Infobenua.com, Kathmandu — Banjir bandang yang dipicu longsoran es gletser melanda kawasan perbatasan Nepal dan Cina, menewaskan sedikitnya 300 orang dan menyebabkan lebih dari 1.300 orang dilaporkan hilang hingga Kamis (27/8/2026).
Otoritas Nepal menyebut jumlah orang yang belum ditemukan di wilayahnya telah mencapai 826 orang. Mereka terdiri atas warga Nepal dan wisatawan asing. Sementara itu, 558 orang lainnya dilaporkan hilang di wilayah Cina, menurut kantor berita dpa.
Para ahli menyebut pemanasan kawasan Himalaya akibat perubahan iklim meningkatkan risiko longsoran es dan banjir bandang di wilayah pegunungan tersebut.
Rekaman drone memperlihatkan kerusakan parah di sejumlah kawasan terdampak. Jalan-jalan utama terputus, sementara bangunan tertutup material lumpur tebal yang menyerupai semen basah. Kantor berita pemerintah Cina, Xinhua, melaporkan masih terdapat kemungkinan ditemukannya korban dalam jumlah besar.
Wilayah lembah yang curam di sepanjang kawasan perbatasan tersebut merupakan jalur transportasi sekaligus pusat aktivitas ekonomi. Namun, kondisi geografisnya membuat kawasan itu sangat rentan terhadap bencana alam.
Distrik Nuwakot di Nepal menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah. Foto-foto dari lokasi menunjukkan lumpur mencapai lantai dua sejumlah bangunan. Kendaraan tertimbun, sementara puing-puing tersangkut di pepohonan dan kabel listrik. Para penyintas terlihat berlumuran lumpur.
Besarnya banjir membuat warga nyaris tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
“Ketika saya tiba di pasar Dhunge, dalam waktu setengah jam, banjir datang dan merusak seluruh pasar. Saat itu, orang-orang sedang bersiap untuk pergi ke kantor,” kata warga setempat Shoyam Rajbhandari kepada kantor berita AP. “Berapa banyak orang yang hilang atau tewas, kami tidak tahu,” ungkapnya.
Ratusan Wisatawan Hilang
Bencana terjadi menjelang perayaan festival lokal Janai Purnima pada Jumat (28/8). Meski periode monsun umumnya bukan waktu ideal untuk kegiatan di alam terbuka, kawasan tersebut justru sedang memasuki periode ramai untuk perjalanan menuju Gunung Kailash melalui jalur di Distrik Rasuwa.
Sehari sebelumnya, pada Rabu (26/8), pejabat Nepal melaporkan 403 orang hilang, termasuk 341 warga negara asing. Jumlah tersebut kemudian meningkat tajam dalam laporan terbaru.
Sunil Sharma, juru bicara badan pariwisata setempat, mengatakan 133 warga negara India termasuk dalam daftar orang hilang. Mereka berada di kawasan tersebut dalam perjalanan ziarah menuju Gunung Kailash di Tibet, yang merupakan salah satu situs suci bagi umat Hindu.
Selain warga India, terdapat 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 24 warga Kanada yang juga dilaporkan hilang. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan sedang memantau kondisi warga negaranya yang terdampak.
Sharma menambahkan sedikitnya 62 warga Nepal yang belum ditemukan diketahui sedang melakukan pendakian di sekitar Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa.
Rasuwa berbatasan langsung dengan Gyirong di Tibet dan menjadi salah satu wilayah yang paling parah diterjang bencana. Juru bicara Kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengatakan kepada AP bahwa sedikitnya 28 anggota kepolisian juga masuk dalam daftar orang hilang.
Pemerintah Nepal kemudian memperingatkan warga di sejumlah distrik untuk menjauhi bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani. Banjir menghancurkan sedikitnya 19 jembatan dan merusak hampir 40 kilometer jalan raya.
Sungai Bhotekoshi mulai meluap sekitar pukul 09.00 pada Rabu (26/8), menurut pejabat setempat. Air bah kemudian menerjang sejumlah desa dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
“Kami telah meminta bantuan dari India maupun Cina untuk operasi penyelamatan,” ujar juru bicara pemerintah, Sasmit Pokharel.
