Ket Foto: Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti.
Infobenua.com Samarinda — Pemerintah Kota Samarinda belum mengambil keputusan untuk meliburkan sekolah meski kualitas udara di sejumlah wilayah mulai masuk kategori tidak sehat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan Pemkot masih mengkaji dampak kondisi udara terhadap aktivitas belajar mengajar. Untuk sementara, kegiatan sekolah tetap berjalan dengan imbauan agar siswa menggunakan masker.
Menurut Neneng, keputusan untuk meliburkan sekolah tidak dapat hanya berdasarkan angka kualitas udara. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan aktivitas anak selama berada di luar sekolah apabila kebijakan tersebut diterapkan.
“Dikhawatirkan anak-anak kita liburkan malah mereka jalan-jalan ke mana-mana. Kalau di sekolah, paling mereka di jalan antara rumah dengan sekolah,” ujarnya.
Selain itu, aspek pengawasan orang tua turut menjadi pertimbangan. Pemkot perlu memastikan anak-anak tetap berada di lingkungan yang aman ketika kegiatan sekolah dihentikan sementara, terutama pada jam-jam ketika kualitas udara sedang memburuk.
“Kalau diliburkan, apakah pengawasan orang tua bisa maksimal terhadap anaknya di saat jam-jam kadar udara tidak bagus? Apakah mereka tetap di dalam rumah? Itu belum tentu juga,” tuturnya.
Neneng menyebut kualitas udara di sejumlah wilayah Samarinda masih berada dalam kondisi yang dapat ditoleransi. Namun, Palaran dan Sambutan menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian karena kualitas udaranya terpantau lebih buruk.
Meski demikian, kondisi tersebut belum menjadi dasar bagi Pemkot untuk menetapkan kebijakan meliburkan sekolah.
Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara saat ini berada di kisaran angka 100 dan masuk kategori tidak sehat. Dengan kondisi tersebut, Neneng mengimbau masyarakat, termasuk pelajar, untuk menggunakan masker sebagai langkah perlindungan diri.
Ia juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika indikator kualitas udara menunjukkan penurunan.
“Jaga kesehatan, mungkin mengurangi aktivitas di luar. Karena indikator udara sekarang sudah mulai mengarah ke arah yang kurang baik. Sudah masuk ke range yang tidak baik,” pesannya.
Imbauan tersebut juga ditujukan kepada masyarakat yang memiliki kebiasaan berolahraga di luar ruangan. Aktivitas seperti bersepeda dan jogging sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara pada waktu tersebut.
Neneng mengingatkan, kualitas udara tidak selalu lebih baik pada malam hari. Bahkan, berdasarkan pemantauan pemerintah, peningkatan kadar pencemaran dapat terjadi setelah siang hari.
“Justru di malam hari itu udara lagi tidak baik. Dari jam 2 (siang) itu biasanya kadar pencemaran udara itu naik,” jelasnya.
Di tengah kondisi cuaca yang kering, Neneng juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah. Selain dapat memperburuk kualitas udara, pembakaran terbuka berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama selama musim kemarau.
“Utamanya tadi jangan bakar sampah. Tapi itu mau kekeringan mau tidak seharusnya tidak dibakar sampah. Dilarang untuk dibakar,” tegasnya.
Pemkot Samarinda hingga kini masih memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi di masing-masing wilayah. Kebijakan terhadap aktivitas sekolah akan ditentukan berdasarkan perkembangan kondisi udara serta hasil evaluasi bersama dinas terkait.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri


















Users Today : 331
Total Users : 1464005
Views Today : 621
Total views : 6844246