Infobenua.com, New York — Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) terus berkembang sebagai salah satu instrumen untuk menekan emisi karbon dioksida (CO₂). Namun, kapasitas fasilitas yang tersedia saat ini masih jauh dari kebutuhan yang diproyeksikan untuk membatasi dampak terburuk perubahan iklim.
Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan dunia perlu menyimpan antara 350 hingga 1.200 gigaton CO₂ selama abad ini. Target tersebut diperlukan dalam sejumlah skenario untuk mencegah dampak perubahan iklim yang paling parah.
CCS bekerja dengan menangkap CO₂ langsung dari sumber emisi, seperti cerobong industri atau fasilitas produksi amonia. Gas yang telah ditangkap kemudian dikompresi dan diangkut, umumnya melalui jaringan pipa atau kereta api, sebelum disuntikkan ke formasi geologis untuk penyimpanan jangka panjang, seperti akuifer atau reservoir minyak yang sudah tua.
Teknologi ini berbeda dari Carbon Dioxide Removal (CDR), meskipun keduanya dapat menggunakan metode penyimpanan yang serupa. CDR bertujuan mengambil CO₂ yang sudah berada di atmosfer, sedangkan CCS menangkap gas tersebut sebelum dilepaskan ke udara.
Wil Burns, wakil direktur Institute for Carbon Removal Law & Policy di American University, mengatakan teknologi penangkapan karbon tetap diperlukan mengingat akumulasi emisi di atmosfer dan kondisi pengurangan emisi saat ini.
“Mengingat peninggalan emisi di atmosfer, serta posisi kita saat ini dalam upaya pengurangan emisi, kita akan membutuhkan pendekatan-pendekatan ini,” kata Wil Burns, wakil direktur Institute for Carbon Removal Law & Policy di American University.
“Kita hanya perlu mencari cara untuk menggunakannya dengan bijak sembari fokus pada tujuan utama, yaitu dekarbonisasi.”
Pertumbuhan Fasilitas Masih Terbatas
Para pendukung CCS menilai persoalan utama yang menghambat pembangunan fasilitas baru bukan terletak pada teknologi, melainkan pada aspek ekonomi dan kebijakan. Mereka menyebut subsidi pemerintah, penetapan harga karbon, serta insentif pajak diperlukan untuk membuat proyek CCS yang membutuhkan modal besar menjadi menarik bagi investor.
Berbeda dengan CCS, energi terbarukan telah mengalami penurunan biaya yang signifikan sehingga dalam banyak kasus lebih kompetitif secara komersial.
Susan Hovorka, ahli geosains di University of Texas-Austin yang telah meneliti CCS sejak 1998, mengatakan teknologi tersebut secara teknis sudah dapat digunakan.
“Secara teknologi, ini sudah siap dijalankan. Kita tahu cara melakukan proses ini,” kata Susan Hovorka, seorang ahli geosains di Universitas Texas-Austin, yang telah meneliti CCS sejak 1998.
Penggunaan CCS telah berlangsung sejak dekade 1960-an. Pada masa itu, perusahaan minyak menggunakan CO₂ dalam teknik Enhanced Oil Recovery dengan menyuntikkan gas ke ladang minyak untuk meningkatkan produksi.
Proyek CCS skala besar pertama yang secara khusus dirancang untuk mengurangi emisi mulai beroperasi di Norwegia pada 1996. Pertumbuhan kemudian berlangsung secara bertahap. Pada 2020, terdapat 26 fasilitas CCS komersial yang beroperasi di dunia. Jumlah tersebut hampir tiga kali lipat hingga musim panas tahun lalu.
Namun, peningkatan jumlah fasilitas belum otomatis menunjukkan keberhasilan dalam skala yang dibutuhkan.
Danny Cullenward, ekonom di Kleinman Center for Energy Policy, University of Pennsylvania, mengatakan pengalaman komersial CCS belum cukup matang untuk membuktikan kemampuan teknologi tersebut pada skala besar.
“Pengalaman komersial dalam melakukan hal ini belum mapan dan belum dalam skala besar,” kata Danny Cullenward, seorang ekonom di Kleinman Center for Energy Policy, Universitas Pennsylvania. Selain itu menurutnya perlu “Membuktikan bahwa teknologi ini berfungsi, prosesnya mudah, hemat biaya, dapat diterapkan dalam skala besar, dan dapat difungsikan di berbagai lokasi yang berbeda.”
Penelitian dari University of Texas-Austin menunjukkan kesenjangan tersebut. Sejumlah proyek percontohan berskala kecil memang berhasil menyuntikkan CO₂ ke bawah tanah, tetapi banyak proyek CCS besar di berbagai negara menyimpan gas dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas yang sebelumnya dijanjikan.
