Infobenua.com, Beograd — Ribuan orang memadati jalan-jalan di Beograd, Serbia, pada Senin (7/9) untuk menghadiri pemakaman dan prosesi penguburan Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia Bosnia yang menjalani hukuman seumur hidup di Den Haag karena genosida Srebrenica dan berbagai kejahatan perang lainnya.
Upacara pemakaman Mladic dipimpin Patriark Porfirije, pemimpin Gereja Ortodoks Serbia. Sesuai wasiatnya, Mladic dimakamkan di Pemakaman Topcider, di samping makam putrinya yang meninggal akibat bunuh diri pada 1994.
Mladic meninggal saat menjalani hukuman penjara seumur hidup setelah dinyatakan bertanggung jawab atas genosida Srebrenica pada Juli 1995 serta kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik yang menyertai runtuhnya Yugoslavia pada 1990-an.
Sekitar 8.000 warga sipil dan tahanan Bosnia Muslim dibunuh pasukan Serbia Bosnia dalam pembantaian Srebrenica.
Namun, pemberitaan mengenai pemakaman Mladic di sejumlah media pro-pemerintah Serbia tidak menyoroti latar belakang kejahatan tersebut. Informer TV, stasiun televisi yang dikenal dekat dengan pemerintah, menyiarkan prosesi secara langsung dan menyebutnya sebagai “perpisahan yang megah”.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic tidak menghadiri pemakaman karena harus menerima kunjungan kenegaraan Presiden Uzbekistan yang telah dijadwalkan sebelumnya.
Vucic berusaha mengambil posisi yang relatif berhati-hati dalam kontroversi tersebut. Mladic tidak menerima penghormatan kenegaraan, tetapi prosesi pemakamannya disertai penghormatan militer.
Vucic mengatakan pemerintah hanya menghormati keinginan keluarga dan memastikan Mladic dimakamkan secara layak.
“Apakah kami harus melarang orang menghadiri pemakaman, melarang pemakaman itu sendiri dan membuat kuburan anjing?” katanya saat menanggapi kritik dari Uni Eropa.
Istilah “kuburan anjing” di Serbia merujuk pada makam tanpa tanda yang digunakan untuk sejumlah orang yang dianggap sebagai “musuh rakyat” dan dieksekusi partisan Yugoslavia selama atau segera setelah Perang Dunia II.
Vucic juga mengecam keputusan Komisioner Perluasan Uni Eropa Marta Kos untuk membatalkan kunjungannya ke Beograd. Ia menyebut respons Kos terhadap kontroversi pemakaman Mladic sebagai sesuatu yang “bodoh”.
Uni Eropa menolak segala bentuk pemuliaan terhadap Mladic dan penyangkalan atas kejahatan yang dilakukan selama perang Bosnia.
Seorang juru bicara Uni Eropa mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “memuliakan penjahat perang, menyangkal genosida, dan memutarbalikkan sejarah bertentangan dengan nilai-nilai dasar Eropa. Hal-hal tersebut tidak memiliki tempat di Uni Eropa maupun di negara-negara kandidat anggota Uni Eropa.”
Pemakaman Mladic dan kepentingan politik Vucic
Kontroversi tersebut muncul ketika Vucic menghadapi tekanan politik menjelang kemungkinan pemilu parlemen lebih awal. Pemungutan suara diperkirakan dapat digelar pada 25 Oktober, dengan pengumuman mengenai pemilu lebih awal diperkirakan dilakukan paling cepat pekan ini.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, blok politik yang berkuasa menghadapi kemungkinan serius ditantang gerakan mahasiswa yang telah memimpin demonstrasi anti-pemerintah selama hampir dua tahun.
Meskipun masih menjabat sebagai presiden, Vucic diperkirakan akan diusung Partai Progresif Serbia sebagai kandidat perdana menteri dalam pemilu mendatang.
Menurut ilmuwan politik dari Institute for Philosophy and Social Theory di Beograd, Dejan Bursac, Vucic dapat memanfaatkan isu Mladic untuk memperkuat dukungan dari pemilih nasionalis.
“Vucic memanfaatkan setiap peluang yang tersedia,” kata Bursac kepada DW. “Salah satu peluang itu adalah pemakaman Mladic dan sentimen nasionalisme yang bisa dimunculkannya, sehingga Vucic dapat menampilkan dirinya sebagai patriot sembari menggambarkan lawan politiknya sebagai pengkhianat.”
