Infobenua, Magdeburg — Pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt pada 6 September 2026 berpotensi menjadi tonggak baru dalam politik Jerman. Untuk pertama kalinya, partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) berpeluang menjadi peraih suara terbanyak dalam pemilu negara bagian.
AfD kini memimpin jajak pendapat dengan elektabilitas lebih dari 40 persen. Partai tersebut unggul jauh atas Partai Demokrat Kristen (CDU) yang berhaluan tengah-kanan dan dipimpin Kanselir Friedrich Merz, dengan dukungan sekitar 24 persen.
Jika tren tersebut bertahan hingga hari pemungutan suara, AfD berpeluang mencatat kemenangan elektoral pertamanya sebagai kekuatan politik terbesar dalam sebuah pemilu negara bagian Jerman.
AfD mengusung agenda imigrasi yang lebih ketat, termasuk pengurangan jumlah migran dan peningkatan deportasi. Partai tersebut juga menggunakan konsep remigrasi, serta menekankan kedaulatan nasional, identitas budaya, dan nilai-nilai keluarga tradisional.
Bagi warga yang memiliki latar belakang migrasi, pemilu di Sachsen-Anhalt tidak hanya menyangkut pergantian kekuasaan politik. Menguatnya AfD memunculkan pertanyaan mengenai posisi dan keamanan mereka di tengah masyarakat.
Awet Tesfaiesus, anggota Bundestag dari Partai Hijau yang lahir di Eritrea, mengatakan pemilu tersebut memiliki arti khusus bagi kelompok yang mengalami diskriminasi rasial.
Menurutnya, pemilu ini “bukan sekadar pemilu biasa bagi orang kulit hitam dan kelompok lain yang mengalami rasisme.”
“Ketika pandangan rasis dan etno-nasionalis makin kuat, pertanyaannya menjadi sangat nyata bagi mereka: Seberapa aman saya di sini, dan apakah saya akan diakui sebagai bagian alami dari masyarakat ini?” ujar Tesfaiesus kepada DW.
Kekhawatiran di Kalangan Migran
Karamba Diaby, mantan anggota Bundestag dari Partai Sosial Demokrat (SPD) yang lahir di Senegal dan telah tinggal di Sachsen-Anhalt selama puluhan tahun, mengatakan dirinya melihat meningkatnya ketidakpastian di kalangan masyarakat berlatar belakang migrasi.
“Saat saya berada di sekolah atau mengunjungi organisasi migran, saya terus mendengar pertanyaan, terutama dari anak muda: ‘Apakah kami masih bisa tetap tinggal di negara ini?'”
Diaby mengatakan dirinya berusaha meredakan kekhawatiran tersebut dan mendorong masyarakat untuk tetap terlibat dalam kehidupan sosial serta politik.
“Tentu saja kalian bisa tetap tinggal di sini,” katanya. “Saya menolak membesar-besarkan ketakutan dan mengatakan bahwa saya akan meninggalkan negara bagian ini jika mayoritas seperti itu berkuasa. Itu justru hal terakhir yang boleh kita lakukan.”
Nama AfD mendominasi berbagai perbincangan menjelang pemilu Sachsen-Anhalt. Kebijakan partai tersebut terkait migrasi menjadi salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan.
Konsep remigrasi menjadi bagian dari perdebatan tersebut. Program AfD tidak memberikan definisi yang sepenuhnya jelas mengenai istilah tersebut. Dalam perdebatan politik Jerman, remigrasi umumnya dikaitkan dengan gagasan meningkatkan kepulangan kelompok migran atau warga negara asing tertentu, selain deportasi terhadap orang-orang yang tidak memiliki hak hukum untuk tinggal di Jerman.
Manifesto AfD juga menggunakan istilah tersebut dalam konteks yang lebih luas. Partai itu mengusulkan berbagai insentif untuk mendorong tenaga kerja terampil asal Jerman yang tinggal di luar negeri agar kembali ke negara tersebut.
“Kami Duduk di Atas Koper”
Ketidakpastian mengenai arah politik Sachsen-Anhalt juga dirasakan sejumlah organisasi masyarakat migran.
