Infobenua.com, Vilnius – Pengamanan ketat di perbatasan Lithuania-Belarus mendorong munculnya metode baru bagi migran untuk masuk secara ilegal, yakni melalui terowongan bawah tanah. Otoritas Lithuania telah menemukan sedikitnya 12 terowongan sejak awal tahun dan memperkirakan masih ada terowongan lain yang belum terdeteksi.
Kemunculan jalur bawah tanah tersebut dinilai bukan semata persoalan migrasi ilegal. Sejumlah pakar melihatnya sebagai bagian dari tekanan hibrida yang berpotensi digunakan Belarus untuk mempertahankan ketegangan di perbatasan dan memicu persoalan politik di Lithuania.
Perbatasan Lithuania dan Belarus membentang sekitar 700 kilometer. Sekitar 550 kilometer di antaranya telah dilengkapi pagar perbatasan.
Menurut Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania, sejumlah terowongan yang ditemukan memiliki bagian sepanjang hingga 25 meter di sisi wilayah Lithuania.
Komandan Badan Penjaga Perbatasan Negara Lithuania, Jenderal Rustamas Liubajevas, mengatakan aparat memiliki perangkat untuk mendeteksi aktivitas penggalian dari bawah tanah.
“Kami memiliki sistem seismik darat yang dapat dengan mudah mendeteksi getaran berintensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu lama,” kata Liubajevas kepada DW.
Setelah mendeteksi aktivitas tersebut, petugas tidak selalu langsung melakukan penggerebekan. Mereka menunggu hingga proses penggalian mendekati tahap akhir dan kemudian menangkap orang-orang yang muncul dari terowongan.
“Kemudian kami menunggu di luar terowongan hingga penggalian mencapai tahap akhir. Ketika para migran keluar, kami menangkap mereka,” ujarnya.
Liubajevas mengatakan hingga 40 migran yang menggunakan terowongan telah ditangkap.
Dugaan Keterlibatan Belarus
Kantor Kejaksaan Lithuania menyatakan kepada DW bahwa penyelidikan awal dilakukan terhadap sekitar 20 orang yang diduga terlibat dalam pembangunan terowongan secara ilegal. Mereka juga berpotensi dijerat dengan dugaan tindak pidana penyelundupan manusia.
Karena proses penyelidikan masih berjalan, wartawan untuk sementara tidak diperbolehkan mengunjungi lokasi terowongan.
Liubajevas mengaku mempertanyakan strategi tersebut karena proses penggalian membutuhkan usaha besar, sementara sebagian besar migran yang keluar melalui terowongan akhirnya ditangkap.
“Dibutuhkan banyak upaya untuk menggali terowongan, sementara para migran hampir langsung ditangkap. Paling banyak, hanya satu kelompok kecil yang berhasil lolos,” katanya.
Kompleksitas konstruksi terowongan juga membuat aparat Lithuania menduga para migran memperoleh bantuan dari pihak lain.
“Mereka tidak mungkin bisa melakukannya tanpa dukungan logistik dari otoritas Belarus, karena mereka membutuhkan banyak material, seperti kayu, untuk memperkuat dinding terowongan,” tegas Liubajevas.
Menurutnya, Belarus tampaknya ingin “mempertahankan tingkat ketegangan yang tinggi di perbatasan.”
Presiden Belarus Alexander Lukashenko sebelumnya membantah tuduhan bahwa pemerintahnya memfasilitasi arus migran menuju negara-negara tetangga. Terowongan yang digunakan migran juga pernah ditemukan di Polandia, negara lain yang berbatasan dengan Belarus.
Margarita Seselgyte, Direktur Institute of International Relations and Political Science di Vilnius University, menilai aktivitas tersebut sulit dipisahkan dari kebijakan Belarus terhadap perbatasannya.
“Belarus mengawasi perbatasannya dengan sangat ketat, dan negara tersebut bukan bagian dari rute migrasi alami bagi migran dari Afghanistan, Iran, atau Sri Lanka,” katanya kepada DW.
Menurut Seselgyte, setidaknya pemerintah Belarus membiarkan aktivitas penggalian tersebut berlangsung tanpa intervensi.
Ia melihat penggunaan terowongan sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap Lithuania.
“Serangan hibrida untuk menimbulkan kecemasan di masyarakat kami.”
“Tidak ada kekosongan dalam dunia keamanan. Ketika Lithuania menutup celah dan memperkuat pagar perbatasannya, Belarus kini membantu para migran melewatinya dari bawah,” ujarnya.
Dikaitkan dengan Rusia dan Perang Ukraina
Seselgyte mengaitkan persoalan tersebut dengan posisi Lithuania yang secara terbuka mendukung penguatan pertahanan Eropa terhadap Rusia dan membantu Ukraina.
Menurutnya, Belarus bertindak sebagai sekutu Moskow. Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, termasuk menggunakan wilayah Belarus sebagai salah satu titik pengerahan pasukan dengan alasan latihan militer.
“Lithuania sangat vokal dalam hal pertahanan terhadap Rusia, baik dalam menghadapi ancaman konvensional maupun ancaman hibrida, di tingkat Uni Eropa dan NATO. Mereka ingin membungkam suara tersebut dengan menciptakan kekacauan di negara kami,” kata ilmuwan politik itu.
