kering berlanjut. (*)



















Users Today : 195
Total Users : 1476685
Views Today : 315
Total views : 6871730