Longsoran Gletser, Bukan Gempa
Pada awalnya, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan gempa berkekuatan 4,4 magnitudo terjadi pada Rabu dini hari sekitar 66 kilometer di sebelah utara Kathmandu.
Namun, analisis tersebut kemudian direvisi. Data stasiun seismik dan citra satelit menunjukkan getaran yang terdeteksi bukan disebabkan aktivitas tektonik, melainkan longsoran gletser dalam skala besar.
Peristiwa tersebut menghasilkan guncangan yang setara dengan gempa bermagnitudo 5,2 dan melepaskan material dalam jumlah besar ke wilayah hilir hingga menghancurkan permukiman.
Bencana juga berdampak pada sejumlah warga negara asing yang bekerja di Nepal. Pemerintah Korea Selatan melaporkan sembilan warganya yang terlibat dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air termasuk dalam daftar orang hilang.
Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan kehilangan kontak dengan 11 warganya yang diyakini berada di Distrik Rasuwa. Kedutaan Besar Rusia di Nepal juga melaporkan empat warga Rusia hilang di kawasan bencana.
India dan PBB Kirim Dukungan
India menjadi salah satu negara yang menawarkan bantuan kepada Nepal. Perdana Menteri India Narendra Modi telah berbicara dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah untuk menawarkan dukungan langsung dalam operasi penanganan bencana.
“India siap memberikan segala bentuk bantuan kemanusiaan yang dimungkinkan kepada Nepal. Tim kami berkoordinasi erat dalam upaya penyelamatan dan pemberian bantuan,” tulis Modi di media sosial.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mulai mengerahkan dukungan untuk menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang diperkirakan besar.
“Dalam upaya memenuhi apa yang jelas akan menjadi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar,” tegas juru bicara PBB, Stephane Dujarric.
Australia, Inggris, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss turut menyatakan solidaritas melalui pernyataan bersama.
“Kami mendorong semua pihak di wilayah terdampak untuk mematuhi arahan otoritas setempat dan peringatan keselamatan resmi, mengingat situasi yang masih terus berkembang.”
Himalaya yang Semakin Memanas
Pakar iklim dari Pusat Pengembangan Pegunungan Terpadu Internasional (ICIMOD) di Kathmandu menyatakan longsoran salju dan es dari gletser kemungkinan menjadi pemicu utama banjir besar tersebut.
“Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang sangat luar biasa,” tulis para pakar dalam pernyataan resmi mereka.
Di salah satu titik Sungai Trishuli, permukaan air dilaporkan naik hingga sembilan meter hanya dalam waktu sekitar 30 menit.
Menurut ICIMOD, Sungai Lhende Khola, salah satu anak Sungai Bhotekoshi, mengalami dampak paling berat. Kawasan tersebut sebelumnya juga pernah mengalami banjir besar.
“Lhende Khola telah dua kali dilanda banjir dalam 14 bulan terakhir. Kali ini pemicunya adalah longsoran bebatuan es dari gletser di sisi Nepal, yang kemudian menyumbat sungai dan melepaskan lonjakan air bah secara tiba-tiba ke hilir,” terang Saswata Sanyal, spesialis pengurangan risiko bencana di ICIMOD.
Sanyal menyerukan penguatan sistem peringatan dini untuk menghadapi meningkatnya risiko bencana di kawasan Himalaya.
Ia menekankan perlunya perhatian lebih besar terhadap kondisi “kawasan Himalaya yang semakin memanas”.
Peristiwa tersebut menambah daftar bencana yang dikaitkan dengan meningkatnya suhu di kawasan pegunungan Himalaya. Sebelumnya, sebuah danau glasial di Tibet dilaporkan meluap akibat peningkatan suhu ekstrem. Peristiwa itu menewaskan sembilan orang dan merusak infrastruktur penting, termasuk jembatan yang menghubungkan Nepal dan Cina.
Dengan jumlah korban hilang yang terus bertambah, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di kedua sisi perbatasan. Kondisi medan yang terjal, kerusakan infrastruktur, serta ancaman banjir susulan menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat.(*)


















Users Today : 973
Total Users : 1448731
Views Today : 2008
Total views : 6791037