Infobenua.com – Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia. Ketidakpastian mengenai kelanjutan perundingan damai kedua negara, ditambah gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, membuat pelaku pasar mencemaskan stabilitas perdagangan minyak global.
Mengutip laporan CNA, situasi tersebut menjadi tantangan baru bagi negara-negara Teluk yang sebelumnya berharap kawasan mulai memasuki fase pemulihan setelah berbulan-bulan dilanda konflik.
Harapan itu sempat muncul setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman sementara pada 17 Juni yang diproyeksikan menjadi langkah awal menuju deeskalasi. Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan meningkatnya risiko konflik berkepanjangan di kawasan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat **Donald Trump** menyatakan pada Rabu bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran telah “berakhir”. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kedua negara kembali terlibat dalam aksi saling serang.
Laporan terbaru juga menyebut Iran menyerang kapal tanker bahan bakar milik Qatar dan Arab Saudi yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Serangan itu dinilai sebagai upaya Teheran menegaskan klaim strategisnya atas jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.
Sebagai respons, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap puluhan sasaran di wilayah Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Rangkaian aksi tersebut dinilai sebagai pelanggaran paling serius terhadap nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua negara dan meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya gencatan senjata mulai kehilangan efektivitas.
Sentimen negatif itu langsung tercermin di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 6 persen hingga mendekati **US$80 per barel**, didorong kekhawatiran terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz serta meningkatnya risiko terhadap pasokan energi global.
Meski eskalasi terus meningkat, sejumlah pengamat memperkirakan Washington maupun Teheran masih berupaya menghindari perang terbuka dalam waktu dekat. Pemerintahan Trump disebut mempertimbangkan dampak lonjakan harga energi terhadap perekonomian Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Di sisi lain, Iran dinilai masih fokus membangun kembali kemampuan militernya setelah menghadapi serangkaian serangan dalam beberapa bulan terakhir.
Kendati peluang konflik berskala penuh dinilai masih dapat dihindari, Selat Hormuz diperkirakan tetap menjadi titik paling rentan dalam dinamika hubungan kedua negara. Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis sebagai salah satu koridor utama pengiriman minyak mentah dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi internasional. (*)



















Users Today : 1071
Total Users : 1367309
Views Today : 4330
Total views : 6611973