Bursac mengatakan sebagian warga Serbia masih merasa tidak puas terhadap hasil perang Yugoslavia dan menilai kejahatan terhadap etnis Serbia selama konflik belum mendapatkan hukuman yang setimpal.
“Sentimen itu kini sengaja dipanaskan dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik,” ujar Bursac.
Tanja Topic, analis politik dari Banja Luka di Republika Srpska, wilayah Bosnia-Herzegovina yang mencakup Srebrenica dan mayoritas penduduknya merupakan etnis Serbia, juga melihat isu tersebut dalam konteks mobilisasi politik.
“Politik di sini sangat bertumpu pada emosi,” katanya kepada DW. “Isu ini digunakan untuk memobilisasi warga. Mereka melupakan sulitnya kehidupan sehari-hari karena sentimen patriotisme lebih mendominasi.”
Bosnia-Herzegovina akan lebih dahulu menggelar pemilu pada 4 Oktober, sebelum pemilu yang kemungkinan berlangsung di Serbia.
Mahasiswa hindari isu Mladic
Gerakan mahasiswa Serbia justru memilih untuk tidak menjadikan Mladic maupun pemakamannya sebagai isu utama. Kelompok mahasiswa dan berbagai organisasi kampus yang selama ini menjadi motor demonstrasi anti-pemerintah relatif sedikit membahas Mladic dan kejahatan perang tersebut di media sosial.
Sikap itu mencerminkan upaya kelompok mahasiswa untuk membangun platform politik yang dapat menarik dukungan dari berbagai kelompok pemilih.
Para analis menilai kubu Vucic maupun daftar calon yang kemungkinan didukung gerakan mahasiswa sama-sama berusaha menjangkau pemilih nasionalis. Dalam persaingan yang diperkirakan berlangsung ketat, kelompok mahasiswa tidak ingin isu tersebut mengurangi basis dukungan mereka.
“Terutama karena hasil pemilu kemungkinan besar akan ditentukan oleh selisih suara yang sangat tipis,” kata Bursac.
Menurutnya, gerakan mahasiswa menyadari bahwa sebagian besar pemilih telah cukup terwakili oleh agenda mereka mengenai supremasi hukum, demokrasi, dan pemberantasan korupsi sistemik.
Gerakan protes tersebut bermula dari aksi blokade kampus setelah runtuhnya kanopi di sebuah stasiun kereta yang baru direnovasi di Novi Sad pada November 2024. Insiden itu menewaskan 16 orang.
Jaksa kemudian membuka sejumlah penyelidikan, termasuk mengenai dugaan korupsi dalam kontrak pembangunan. Namun, hingga kini belum ada persidangan yang digelar.
Persaingan ketat menjelang pemilu
Survei opini publik di Serbia selama ini tidak selalu dipercaya masyarakat. Meski demikian, sejumlah pengamat memperkirakan kubu pemerintah dan gerakan mahasiswa memiliki tingkat dukungan yang relatif berimbang, masing-masing sekitar 40 persen.
Persaingan tersebut berlangsung dalam lingkungan media yang sebagian besar berada di bawah pengaruh langsung maupun tidak langsung pemerintah. Sejumlah stasiun televisi dan media berita utama kerap menampilkan narasi yang sejalan dengan pemerintah.
Dalam beberapa hari terakhir, tabloid Informer yang pro-Vucic menyerang pihak-pihak yang menyebut Mladic sebagai penjahat perang. Mereka menyebut para pengkritik sebagai “pembenci Serbia profesional” dan “pengkhianat.”
Vucic sendiri memiliki kehadiran yang sangat kuat di media Serbia dan muncul di televisi sekitar 400 kali sepanjang tahun lalu.
Namun, isu pemakaman Mladic belum tentu mampu mempertahankan dukungan nasionalis bagi pemerintah hingga pemungutan suara digelar.
Dengan pemilu yang kemungkinan berlangsung dalam beberapa pekan, persaingan politik Serbia diperkirakan akan terus bergeser mengikuti isu yang paling efektif untuk memobilisasi pemilih. (*)

















Users Today : 630
Total Users : 1470086
Views Today : 1728
Total views : 6858111