InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Serangan Ukraina Ganggu Pelabuhan Novorossiysk, Ekspor Rusia Terancam

by Hery Kuswoyo
Rabu, 26 Agustus 2026, 21:07
in Internasional
Derek di Pelabuhan Novorossiysk, di Laut Hitam, Agustus 2024  Foto: Alexander Strela/Zoonar/picture alliance

Derek di Pelabuhan Novorossiysk, di Laut Hitam, Agustus 2024 Foto: Alexander Strela/Zoonar/picture alliance

Bagikan

Infobenua.com, Moskow — Serangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap fasilitas pelabuhan dan infrastruktur energi Rusia di Laut Hitam mulai mengganggu jalur ekspor utama negara tersebut. Gangguan paling signifikan terjadi di Novorossiysk, pelabuhan perdagangan terbesar Rusia, yang menjadi salah satu pusat penting pengiriman minyak dan gandum ke pasar global.

Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan keseimbangan kekuatan di Laut Hitam yang selama ini menjadi salah satu alasan yang digunakan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membenarkan aneksasi ilegal Krimea pada 2014.

Putin sebelumnya berdalih, “Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka pasukan NATO akan datang dan keseimbangan kekuatan di kawasan Laut Hitam akan berubah.”

Pasukan NATO tidak pernah datang ke Krimea. Namun, lebih dari satu dekade kemudian, keseimbangan kekuatan di Laut Hitam justru berubah akibat perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina. Serangan Ukraina terhadap kapal, pelabuhan, dan fasilitas logistik Rusia membuat Moskow semakin sulit mempertahankan dominasi militernya di kawasan tersebut.

Novorossiysk kini menjadi salah satu titik utama tekanan Ukraina. Serangan udara dan laut menggunakan pesawat nirawak dalam beberapa pekan terakhir telah mengganggu aktivitas pelabuhan dan membuat sebagian jaringan logistik Rusia harus ditata ulang.

Para ahli yang diwawancarai Deutsche Welle (DW) memperingatkan bahwa jika gangguan tersebut berlanjut, dampaknya dapat meluas terhadap kemampuan Rusia mengekspor komoditas sekaligus meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara.

Novorossiysk Jadi Titik Kritis

Berdasarkan volume bongkar muat, Novorossiysk merupakan pelabuhan terbesar Rusia dan termasuk salah satu pelabuhan terbesar di Eropa. Sejak abad ke-19, fasilitas tersebut telah berkembang menjadi salah satu simpul utama perdagangan Rusia.

Letaknya yang relatif dekat dengan wilayah pertanian utama membuat Novorossiysk sangat penting bagi ekspor gandum. Hingga sepertiga gandum Rusia dikirim melalui pelabuhan tersebut. Selain hasil pertanian, Novorossiysk juga menangani ekspor minyak bumi, logam, dan kargo kontainer.

Namun, serangan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir telah mengganggu aktivitas sejumlah fasilitas di kawasan pelabuhan.

Andrej Sisow, Kepala Badan Pertanian, Konsultasi, dan Penelitian SovEcon, menjelaskan perkembangan tersebut melalui kanal Telegram-nya.

Pada 12 Agustus, fasilitas pengolahan dan penyimpanan biji-bijian terbesar di Novorossiysk beserta terminalnya menghentikan aktivitas. Sehari kemudian, Terminal KSK, yang memiliki fasilitas ekspor biji-bijian terbesar, juga menghentikan operasi. Sebelumnya, pada akhir Juli, aktivitas di Terminal Taman telah terhenti.

Gangguan juga telah meluas ke wilayah Laut Azov. Ukraina sebelumnya berhasil melumpuhkan operasi sejumlah pelabuhan di perairan dangkal kawasan tersebut. Tuapse, terminal terkecil, menjadi salah satu fasilitas yang masih beroperasi.

“Dengan demikian, praktis seluruh ekspor gandum Rusia melalui Azov-Laut Hitam terhambat,” kata Sisow.

