Foto : Kabid SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh.
INFOBENUA.COM, KUKAR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara memastikan anak-anak yang sebelumnya diterima di SD lewat jalur afirmasi bisa langsung melanjutkan ke SMP melalui jalur yang sama.
Kebijakan ini ditujukan untuk memberi kepastian akses pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, yatim piatu, dan penyandang disabilitas.
Plt Kabid SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh, mengatakan kebijakan tersebut lahir dari hasil evaluasi tahun sebelumnya yang menunjukkan masih banyak siswa afirmasi yang justru tersingkir saat mendaftar ke SMP karena tidak menggunakan jalur yang sesuai.
“Banyak anak yang mestinya masuk lewat afirmasi, tapi malah daftar pakai jalur zonasi. Akhirnya tidak tertampung di SMP tujuan,” ucap Emy saat ditemui Infobenua.com, pada Kamis (3/7/2025).
Untuk mencegah hal serupa terjadi lagi, Disdikbud sudah bekerja sama dengan bidang SD dan seluruh sekolah dasar untuk mendata siswa afirmasi sejak awal. Data ini kemudian akan dipakai sebagai rujukan dalam proses penerimaan di tingkat SMP.
Menurut Emy, data siswa afirmasi di SD sudah dikumpulkan sejak awal tahun, dan kini tinggal disesuaikan dengan daftar pendaftar di SMP agar tidak ada yang terlewat.
“Kami sudah minta bantuan pihak SD. Mereka sudah serahkan nama-nama siswa afirmasi di wilayahnya,” jelasnya.
Tahun lalu, masih banyak orang tua dan siswa yang belum paham soal mekanisme jalur afirmasi. Akibatnya, mereka salah memilih jalur pendaftaran saat masuk SMP.
“Kami cukup sedih lihat anak-anak yang seharusnya punya prioritas, malah tidak diterima karena salah jalur. Tahun ini kami perbaiki,” katanya.
Untuk mempermudah prosesnya, Disdikbud akan mengirimkan daftar nama siswa afirmasi per kecamatan ke tiap SMP. Sekolah tinggal mencocokkan data saat pendaftaran dimulai.
“Dengan cara ini, sekolah bisa tahu siapa saja siswa yang sudah terdata sebagai afirmasi. Jadi nggak ada alasan terlewat lagi,” tambah Emy.
Ia berharap langkah ini bisa memberi rasa tenang bagi keluarga yang memang kesulitan secara ekonomi atau memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Proses pendidikan tidak boleh jadi beban tambahan bagi mereka.
“Yang penting semua anak tetap bisa sekolah dengan tenang, tanpa khawatir ditolak hanya karena salah jalur,” tutupnya. (Adv)
penulis Farid editor Eka mandiri


















Users Today : 1915
Total Users : 1409600
Views Today : 2594
Total views : 6717624