Ket foto : Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso.
Infobenua.com Samarinda – Program pengolahan sampah melalui insinerator yang dikembangkan Pemerintah Kota Samarinda mulai berjalan di sejumlah titik. Namun, salah satu fasilitas yang berada di Kelurahan Tani Aman masih belum dapat beroperasi secara maksimal lantaran terkendala ketersediaan pasokan air.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mengungkapkan bahwa hambatan tersebut tidak berkaitan dengan kerusakan mesin maupun sistem pembakaran. Kendala utama terletak pada belum tersedianya jaringan air khusus yang dibutuhkan untuk mendukung operasional fasilitas secara optimal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso, menjelaskan bahwa seluruh unit insinerator yang telah dibangun sebenarnya sudah mulai dijalankan dan melalui tahapan uji coba. Meski demikian, masih terdapat satu lokasi yang memerlukan pembenahan sarana pendukung.
“Beberapa sudah diuji coba, dan seminggu yang lalu semuanya sudah beroperasi. Walaupun masih ada kendala di satu titik, yaitu di Tani Aman,” ujar Suwarso, Kamis (2/7/2026).
Saat ini kebutuhan air untuk insinerator tersebut masih mengandalkan sambungan dari kantor kelurahan setempat. Menurutnya, kondisi tersebut hanya bersifat sementara sehingga diperlukan pembangunan jaringan air mandiri agar pengoperasian fasilitas dapat berlangsung lebih efektif dan berkesinambungan.
“Ke depan tentu harus memasang jaringan sendiri agar lebih optimal,” katanya.
Di sisi lain, DLH memastikan kesiapan tenaga operasional untuk menjalankan seluruh insinerator yang telah tersedia. Petugas pengelola telah disiapkan sehingga tidak ada persoalan dari aspek sumber daya manusia.
Selain persoalan air, DLH juga mencermati munculnya asap saat proses pembakaran sampah berlangsung. Suwarso menerangkan bahwa kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh jenis sampah yang dimasukkan ke dalam insinerator, terutama apabila masih mengandung kadar air tinggi atau bercampur dengan material organik seperti rumput.
“Idealnya harus ditambah bahan bakar yang kering. Ada kemungkinan sampah basah atau rumput ikut masuk sehingga asapnya menjadi lebih tebal,” jelasnya.
Meski demikian, hasil pemantauan yang dilakukan menunjukkan emisi yang dihasilkan masih berada di bawah ambang batas yang diperbolehkan. Dengan kondisi tersebut, operasional insinerator dinilai masih aman bagi lingkungan sekitar.
“Kualitas udaranya masih di bawah ambang batas. Masih aman. Tapi tentu kami terus mencari solusi agar asapnya semakin berkurang,” tegasnya.
DLH Samarinda kembali menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Pemisahan sampah kering dan basah dinilai menjadi faktor penting agar proses pembakaran berjalan lebih efisien, sementara sampah organik dapat diolah terlebih dahulu menjadi kompos sebelum residunya dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menurut Suwarso, keberhasilan teknologi pengolahan sampah yang disiapkan pemerintah tidak hanya bergantung pada fasilitas yang tersedia, tetapi juga pada perubahan pola pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Dengan pemilahan yang baik, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan sekaligus membantu mengurangi emisi selama proses pengolahan.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri


















Users Today : 452
Total Users : 1360446
Views Today : 2264
Total views : 6538976