Infobenua.com, Beirut — Pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan kembali meningkat dan menewaskan sedikitnya 11 orang. Eskalasi tersebut menjadi pertempuran paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir sekaligus menambah tekanan terhadap perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih menemui jalan buntu.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Minggu (16/8) menyatakan telah menewaskan Abu Hassan Alaa, salah satu komandan senior Hizbullah, dalam serangan di Lebanon selatan sehari sebelumnya. Serangan itu menewaskan 11 orang dan menjadi pertempuran paling mematikan sejak Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata pada awal Juni.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan Hizbullah yang melukai tiga tentara Israel pada Sabtu (15/8). Israel kemudian memperingatkan akan kembali melakukan serangan terhadap kelompok yang didukung Iran itu jika menghadapi ancaman.
Eskalasi di Lebanon berlangsung ketika Washington dan Teheran menghadapi kebuntuan dalam perundingan yang berkaitan dengan perang Iran dan masa depan Selat Hormuz. Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada Senin (17/8), sementara belum terdapat jalur yang jelas menuju kesepakatan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Pada saat yang sama, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyiapkan langkah yang disebut sebagai upaya “isolasi ekonomi” terhadap Iran.
Trump, yang menghadapi keterbatasan pasokan amunisi utama serta meningkatnya penolakan domestik terhadap perluasan operasi militer, berupaya menggunakan tekanan ekonomi untuk memaksa Teheran mengubah sikapnya. Dalam wawancara dengan Fox News pada Jumat, Trump mengatakan Washington akan memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran dan tidak mempermasalahkan apakah konflik berakhir sebelum pemilu paruh waktu AS pada November.
Namun, ruang bagi AS untuk memperluas sanksi dinilai terbatas. China menyerap lebih dari 90% minyak Iran. Pengenaan sanksi sekunder terhadap Beijing berpotensi memicu tindakan balasan yang justru dapat menekan perekonomian AS dan meningkatkan ketidakpastian harga energi dunia.
“Kecuali presiden memutuskan untuk memprioritaskan penanganan ancaman Iran di atas semua isu lainnya, terutama China, kecil kemungkinan langkah apa pun yang mereka ambil akan secara material mengubah perhitungan Iran,” kata analis Bloomberg Economics Chris Kennedy.
Hormuz Tetap Menjadi Titik Sengketa
Tekanan ekonomi terhadap Iran telah meningkat. Sebagian kapasitas industri negara tersebut mengalami kerusakan, sementara ekspor minyak mentah turun akibat blokade laut AS. Namun, berbagai gelombang sanksi sebelumnya belum berhasil memaksa Teheran mengubah program nuklir maupun melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz.
Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami menegaskan posisi Teheran terhadap jalur strategis tersebut.
“Selat Hormuz merupakan “aset geopolitik yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Iran dan pengaruh ini tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya,” kata Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami, menurut kantor berita semi-resmi Fars pada Minggu (16/8). “Kami akan melindungi kapasitas ini dengan segenap kekuatan kami.”
Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz. Kendali atas jalur tersebut kini menjadi salah satu isu utama dalam perundingan AS-Iran.
Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 6% pada pekan lalu setelah sejumlah kapal diserang di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Gangguan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dan berbagai komoditas penting ke pasar global.
Iran dan Oman disebut sedang menyelesaikan “peta pelayaran” sebagai bagian dari pembahasan mengenai pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. Namun, AS tidak terlibat dalam proses tersebut dan diperkirakan tidak akan menerima kesepakatan yang tidak menjamin kebebasan pelayaran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembahasan dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan segera dibuka. Menurut dia, pembahasan tersebut terpisah dari negosiasi Iran dengan AS yang berlangsung melalui mediator Qatar dan Pakistan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, negara-negara produsen minyak Timur Tengah tetap mengirimkan minyak mentah dalam jumlah besar dari kawasan Teluk Persia. Langkah itu membantu membatasi kenaikan harga minyak dunia sekaligus mengurangi risiko lonjakan inflasi akibat energi.
