Ket foto : Kepala BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo.
Infobenua.com Samarinda – Perubahan pola musim kembali terjadi di Kalimantan Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim memperkirakan musim kemarau tahun ini mengalami pergeseran dari jadwal sebelumnya, seiring masih berlanjutnya curah hujan berdasarkan pembaruan informasi dari BMKG.
Kondisi tersebut membuat periode kemarau yang semula diperkirakan dimulai pada April kini bergeser ke akhir bulan hingga Mei. Sementara itu, puncak musim kering diprediksi berlangsung mulai Juni dan mencapai intensitas tertinggi pada Juli hingga Agustus.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Budi Purnomo, menyampaikan bahwa perubahan ini perlu menjadi perhatian bersama karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor.
“Terjadi pergeseran dari perkiraan awal. Jika sebelumnya April diprediksi memasuki kemarau, kini mundur hingga akhir April atau Mei. Adapun puncaknya diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, fase puncak kemarau berpotensi memunculkan dampak yang lebih signifikan, terutama terkait ketersediaan air bersih serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Hal yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan cadangan air bersih. Selain itu, risiko kebakaran akan meningkat seiring bertambahnya durasi hari tanpa hujan,” jelasnya.
Meski demikian, BPBD mencatat kondisi saat ini masih relatif aman. Durasi hari tanpa hujan di wilayah Kaltim masih tergolong singkat, yakni belum melebihi 10 hari, sehingga potensi kebakaran masih dapat dikendalikan.
Dalam sektor pertanian, pemerintah juga mendorong langkah adaptasi lebih awal.
Salah satu upaya yang disarankan adalah mempercepat masa tanam guna menghindari dampak kekeringan saat kemarau mencapai puncaknya.
“Untuk sektor pertanian dan perkebunan, percepatan masa tanam dapat menjadi salah satu strategi. Teknis pelaksanaannya dapat dikoordinasikan dengan instansi terkait,” katanya.
Selain itu, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap kemunculan titik panas di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data satelit, beberapa daerah seperti Kutai Kartanegara sempat mencatat jumlah hotspot cukup tinggi, meskipun masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
“Sebaran titik panas dapat berasal dari berbagai aktivitas, seperti pertambangan maupun kawasan industri.
Namun yang menjadi perhatian adalah apabila titik tersebut bertahan lebih dari satu hari,” terangnya.
Terkait fenomena El Nino yang kerap dikaitkan dengan musim kemarau ekstrem, Buyung menyebut kondisi tahun ini belum menunjukkan indikasi yang mengarah pada situasi serupa seperti 2015.
“Kami berharap kondisi tidak berkembang seperti tahun 2015. Dengan masih adanya curah hujan, potensi kebakaran diharapkan dapat ditekan,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, BPBD juga memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan dinas pangan dan pertanian di tingkat kabupaten/kota.
Langkah ini dilakukan guna menjaga ketahanan pangan sekaligus mencegah dampak lanjutan seperti gagal panen dan kenaikan harga.
“Kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Kami berharap musim kemarau tahun ini dapat dilalui dengan baik melalui upaya antisipasi sejak dini,” pungkasnya.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri


















Users Today : 527
Total Users : 1269177
Views Today : 1441
Total views : 6284640