Infobenua.com, Jakarta — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Perum Bulog meningkatkan distribusi beras premium ke jaringan ritel modern. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi pasokan beras premium yang dalam beberapa waktu terakhir kerap mengalami kelangkaan di pasar ritel.
Sebelumnya, Bulog diarahkan menyalurkan 110.000 ton beras per bulan kepada masyarakat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.000 ton merupakan beras premium dan 35.000 ton beras medium. Amran kini meminta volume penyaluran tersebut ditingkatkan hingga tiga kali lipat. Menurutnya, ketersediaan stok beras Bulog masih memadai untuk mendukung peningkatan distribusi.
“Sudahlah, kalau 110 ribu ton sudah digelontorkan, bila perlu kali tiga. Berasnya banyak,” ujar Arman dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (22/9/2026).
Amran menyebut stok beras yang dikuasai Bulog saat ini mencapai sekitar 4,6 juta ton. Pemerintah juga menambah kapasitas penyimpanan dengan menyewa gudang yang mampu menampung hingga 2 juta ton. Menurut Amran, peningkatan pasokan ke jaringan ritel merupakan bagian dari strategi pemerintah menjaga ketersediaan beras di berbagai jalur distribusi. Besarnya stok, kata dia, harus diimbangi dengan kelancaran distribusi agar pasokan dapat menjangkau konsumen.
“Sekarang kita operasi pasar, kemudian bantuan pangan untuk 33,4 juta orang seluruh Indonesia, kemudian SPHP ada 1 juta. Insyaallah turun,” kata Amran.
Stok Beras Komersial Bulog Terbatas
Di sisi lain, persoalan pasokan beras premium di ritel modern dinilai masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data per 14 September 2026, stok beras komersial Bulog hanya sekitar 160.000 ton dari total persediaan yang dikelola perusahaan sebesar 4,71 juta ton.
Sebagian besar stok tersebut merupakan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), sementara jumlah beras komersial yang dapat disalurkan melalui mekanisme pasar relatif terbatas. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kondisi tersebut menimbulkan dilema bagi pemerintah dalam mengatasi kelangkaan beras premium di jaringan ritel modern.
Dengan stok komersial sekitar 160.000 ton, Khudori memperkirakan persediaan tersebut secara kasar hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam sekitar dua bulan.
“Setelah itu, berasnya dari mana?,” ujar Khudori dalam catatannya, Senin (12/9/2026).
Menurut Khudori, keterbatasan stok komersial berpotensi membuat kelangkaan beras premium di ritel modern berlanjut. Kebutuhan beras premium yang beredar melalui jaringan ritel modern di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 120.000 hingga 135.000 ton per bulan.
“Artinya, krisis beras premium di ritel modern kemungkinan tetap berlanjut. Konsumen masih memiliki alternatif untuk membeli beras premium di pasar tradisional, toko, pengecer, dan lainnya. Namun, harga beras premium itu hampir pasti berada di atas HET,” tutur dia.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni memastikan stok beras tetap tersedia serta memperlancar distribusinya ke jaringan ritel modern. Sementara itu, keterbatasan beras komersial Bulog menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesinambungan pasokan beras premium di pasar ritel. (*)


















Users Today : 1261
Total Users : 1492882
Views Today : 2463
Total views : 6902927