Serangan terhadap Kapal Berlanjut
Gencatan senjata AS-Iran yang dicapai pada Juni dijadwalkan berakhir secara resmi pada Senin. Trump sebelumnya mengatakan pada Juli bahwa kesepakatan tersebut secara efektif telah “berakhir” setelah AS dan Iran kembali saling menyerang.
Teheran juga sejak lama menilai serangan Israel terhadap Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Sementara itu, insiden terhadap kapal komersial terus dilaporkan di dalam dan sekitar Selat Hormuz. UK Maritime Trade Operations pada Sabtu menyatakan menerima laporan mengenai sebuah proyektil yang menghantam lambung kapal pengangkut curah.
Dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Co juga dilaporkan menjadi sasaran ketika melintasi Hormuz pada Kamis. Kapal lain terkena serangan sehari kemudian, menurut kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM.
Organisasi Maritim Internasional mencatat sekitar 65 insiden yang melibatkan kapal di Selat Hormuz antara awal Maret hingga 11 Agustus. Sedikitnya 17 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian insiden tersebut.
Dampak konflik juga merembet ke hubungan Iran dengan negara-negara kawasan. Kantor berita pemerintah Iran IRNA, dengan mengutip seorang pejabat militer, melaporkan pada Sabtu bahwa Qatar selama berbulan-bulan melarang delegasi Iran menyelidiki nasib tiga pilot yang jatuh di wilayah Qatar selama perang.
Kementerian Luar Negeri Qatar membantah tudingan tersebut. Melalui unggahan di X pada Sabtu malam, juru bicaranya mengatakan Doha “terkejut dengan pernyataan-pernyataan menyesatkan ini pada saat ini, di tengah upaya dan inisiatif diplomatik yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan di kawasan.”
Konflik Meluas ke Gaza dan Laut Merah
Ketegangan regional tidak hanya terjadi antara Israel dan Hizbullah. Israel juga masih terlibat dalam pertempuran dengan Hamas di Gaza, sementara kelompok Houthi di Yaman terus menyerang kapal-kapal di Laut Merah. Ketiga kelompok tersebut merupakan kelompok yang didukung Iran.
Di tengah situasi tersebut, utusan perdamaian AS Jared Kushner melakukan pembicaraan dengan mediator dari Mesir, Turki, dan Qatar mengenai pelaksanaan kesepakatan perdamaian di Jalur Gaza. Kushner dijadwalkan mengunjungi Israel pekan ini untuk melanjutkan pembahasan.
Kushner, yang merupakan menantu Trump, bertemu Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi di New Alamein, pesisir Laut Mediterania. Pertemuan tersebut membahas pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata, menurut kepresidenan Mesir.
Bersama Nickolay Mladenov, utusan utama Board of Peace, Kushner juga membahas dengan pejabat dari tiga negara mediator mengenai langkah mempercepat fase kedua gencatan senjata di Gaza, menurut Al-Qahera News. Tahap awal gencatan senjata dalam rencana Trump tercapai pada Oktober tahun lalu.
Seorang anggota biro politik Hamas mengatakan kepada Bloomberg bahwa Kushner mengonfirmasi kesepakatan dalam peta jalan tersebut bersifat final dan tidak akan dibuka kembali untuk pembahasan. Sumber tersebut berbicara secara anonim karena Hamas belum mengumumkan informasi itu sebelum para mediator menyampaikannya.
Menurut sumber tersebut, Israel harus menyetujui kesepakatan secara terbuka dan tidak melakukan pelanggaran.
Sementara itu, eskalasi antara Hizbullah dan Israel berpotensi mengancam gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon. Kesepakatan tersebut mencakup mekanisme pelucutan senjata Hizbullah, penarikan pasukan IDF dari wilayah yang masih diduduki, serta pengerahan tentara Lebanon untuk menjaga keamanan.
Dengan meningkatnya kembali pertempuran di Lebanon, serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, serta belum tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran, tekanan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah kini semakin besar. (*)



















Users Today : 923
Total Users : 1429640
Views Today : 1801
Total views : 6750587