Ekspor Minyak Ikut Terganggu

Dampak terhadap ekspor minyak sejauh ini belum separah sektor gandum. Aktivitas pengiriman masih berlangsung, tetapi operasional terminal kerap terganggu.

Reuters melaporkan bahwa Terminal Shesharis, fasilitas pengiriman minyak mentah dan produk minyak terbesar Rusia di Laut Hitam, menghentikan operasi pada 14 Agustus. Terminal tersebut memiliki kapasitas sekitar 700.000 barel per hari dan baru kembali beroperasi dua hari kemudian.

Gangguan itu menjadi persoalan serius bagi Rusia karena Laut Hitam merupakan jalur utama untuk membawa komoditas energi dan pertanian menuju pasar internasional.

Argus Media yang berbasis di London memperkirakan Rusia berpotensi memasok sekitar 45 juta metrik ton gandum ke pasar dunia pada musim 2026-2027. Gandum merupakan salah satu komoditas utama ekspor pertanian Rusia, sementara sekitar 90 persen pengiriman biasanya menggunakan jalur Laut Hitam.

Jika gangguan berlangsung lama, produsen Rusia akan menghadapi persoalan dalam menyalurkan hasil panen.

“Banyak produsen Rusia tidak akan mampu bertahan menghadapi rintangan ini, terutama setelah beberapa tahun kondisi keuangan merosot,” kata Sisow.

Terbatasnya akses ekspor juga berpotensi membuat kelebihan produksi gandum dialihkan ke pasar domestik. Kondisi tersebut dapat semakin menekan harga yang sudah mengalami penurunan.

Masalah lain muncul dari faktor waktu. Agustus merupakan periode puncak panen gandum. Jika hasil panen tidak segera dikirim, terminal ekspor berpotensi mengalami kepadatan ketika musim gugur tiba.

Dampak Meluas ke Pasar Dunia

Gangguan di Laut Hitam tidak hanya menjadi persoalan bagi Rusia dan Ukraina. Kedua negara merupakan pemasok penting komoditas pertanian dunia, sehingga gangguan terhadap jalur perdagangan mereka berpotensi memengaruhi pasar internasional.

Pada saat ekspor Rusia terganggu, pengiriman biji-bijian Ukraina juga mengalami penurunan tajam. Situasi tersebut diperburuk oleh meningkatnya serangan Rusia terhadap pelabuhan-pelabuhan Ukraina dan kapal yang berada di kawasan tersebut sejak paruh kedua Juli.

Xiaoyi Deng dari Argus Media mengatakan gangguan logistik membuat sebagian hasil panen dari kedua negara sulit mencapai pasar global.

“Akibat gangguan logistik, panen gandum yang sebenarnya melimpah di Ukraina dan Rusia terputus dari pasar dunia. Kedua negara tersebut berusaha memanfaatkan rute alternatif seperti pelabuhan di Laut Baltik atau terminal di Sungai Danube. Namun, rute-rute ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan rute tradisional,” kata Xiaoyi Deng dari Argus Media kepada DW.

Rute alternatif memang tersedia, tetapi kapasitas dan karakteristiknya tidak memungkinkan penggantian penuh terhadap jalur Laut Hitam.

Kapal Mulai Menghindari Pelabuhan Rusia

Gangguan terhadap ekspor minyak juga terlihat dari penurunan aktivitas di Novorossiysk.

Data Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), lembaga riset berbasis di Helsinki, menunjukkan volume bongkar muat minyak di pelabuhan tersebut selama dua pekan pertama Agustus turun 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan itu terjadi setelah serangan drone terhadap terminal Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) pada 19 Juli.

Menurut analis energi CREA, Isaak Levi, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fasilitas. Risiko serangan juga membuat sejumlah pemilik kapal enggan memasuki pelabuhan yang dianggap berpotensi menjadi sasaran.

Tidak adanya jaminan keamanan di Laut Hitam membuat risiko operasional meningkat. Bloomberg melaporkan bahwa pada 17 Agustus sebuah kapal tanker Yunani yang diduga membawa minyak Rusia juga menjadi sasaran serangan.

