Infobenua.om, New Delhi – Aparat kepolisian India membubarkan ratusan demonstran yang berupaya menggelar long march dari kawasan Jantar Mantar menuju kompleks parlemen di New Delhi, Senin (20/7/2026). Aksi yang digagas gerakan Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Rakyat Kecoak itu tetap berlangsung meski sebelumnya tidak memperoleh izin dari kepolisian.
Menurut laporan kantor berita ANI, aparat menggunakan tongkat dan pentungan untuk menghalau massa yang berusaha menembus barikade keamanan. Sejumlah demonstran terlihat dipukul saat bentrokan terjadi di sekitar lokasi aksi. Hingga berita ini diturunkan, kepolisian India belum menyampaikan keterangan resmi mengenai insiden tersebut.
Reporter DW, Shalu Yadav, yang berada di lokasi melaporkan aparat mengerahkan ratusan hingga ribuan personel kepolisian dan pasukan paramiliter untuk mengamankan kawasan Jantar Mantar. Sejumlah lapis barikade dipasang guna mencegah massa bergerak menuju gedung parlemen.
“Saat saya berjalan masuk, saya bisa mendengar yel-yel yang menggema di udara,” ujar Yadav.
Menurutnya, aparat terus mengimbau para demonstran melalui pengeras suara agar tetap berada di dalam area yang telah ditentukan.
“Tapi sudah tidak ada ruang lagi di dalam. Massa melebar jauh melewati barikade,” katanya.
Pengamanan juga diperketat di sejumlah ruas jalan menuju lokasi demonstrasi dengan menempatkan kendaraan pengendali massa. Sejumlah peserta aksi turut melaporkan perlambatan akses internet di sekitar kawasan tersebut.
Di tengah aksi unjuk rasa, anggota parlemen dari kubu oposisi mendesak agar skandal kebocoran soal ujian masuk fakultas kedokteran dibahas dalam sidang Lok Sabha atau majelis rendah parlemen India. Aksi protes dari anggota oposisi menyebabkan sidang hari pertama ditunda hingga tengah hari.
Sementara itu, juru bicara Partai Rakyat Kecoak, Saurav Das, mengatakan pemerintah India telah menghubungi pihaknya untuk membuka dialog.
Menurut Das, dirinya bersama juru bicara lainnya, Ashutosh Ranka, sedang menuju pertemuan dengan Menteri Kesehatan India, JP Nadda.
“Pemerintah sudah menghubungi kami untuk berdialog sejak pagi. Tuntutan kami jelas. Kaum muda telah berkumpul dalam jumlah besar,” kata Das.
Mogok makan Wangchuk tambah perhatian publik
Gelombang demonstrasi yang telah berlangsung sekitar satu bulan memperoleh perhatian lebih luas setelah aktivis iklim India, Sonam Wangchuk, memulai aksi mogok makan pada 28 Juni sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan tersebut.
Selama 21 hari menjalani mogok makan, kondisi kesehatan Wangchuk yang berusia 59 tahun dilaporkan terus menurun. Meski demikian, ia tetap bertahan di lokasi aksi di Jantar Mantar bersama para demonstran.
Pada Sabtu (18/7), polisi memindahkan Wangchuk ke rumah sakit. Aparat menyatakan tindakan tersebut dilakukan berdasarkan perintah pengadilan dan rekomendasi tim medis.
Sejak pemindahan itu, jumlah massa yang mendatangi Jantar Mantar dilaporkan terus bertambah sepanjang akhir pekan.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, kemudian melanjutkan aksi mogok makan Wangchuk dan menyerukan agar Perdana Menteri Narendra Modi mengundurkan diri.
Pemerintah India belum memberikan tanggapan atas aksi mogok makan tersebut. Sikap tersebut memicu kritik dari sejumlah pihak, sementara beberapa pemimpin oposisi menyatakan dukungan kepada Wangchuk.
Dalam pernyataan terbaru, Wangchuk menegaskan akan melanjutkan aksi mogok makannya hingga pemerintah menunjukkan tanggung jawab atas persoalan dalam sistem pendidikan dan mengizinkan demonstrasi CJP tetap berlangsung.
“Terlepas dari kondisi kesehatan saya, mogok makan saya akan terus berlanjut hingga setelah Sansad Chalo March dan hanya akan diakhiri dalam keadaan berikut,” tulis Wangchuk di X sambil mengunggah catatan tulisan tangan berisi tuntutannya dari rumah sakit. (*)



















Users Today : 543
Total Users : 1382425
Views Today : 838
Total views : 6660326