Ket Foto: Kondisi langit Kota Samarinda tampak berkabut akibat paparan asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah sekitar.
Infobenua.com Samarinda — Fenomena kabut asap mulai terlihat di sejumlah kawasan Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut ditandai dengan berkurangnya jarak pandang, munculnya aroma asap di beberapa wilayah, hingga keluhan ringan seperti mata perih yang dirasakan sebagian warga.
Meningkatnya kabut asap terjadi seiring musim kemarau yang masih berlangsung dan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah di Kalimantan Timur. Meski kondisi kualitas udara belum masuk kategori berbahaya, masyarakat diminta mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak paparan asap.
Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 14.00 Wita, konsentrasi partikulat di udara mencapai 63 mikrogram per meter kubik.
Kepala BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan angka tersebut masih berada dalam kategori sedang. Namun, nilai tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibandingkan kondisi udara normal di Kota Tepian.
“Pemantauan terakhir menunjukkan konsentrasi partikulat berada di angka 63 mikrogram per meter kubik. Secara kategori masih tergolong sedang,” ujarnya.
Menurut Riza, dalam kondisi normal tanpa pengaruh asap, konsentrasi partikulat di Samarinda biasanya berada pada kisaran 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik. Artinya, kadar partikel di udara saat ini meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi biasa.
Ia menjelaskan, peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Samarinda. Asap hasil pembakaran dapat berpindah mengikuti arah angin tanpa mengenal batas administratif daerah.
Posisi Samarinda yang dikelilingi wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara juga membuat kota ini rentan menerima kiriman asap dari titik-titik kebakaran yang berada di daerah sekitar.
“Kalau ada kebakaran di wilayah sekitar, asapnya bisa terbawa angin ke Samarinda. Asap tidak mengenal batas kabupaten atau kota,” jelasnya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama ketika jarak pandang mulai berkurang dan bau asap semakin terasa. Kondisi tersebut menjadi indikasi meningkatnya konsentrasi partikel di udara yang berpotensi berdampak pada kesehatan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.
Sebagai langkah pencegahan, BMKG menyarankan penggunaan masker ketika beraktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan partikel asap yang terhirup.
“Jika kondisi udara mulai terlihat berkabut dan tercium bau asap, sebaiknya gunakan masker saat berada di luar rumah dan kurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak terlalu penting,” pungkas Riza.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri


















Users Today : 331
Total Users : 1464005
Views Today : 625
Total views : 6844250