Batoul Nayouf, warga kelahiran Suriah yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Migran Sachsen-Anhalt (LAMSA), menggambarkan kondisi tersebut dalam laporan penyiar publik MDR.
“Kami duduk di atas koper yang sudah siap dibawa pergi.”
Namun, tidak semua warga berlatar belakang migrasi memandang situasi tersebut dengan tingkat kecemasan yang sama.
Amidou Traore, politikus lokal keturunan Pantai Gading yang tinggal di Magdeburg, mengatakan dirinya tidak merasa panik menghadapi kemungkinan kemenangan AfD.
Ia mengatakan kepada DW bahwa dirinya “sangat tenang.”
“Semua orang tahu bahwa AfD adalah partai yang menyebarkan kebencian dan provokasi. Orang-orang seperti saya yang menentangnya berusaha tetap tenang.”
Populasi Migran Meningkat
Sachsen-Anhalt memiliki proporsi warga negara asing yang relatif kecil dibandingkan rata-rata nasional Jerman. Warga negara asing mencakup sekitar 7,9 persen populasi negara bagian tersebut.
Namun, komunitas migran, termasuk masyarakat keturunan Afrika, semakin aktif dalam kehidupan publik. Mereka terlibat melalui organisasi masyarakat, perusahaan, komunitas keagamaan, serta lembaga pemerintahan lokal.
Isu yang mereka perjuangkan mencakup kesempatan kerja, pendidikan, migrasi, dan perlakuan yang setara. Bagi komunitas tersebut, persoalan-persoalan itu saling berkaitan dengan bagaimana keberagaman diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga akhir 2025, sekitar 193.000 warga negara asing tinggal di Sachsen-Anhalt. Sekitar 10 persen dari populasi warga asing tersebut berasal dari negara-negara Afrika.
Dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk dengan latar belakang internasional hampir dua kali lipat. Mahasiswa internasional, tenaga perawat, ilmuwan, dan pengusaha kini menjadi bagian dari tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
“Orang kulit hitam dan orang-orang dengan latar belakang migrasi adalah bagian dari negara ini,” tegas Awet Tesfaiesus kepada DW. “Hak-hak mereka dan keamanan mereka bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan.”
Diskriminasi Masih Menjadi Persoalan
Di tengah meningkatnya partisipasi masyarakat migran, laporan mengenai diskriminasi rasial masih menjadi persoalan.
Studi Afrozensus mengenai kehidupan warga kulit hitam di Jerman menunjukkan bahwa pengalaman rasisme masih dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut dilaporkan terjadi di lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, maupun ruang publik.
Karena itu, pemilu Sachsen-Anhalt dipandang tidak hanya sebagai pertarungan antarpartai, tetapi juga sebagai ujian mengenai arah hubungan antara mayoritas masyarakat dan kelompok minoritas di negara bagian tersebut.
Bagi Diaby, Tesfaiesus, dan Traore, masa depan Sachsen-Anhalt tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memenangkan pemilu. Keputusan masyarakat untuk tetap tinggal, berpartisipasi dalam kehidupan publik, dan mengambil tanggung jawab sosial juga dinilai akan menentukan perkembangan negara bagian tersebut.
Traore menilai partisipasi politik tetap penting meski AfD pada akhirnya memenangkan pemilu.
“Pemilu ini penting dan sangat menentukan,” tegas Traore. “Kita harus menggunakan hak pilih kita. Jika AfD keluar sebagai pemenang, berarti mereka memang telah memperoleh kemenangan itu, dan kemudian kita akan melihat bagaimana kehidupan di Sachsen-Anhalt akan dibentuk, tetapi kita seharusnya berusaha mencegah hal itu.”
Pemilu pada 6 September akan menentukan komposisi pemerintahan negara bagian sekaligus menjadi indikator penting mengenai seberapa jauh dukungan terhadap AfD telah berkembang di Jerman timur.(*)




















Users Today : 1062
Total Users : 1450928
Views Today : 2200
Total views : 6795242