Infobenua.com, Kathmandu — Otoritas Nepal kembali memperingatkan warga mengenai kemungkinan banjir susulan setelah kenaikan permukaan air sungai terdeteksi pada Minggu (30/8). Pada saat yang sama, otoritas Tibet memperingatkan adanya bendungan baru yang terbentuk setelah material longsor menutup aliran sungai.
Peringatan tersebut dikeluarkan beberapa hari setelah banjir bandang menerjang wilayah Himalaya pada Rabu (26/8). Sejumlah ilmuwan menduga runtuhan gletser menjadi pemicu awal bencana yang kemudian mengirimkan volume air besar ke lembah-lembah sungai.
Badan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan jumlah korban tewas akibat bencana meningkat menjadi 788 orang. Sebanyak 2.502 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Di wilayah Cina, otoritas setempat melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 lainnya masih hilang.
Di antara mereka yang belum ditemukan terdapat ratusan warga negara asing dari lebih dari 10 negara. Mereka berada di kawasan tersebut untuk bekerja, berwisata di pegunungan, maupun melakukan ziarah ke Gunung Kailash, salah satu situs sakral di Himalaya.
Warga Diminta Mengungsi ke Tempat Tinggi
Badan Penanggulangan Bencana Nepal mengirimkan peringatan melalui pesan singkat ke telepon seluler warga di sepanjang Sungai Bhotekoshi pada Minggu pagi.
Masyarakat diminta segera berpindah ke lokasi yang lebih tinggi karena debit air sungai terus meningkat.
Kepala Eksekutif Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, mengatakan peringatan tersebut dikeluarkan setelah pemerintah Cina menyampaikan informasi mengenai peningkatan aliran air dari wilayah hulu.
Kantor berita Xinhua melaporkan sebagian besar danau yang terbentuk akibat banjir di kawasan pegunungan tinggi telah surut. Namun, masih terdapat cekungan air sekitar 5,6 kilometer di bagian hulu yang menampung sekitar 1,4 juta meter kubik air.
Kondisi tersebut dinilai masih berpotensi menimbulkan risiko banjir berikutnya.
Bagi warga yang telah kehilangan tempat tinggal akibat bencana sebelumnya, peringatan baru tersebut menambah tekanan. Mereka harus kembali bersiap meninggalkan lokasi ketika ada informasi mengenai kenaikan debit air.
“Kadang-kadang mereka memberi tahu bahwa banjir akan datang, lalu kami harus kembali berlari ke tempat yang lebih tinggi, bahkan di malam hari. Hujan juga terus turun,” kata Govind Shreshta.
“Situasi ini sangat berat. Saya harus menggendong ayah saya yang berusia 72 tahun dan ibu saya yang berusia 70 tahun. Saya sangat kelelahan,” tambahnya.
Pekerja PLTA Masih Terjebak
Kerusakan akibat banjir juga menyulitkan upaya penyelamatan. Sejumlah jembatan hancur sehingga akses menuju desa-desa di seberang sungai menjadi semakin terbatas.
Tim penyelamat Nepal kini memusatkan perhatian pada lebih dari 100 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang diyakini masih hidup, tetapi terperangkap di dalam terowongan yang dipenuhi lumpur dan material banjir.
Operasi pencarian dilakukan di sejumlah proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli, Nepal tengah, dekat perbatasan Tibet. Ratusan pekerja dilaporkan hilang ketika banjir menerjang kawasan tersebut.
Pada Sabtu (29/8) malam, tim pencarian gabungan mengebor bagian atas salah satu terowongan untuk memasukkan oksigen dan kamera. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi para pekerja yang masih berada di dalam terowongan.
Kantor Perdana Menteri Nepal mengatakan operasi menghadapi kendala berupa hujan yang terus turun dan medan yang sulit. Meski demikian, tim penyelamat tetap bekerja sepanjang malam untuk menemukan korban yang kemungkinan masih bertahan hidup.
Personel penyelamat dari India dan Cina turut bergabung dalam operasi tersebut. Mereka bekerja bersama tim penyelamat gunung Nepal yang selama ini berpengalaman membantu pendaki di kawasan pegunungan tertinggi dunia, termasuk Gunung Everest.
Nepal Minta Bantuan Identifikasi Korban
Pemerintah Nepal juga membutuhkan dukungan internasional untuk menangani jumlah korban yang terus bertambah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengatakan bantuan diperlukan dalam berbagai aspek operasi penyelamatan, termasuk pengujian DNA dan proses identifikasi jenazah.
Amerika Serikat telah mengumumkan bantuan kemanusiaan senilai US$3,6 juta atau sekitar Rp63,9 miliar. Bantuan tersebut mencakup penyediaan pangan darurat selama tiga bulan bagi sekitar 10.000 keluarga yang terdampak.
Malaysia juga menyatakan akan terlibat dalam upaya penanganan bencana. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pemerintahnya akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan ke Nepal serta membantu mengevakuasi warga Malaysia yang terdampak.
Palang Merah internasional memperkirakan lebih dari 90.000 orang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut.
Sementara operasi pencarian masih berlangsung, ancaman banjir susulan membuat upaya penyelamatan semakin kompleks. Otoritas Nepal kini harus menjalankan pencarian korban sekaligus memindahkan warga dari kawasan yang kembali terancam oleh kenaikan debit sungai dan kemungkinan terbentuknya bendungan alami di wilayah hulu.(*)


















Users Today : 1194
Total Users : 1457664
Views Today : 4128
Total views : 6829457