Infobenua.com, Teheran — Pasukan Amerika Serikat menyerang fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz pada Minggu malam (30/8), dalam eskalasi terbaru konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins mengatakan pasukan AS menargetkan dua peluncur milik Iran di Pulau Larak. Menurut dia, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terpantau sedang mempersiapkan peluncuran roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz.
Sejumlah ledakan terdengar di sekitar Pulau Larak, menurut laporan media Iran. IRGC kemudian menyatakan serangan tersebut akan dibalas dan memperingatkan adanya “hukuman bagi pihak agresor.”
Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah bahwa serangan itu merupakan tindakan agresi. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman terhadap pelayaran di jalur strategis tersebut.
“Pasukan AS mengambil tindakan terbatas dan terukur terhadap pasukan IRGC yang memasang ranjau dan menimbulkan ancaman langsung di Selat Hormuz,” kata CENTCOM.
“Iran menciptakan ancaman itu, dan militer AS menyingkirkannya demi melindungi pelaut sipil, pelayaran komersial, serta kelancaran perdagangan dunia.”
Iran Klaim Balas Serangan
Tak lama setelah serangan di Larak, IRGC menyatakan sejumlah personel militer dan warga sipil Iran tewas serta terluka.
IRGC juga mengklaim telah membalas serangan AS tersebut dengan meluncurkan rudal balistik ke posisi militer Amerika Serikat di Yordania.
Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (31/8) secara resmi mengecam serangan terhadap Pulau Larak. Teheran menyatakan tindakan balasan terhadap pangkalan AS merupakan bagian dari “hak yang melekat untuk membela diri.”
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan serangan terhadap Larak dilakukan menggunakan drone.
Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan pangkalan militer AS di Yordania digunakan dalam serangan terhadap Pulau Larak. Menurut Teheran, serangan tersebut menewaskan dan melukai personel militer serta warga sipil Iran.
IRGC kemudian mengklaim serangan balasan Iran menyebabkan “kerusakan parah” terhadap dua fasilitas militer AS yang disebut sebagai Pangkalan King Hussein dan Al-Azraq di Yordania.
Militer Yordania mengatakan pihaknya mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udaranya. Hingga laporan tersebut disampaikan, militer AS belum memberikan komentar mengenai klaim serangan balasan Iran.
UEA Cegat Drone dari Arah Iran
Eskalasi juga merembet ke negara-negara Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan angkatan udaranya mencegat sebuah drone pada Senin (31/8), setelah serangan AS terhadap Iran diikuti aksi balasan dari Teheran.
“Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa Angkatan Udara UEA telah merespons sebuah drone UAV atau pesawat tanpa awak yang terdeteksi di wilayah perairan negara tersebut, bergerak mendekat dari arah Iran,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan di platform X.
UEA tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai sasaran drone tersebut maupun memastikan apakah pesawat tanpa awak itu berhasil ditembak jatuh.
Sebelumnya, televisi pemerintah Iran melaporkan drone menyerang pasukan dan helikopter AS di Pangkalan Udara Al Minhad, UEA. Namun, Kementerian Pertahanan UEA membantah laporan tersebut.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Serangan AS di Pulau Larak merupakan serangan langsung pertama terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir. Konflik saat ini berada dalam situasi yang relatif buntu, sementara Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran dan mengancam sanksi berat terhadap negara-negara yang tetap mendukung Iran.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Konflik tersebut telah berlangsung lebih dari enam bulan. Serangkaian serangan AS dan Israel terhadap Iran, serta serangan Israel ke Lebanon, telah menyebabkan ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. Sebanyak 18 personel militer AS juga dilaporkan tewas dalam konflik tersebut.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik. Jalur pelayaran tersebut kini berada dalam kondisi terblokade, padahal sebelum perang sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintas melalui selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Serangan terbaru di Pulau Larak dan klaim serangan balasan terhadap fasilitas AS di kawasan menunjukkan bahwa ketegangan di sekitar Selat Hormuz masih berpotensi meningkat, dengan konsekuensi langsung terhadap keamanan pelayaran dan perdagangan energi global. (*)




















Users Today : 1169
Total Users : 1457639
Views Today : 4034
Total views : 6829363