Kesenjangan Kapasitas
Persoalan lain muncul dari kapasitas penyimpanan geologis. Perkiraan sebelumnya menyebut Bumi memiliki kapasitas penyimpanan CO₂ antara 10.000 hingga 40.000 gigaton. Namun, penelitian terbaru memperkirakan kapasitas tersebut hanya sekitar 1.460 gigaton.
Angka itu berpotensi menjadi kendala bagi skenario iklim yang sangat mengandalkan CCS. Berdasarkan temuan tersebut, sebagian besar skenario dapat melampaui kapasitas penyimpanan yang tersedia dalam waktu sekitar 250 tahun.
Skala kebutuhan tersebut terlihat dari proyek baru perusahaan pupuk Eropa Yara. Perusahaan itu akan meluncurkan proyek penangkapan karbon terbesar di Eropa dengan menangkap CO₂ dari fasilitas produksinya di Sluiskil, Belanda.
CO₂ yang ditangkap akan dicairkan dan dikirim ke pesisir Atlantik Norwegia. Gas tersebut kemudian disimpan di formasi batuan sekitar 2.600 meter di bawah dasar laut.
Meski disebut sebagai proyek terbesar di Eropa, fasilitas Yara hanya mampu menangkap sekitar 800.000 metrik ton CO₂ per tahun. Untuk mencapai 350 gigaton, yang merupakan batas bawah dari kisaran kebutuhan dalam skenario iklim PBB, diperlukan sekitar 5.800 fasilitas dengan kapasitas setara Yara.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan dunia perlu menangkap sekitar 7,6 gigaton karbon setiap tahun hingga 2050. Hampir seluruh karbon yang ditangkap dalam proyeksi tersebut diasumsikan akan disimpan.
Sebagai perbandingan, 77 fasilitas CCS yang saat ini beroperasi di seluruh dunia memiliki kapasitas gabungan sekitar 64 juta ton per tahun. Kapasitas itu harus meningkat sekitar 119 kali lipat dalam 25 tahun untuk mencapai proyeksi IEA.
“Skala yang diminta dalam skenario-skenario tersebut jauh melampaui aktivitas nyata apa pun yang ada saat ini,” kata Cullenward.
Menurut Cullenward, model iklim juga cenderung memberikan bobot terlalu kecil terhadap potensi energi terbarukan dan terlalu besar pada teknologi yang masih berkembang.
Model-model tersebut pada dasarnya dapat mencapai target iklim melalui tiga jalur utama: memperluas energi terbarukan, mengurangi konsumsi energi, atau mengandalkan teknologi baru yang memungkinkan target tercapai tanpa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat.
“Jika Anda menuntut model iklim untuk memecahkan masalah yang mustahil, itu seperti menuangkan air ke bawah tangga. Model iklim tersebut tentu akan mencari jalan tercepat untuk mencapai tujuan,” kata Cullenward.
Perdebatan Peran Industri Fosil
Peran CCS juga menjadi sumber perdebatan dalam kebijakan iklim. Salah satu persoalan utamanya adalah apakah teknologi tersebut merupakan instrumen dekarbonisasi yang diperlukan atau justru dapat dimanfaatkan perusahaan minyak dan gas untuk memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil.
Pada 2023, sekitar 80 persen kapasitas CCS dunia digunakan untuk Enhanced Oil Recovery, yakni proses yang memanfaatkan CO₂ untuk meningkatkan perolehan minyak dari ladang yang ada.
Oil Change International, kelompok riset dan advokasi yang mengkritik penggunaan bahan bakar fosil, menilai praktik tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan emisi sehingga mengurangi bahkan menghilangkan manfaat CCS terhadap iklim.
Sejumlah peneliti juga memperingatkan risiko moral hazard, yakni kondisi ketika keberadaan suatu teknologi mitigasi justru memberikan ruang bagi aktivitas yang menimbulkan risiko lebih besar.
Pendukung CCS, sebaliknya, menilai teknologi tersebut tetap memiliki peran penting pada sektor yang sulit menghilangkan emisinya melalui elektrifikasi atau energi terbarukan, termasuk industri semen.
Cullenward mengatakan kapasitas penghilangan karbon kemungkinan tidak akan mencapai skala yang sangat besar, tetapi upaya pengembangannya tetap diperlukan.
“Saya tidak berpikir kita akan mencapai 5, 10, atau 20 gigaton per tahun dalam penghilangan karbon,” kata Cullenward. “Tetapi kita perlu mengupayakannya sebanyak mungkin. Bagi saya itu adalah alasan untuk lebih terlibat.” (*)

















Users Today : 1410
Total Users : 1472347
Views Today : 3351
Total views : 6863436