“Tujuan utamanya kemungkinan besar adalah melemahkan dukungan terhadap Ukraina dan mengganggu persatuan Eropa,” tambahnya.
Linas Kojala, CEO Geopolitics and Security Studies Center di Vilnius, mengatakan terowongan tersebut tetap memberikan beban operasional kepada aparat meskipun jumlah migran yang berhasil melewati perbatasan relatif kecil.
Ia menyebut penggunaan terowongan sebagai perkembangan terbaru dalam pola yang telah berlangsung sejak 2021.
“Fase lain dari serangan berupa penggunaan migrasi sebagai senjata yang telah kami hadapi sejak 2021.”
Pada 2021, puluhan ribu migran memasuki Lithuania, Polandia, dan Latvia melalui Belarus. Uni Eropa ketika itu menuduh pemerintahan Lukashenko melakukan “instrumentalisasi migran yang disponsori negara di perbatasan eksternal Uni Eropa”.
Sejak saat itu, negara-negara Baltik dan Polandia memperkuat perbatasan mereka.
“Latvia, Polandia, Lithuania, dan negara-negara lainnya sejak itu telah membangun perbatasan eksternal dan kami berhasil menurunkan migrasi ilegal hingga tingkat minimum,” kata Kojala kepada DW.
Namun, ia mengatakan penghentian sepenuhnya arus migrasi ilegal sulit dicapai selama Belarus tidak mengambil tindakan terhadap aktivitas tersebut dari wilayahnya sendiri.
“Dan itu tidak mungkin terjadi. Belarus jelas berusaha menciptakan sebanyak mungkin masalah,” katanya.
Migrasi sebagai Instrumen Tekanan
Robert Gonzci, analis Migration Research Institute di Budapest, mengatakan penggunaan migrasi sebagai instrumen politik bukan fenomena baru. Menurutnya, arus migrasi dapat dimanfaatkan negara untuk memberikan tekanan kepada negara lain dengan biaya relatif rendah.
“Ini merupakan cara yang relatif murah dan berisiko rendah untuk memberikan tekanan kepada negara lain. Sejak 1950-an, terdapat banyak kasus terdokumentasi mengenai pemerintah yang menciptakan atau memanipulasi arus migrasi,” tulis Gonzci dalam email kepada DW.
Ia bahkan menunjuk pada Kekaisaran Asyur yang runtuh pada abad ke-7 sebelum Masehi sebagai salah satu contoh sejarah penggunaan migrasi untuk memperkuat kendali kekaisaran.
Meski demikian, Gonzci tidak menutup kemungkinan terowongan tersebut dibangun oleh jaringan penyelundup yang beroperasi secara mandiri tanpa kendali langsung pemerintah Belarus.
Ia menilai Belarus dan Rusia telah memanfaatkan migrasi sebagai instrumen untuk “mengalihkan perhatian Barat dari agenda strategis Rusia yang lebih luas serta menciptakan ketidakstabilan di sepanjang sayap timur NATO dengan memicu ketegangan politik dan sosial di negara-negara Eropa.”
Menurut Gonzci, strategi semacam itu memberikan keuntungan bagi pemerintah yang menjalankannya karena negara sasaran berada dalam posisi sulit.
“Targetnya biasanya adalah negara demokratis yang menghadapi dilema mendasar: mereka harus melindungi kedaulatan dengan mengamankan perbatasan, tetapi pada saat yang sama harus memenuhi kewajiban hukum dan komitmen kemanusiaan,” tulisnya.
Meski menghadapi tekanan tersebut, para pakar menilai negara-negara di sisi timur Uni Eropa relatif berhasil menangani tantangan migrasi dan keamanan perbatasan.
Seselgyte mengatakan koordinasi antara negara-negara Nordik, Baltik, dan Polandia terus diperkuat karena menghadapi ancaman yang serupa. Dukungan juga datang dari Frontex, badan perbatasan Uni Eropa, melalui tambahan peralatan.
“Kerja sama dan koordinasi antara negara-negara Nordik dan Baltik serta Polandia semakin meningkat karena negara-negara tersebut menghadapi tantangan yang serupa. Misi Frontex dari Uni Eropa juga telah mengirimkan peralatan tambahan,” kata Seselgyte.
Lithuania Uji Teknologi Deteksi Bawah Tanah
Lithuania kini menerima dukungan teknis dari negara-negara tetangganya untuk menghadapi metode penyusupan melalui bawah tanah.
Liubajevas mengatakan pihaknya sedang menguji perangkat pemindai yang diperoleh dari Polandia. Teknologi tersebut dirancang untuk mendeteksi ruang kosong di bawah permukaan tanah yang berpotensi menjadi terowongan.
“Kami sedang menguji peralatan pemindai dari Polandia yang dapat mengidentifikasi ruang kosong di bawah tanah. Jika alat tersebut bekerja dengan baik, kami akan membelinya dan mengerahkan peralatan tersebut,” jelas Liubajevas.
Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya Lithuania menutup celah baru di perbatasannya. Setelah memperkuat pagar dan meningkatkan pengawasan di permukaan, aparat kini harus menghadapi tantangan dari bawah tanah—menunjukkan bagaimana pola tekanan di perbatasan timur Uni Eropa terus beradaptasi. (*)



















Users Today : 1108
Total Users : 1421653
Views Today : 2824
Total views : 6737031