Teks foto:Influencer Samarinda Wawan Irawan bersama peserta aksi Gerakan Anti Boti saat menyampaikan orasi di ruang publik. Aksi tersebut menjadi perbincangan usai video diunggah ke media sosial.
Infobenua.com.Samarinda –Video aksi bertajuk Gerakan Anti Boti ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Aksi yang digelar sejumlah pemuda di Samarinda itu muncul setelah mencuatnya pembahasan tingginya angka kasus HIV dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Samarinda.
Dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS, DPRD mengungkap jumlah kasus HIV di Kota Samarinda telah mencapai sekitar 4.000 kasus.
Data tersebut menjadi salah satu dasar percepatan pembahasan regulasi untuk memperkuat upaya pencegahan, penanganan, dan pengendalian HIV serta TBC.
Ketua Pansus IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah serius untuk menekan laju penyebaran HIV, termasuk tidak memberikan ruang terhadap normalisasi aktivitas LGBT di Kota Tepian.
Di tengah pembahasan tersebut, influencer Samarinda Wawan Irawan bersama sejumlah pemuda menggelar aksi yang kemudian diunggah melalui akun Instagram @wawanirawanx.
Video itu memperlihatkan peserta aksi menyampaikan orasi sambil membawa sejumlah poster bertuliskan “Boikot Boti” dan “Normalisasi Hina Boti”.
Dalam orasinya, Wawan menyerukan penolakan terhadap kelompok yang disebutnya sebagai “boti”.
Ia juga menyampaikan pendapatnya yang mengaitkan kelompok tersebut dengan tingginya angka kasus HIV di Samarinda, sebelum menutup orasi dengan harapan agar Samarinda terbebas dari HIV.
Aksi itu turut disertai pesan yang diunggah pada kolom keterangan video. Wawan menyebut gerakan tersebut dilandasi keyakinan terhadap nilai moral dan agama, bukan karena rasa benci terhadap seseorang.
“Kompas boleh saja diputar ke arah mana pun, tapi utara tetap utara. Menurut keyakinan kami, kebenaran bukan ditentukan oleh tren, melainkan oleh nilai dan fitrah,” tulisnya.
Ia juga menilai menghormati setiap manusia tidak selalu berarti membenarkan setiap perilaku.
“Ini bukan karena benci, tapi karena kita sayang dan peduli pada masa depan generasi, moral anak bangsa, dan tentunya nilai-nilai agama,” tulis Wawan.
Video tersebut kemudian menuai beragam tanggapan dari warganet dan terus menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial.
penulis Frida editor Eka mandiri


















Users Today : 523
Total Users : 1364194
Views Today : 5688
Total views : 6582225