Teks foto: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, drh Arief Murdiyatno.
Infobenua.com, Samarinda– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi menekan produksi perkebunan di Kalimantan Timur. Dinas Perkebunan Kaltim mengingatkan kebakaran yang merembet ke areal perkebunan dapat membuat tanaman rusak sekaligus mengurangi pendapatan pekebun dan perusahaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan dampak kebakaran terhadap kebun tidak berhenti pada tanaman yang terbakar. Produksi pada periode berikutnya juga dapat terganggu.
“Ketika ini merembet ke kebun kita, tentunya akan menyebabkan gangguan dan kerugian ekonomi yang cukup lumayan,” kata Arief, Kamis (27/8/2026).
Menurut Arief, risiko tersebut perlu diantisipasi karena sektor perkebunan tengah didorong menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Kaltim. Komoditas kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.
Kerugian akibat karhutla dapat dirasakan berbagai pihak, mulai dari perusahaan, pekebun mandiri, petani plasma hingga kelompok yang bermitra dengan perusahaan.
Arief mengatakan kebun yang sudah berproduksi membutuhkan waktu dan biaya untuk kembali pulih apabila mengalami kerusakan akibat kebakaran.
“Jangan sampai sudah dibudidayakan sekian lama, sudah menghasilkan, kemudian terganggu karena kebakaran,” ujarnya.
Ancaman itu muncul saat harga tandan buah segar (TBS) sawit masih memberikan peluang bagi pekebun. Pada periode 1-15 Agustus 2026, harga TBS tanaman usia 10-20 tahun ditetapkan Rp3.561,69 per kilogram, naik Rp33,58 atau 0,95 persen dibanding periode sebelumnya.
Kondisi tersebut semestinya menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan. Namun, harga yang baik tidak akan banyak membantu apabila hasil panen turun akibat kebakaran.
“Baik masyarakat, perusahaan, plasma maupun mitra, prinsipnya sama. Kita ingin budidayanya tetap baik, produksinya maksimal, dan memberikan nilai tambah,” kata Arief.
Disbun Kaltim karena itu ikut memperkuat koordinasi penanganan karhutla bersama BPBD dan instansi terkait. Perusahaan, kelompok tani, brigade pengendalian kebakaran serta masyarakat juga dilibatkan dalam upaya pencegahan dan penanganan di lapangan.
Arief menegaskan, kebakaran tidak harus berada tepat di dalam kebun untuk menjadi ancaman. Api di sekitar areal perkebunan tetap perlu ditangani agar tidak meluas dan masuk ke kawasan budidaya.
“Ketika ada di sekitaran kebun kita ada bencana, kita tetap berupaya untuk bekerja sama dengan teman-teman yang lain,” tuturnya.
Disbun juga melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kebakaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko sebelum api meluas.
Menurut Arief, karhutla juga perlu dilihat dari sisi ekonomi. Kaltim saat ini tengah mendorong pertumbuhan sektor produktif, termasuk perkebunan, sehingga gangguan terhadap produksi akan ikut memengaruhi pendapatan masyarakat dan pelaku usaha.
“Kalau produksi terganggu, yang terdampak bukan hanya kebunnya. Penghasilan masyarakat ikut terkikis dan pemasukan perusahaan juga turun,” tegasnya.
Arief menambahkan, pengendalian karhutla menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi perkebunan sekaligus mempertahankan kontribusinya terhadap ekonomi daerah.
“Jadi ada dua hal, dampak bencana dan dampak ekonomi,” demikian Arief.
Penulis : Frida | Editor : Eka Mandiri




















Users Today : 1006
Total Users : 1450872
Views Today : 2047
Total views : 6795089