Levi memperkirakan dampak terhadap kemampuan ekspor Rusia akan semakin besar apabila pembatasan aktivitas pelabuhan berlangsung hingga akhir Agustus.

“Jika pembatasan saat ini berlanjut hingga akhir Agustus, Rusia akan kesulitan menunda pengiriman dengan harapan kerugian tersebut dapat digantikan di kemudian hari,” kata Levy.

Ia menilai sebagian volume ekspor memang dapat dialihkan ke jalur lain, tetapi kapasitasnya terbatas.

“Meskipun volume yang dikirim dapat dialihkan ke rute lain, jumlahnya hanya sebagian.

Opsi yang paling realistis adalah pelabuhan-pelabuhan di Laut Baltik, yaitu Primorsk dan Ust-Luga. Namun, hal ini akan meningkatkan biaya transportasi. Novorossiysk tidak dapat sepenuhnya digantikan.”

Menurut Levy, dampak akhir terhadap ekspor minyak akan ditentukan oleh berapa lama dan seberapa intens serangan pesawat nirawak Ukraina berlangsung, serta seberapa cepat Rusia mampu memperbaiki infrastruktur yang rusak.

Kremlin Tolak Gencatan Senjata Laut Hitam

Meskipun gangguan terhadap aktivitas ekspor semakin meningkat, pemerintah Rusia tampaknya masih bersedia menanggung risiko tersebut.

Ukraina pada 13 Agustus mengusulkan gencatan senjata di Laut Hitam untuk mengurangi eskalasi dan gangguan terhadap pelayaran. Namun, Kremlin menolak usulan tersebut.

Penolakan itu membuat jalur perdagangan Laut Hitam tetap berada di tengah eskalasi perang. Bagi Rusia, persoalannya bukan lagi sekadar mempertahankan posisi militer di kawasan, tetapi juga menjaga jalur ekspor yang sangat penting bagi pendapatan negara.

Serangan Ukraina terhadap Novorossiysk dan fasilitas terkait menunjukkan bahwa perang di Laut Hitam telah bergeser dari persaingan dominasi militer menjadi pertarungan atas infrastruktur dan jalur logistik. Jika serangan terus berlangsung dan Rusia tidak mampu memulihkan operasional fasilitas dengan cepat, tekanan terhadap ekspor dan penerimaan negara berpotensi semakin besar.(*)

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Warga Muara Badak Resahkan Rehabilitasi Jembatan Sambera yang Dinilai Tak Sesuai Spesifikasi

Kamis, 24 Februari 2022, 21:32
Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Kamis, 9 Juni 2022, 23:48
H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

Jumat, 1 April 2022, 10:02
Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Rabu, 9 Maret 2022, 22:17
Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

0
Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

0
DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

0
HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

0
Tim Gabungan Padamkan Karhutla Seluas 100 Hektare di Kutai Barat

Tim Gabungan Padamkan Karhutla Seluas 100 Hektare di Kutai Barat

Sabtu, 29 Agustus 2026, 14:05
Pangdam VI Mulawarman Gelar Shalat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun

Pangdam VI Mulawarman Gelar Shalat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun

Sabtu, 29 Agustus 2026, 12:09
14 Segmen Megathrust Mengelilingi Indonesia, BMKG Tekankan Bukan Prediksi Gempa

14 Segmen Megathrust Mengelilingi Indonesia, BMKG Tekankan Bukan Prediksi Gempa

Jumat, 28 Agustus 2026, 22:38
Partai Bervisi Anti Imigran Berpeluang Menang di Sachsen-Anhalt, Warga Migran Jerman Khawatirkan Masa Depan

Partai Bervisi Anti Imigran Berpeluang Menang di Sachsen-Anhalt, Warga Migran Jerman Khawatirkan Masa Depan

Jumat, 28 Agustus 2026, 22:19

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1453202
Users Today : 843
Total Users : 1453202
Views Today : 4603
Total views : 6805537
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com