Infobenua.com, Jerman — Kemenangan partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) dalam pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt meningkatkan tekanan politik terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Partai Uni Demokrat Kristen (CDU) yang dipimpinnya.
Merz mengakui hasil pemilu tersebut sebagai pukulan bagi CDU ketika tampil bersama Perdana Menteri Sachsen-Anhalt Sven Schulze pada Minggu (6/9/2026). Kekalahan tersebut juga memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan terhadap pemerintahan federal di Berlin.
“Bukan hanya sesuatu yang berubah di Sachsen-Anhalt kemarin, tapi di seluruh Jerman. Ini akan berdampak, termasuk di panggung internasional,” kata Merz.
AfD, yang memenangkan pemilu negara bagian tersebut, menentang dukungan Jerman terhadap Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Merz juga menyoroti hubungan sejumlah politisi AfD dengan pemerintah Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin.
Kanselir Jerman itu memperingatkan bahwa konfigurasi politik dapat berubah dan partai-partai demokratis harus menyadari kemungkinan tersebut.
Merz juga menyoroti fakta bahwa sekitar 60 persen pemilih Sachsen-Anhalt memberikan suara kepada partai-partai yang menurutnya mengabaikan prinsip supremasi hukum. Selain AfD, ia memasukkan Partai Kiri dan Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW) dalam kelompok tersebut.
Merz menegaskan pemerintahannya tetap berkomitmen terhadap prinsip-prinsip konstitusional Jerman.
“Di negara kita, nilai-nilai ini tidak bisa diperdebatkan. Kekuasaan diberikan, bukan direbut. Dan minoritas bukanlah musuh mayoritas.”
Pernyataan tersebut muncul ketika Merz berupaya meyakinkan mitra Jerman di Uni Eropa dan NATO bahwa hasil pemilu negara bagian tidak akan mengubah orientasi dasar politik luar negeri Berlin.
“Kami tahu bahwa Jerman menanggung tanggung jawab khusus karena sejarahnya. Kami akan selalu membela tatanan politik kami dan keterlibatan kami yang kokoh di Eropa,” katanya.
Tekanan terhadap kepemimpinan Merz
Hasil pemilu Sachsen-Anhalt menjadi persoalan serius bagi Merz karena AfD memperoleh posisi kuat di parlemen negara bagian, meskipun belum mencapai mayoritas absolut.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan terjadinya negosiasi politik yang rumit untuk menentukan pemerintahan baru di Magdeburg.
Salah satu pertanyaan utama adalah apakah anggota parlemen CDU secara individual akan mendukung Ulrich Siegmund, kandidat utama AfD dan pemenang pemilu, dalam pemilihan kepala pemerintahan negara bagian. Pilihan tersebut akan bertentangan dengan garis resmi CDU yang selama ini menolak bekerja sama dengan AfD.
Jika hal itu terjadi, posisi Merz sebagai ketua CDU sekaligus kanselir dapat menghadapi tekanan lebih besar.
Schulze, yang berdiri di samping Merz dalam konferensi pers, sebelumnya secara terbuka mengaitkan kekalahan CDU dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan federal.
Tekanan terhadap pemerintah federal juga muncul dari persoalan kebijakan domestik. Merz tetap mempertahankan sejumlah agenda reformasi yang sulit, termasuk perubahan sistem pensiun yang selama ini menghadapi persoalan defisit kronis.
Reformasi tersebut mendapat penolakan selama kampanye karena dinilai berpotensi meningkatkan beban bagi sebagian masyarakat.
Wakil Kanselir sekaligus pemimpin Partai Demokrat Sosial (SPD) Lars Klingbeil sebelumnya menyarankan agar pemerintah mengevaluasi kembali reformasi tersebut setelah koalisi pemerintahan. (*)

















Users Today : 586
Total Users : 1470042
Views Today : 1567
Total views : 6857950