Ket Foto: Pantauan BMKG terhadap kualitas udara.
Infobenua.com Samarinda – Kualitas udara di Kota Samarinda kembali memburuk seiring semakin pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut, Rabu (16/9/2026). Sejak pagi, lapisan asap terlihat menutupi langit kota dan mengurangi intensitas sinar matahari yang biasanya terasa terik pada musim kemarau.
Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan diduga menjadi penyebab utama memburuknya kondisi udara. Salah satu lokasi yang kembali dilaporkan mengalami kebakaran berada di kawasan Jalan Irigasi.
Koordinator Bidang Logistik dan Sarana Prasarana BPBD Samarinda, Ifran, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat udara telah mencapai 161,7 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menandakan kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat.
“Data yang kami terima pagi ini menunjukkan konsentrasi PM sudah mencapai 161,7. Kondisinya masuk kategori sangat tidak sehat,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPBD Samarinda.
Atas kondisi itu, BPBD meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Penggunaan masker juga disarankan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.
“Kalau memang harus berada di luar, sebaiknya menggunakan masker untuk mengurangi dampak paparan asap,” katanya.
Di saat yang sama, petugas BPBD kembali bergerak menuju kawasan Jalan Irigasi setelah menerima laporan munculnya titik api baru. Upaya pemadaman disebut tidak mudah karena sebagian area yang terbakar merupakan lahan gambut.
Menurut Ifran, karakteristik kebakaran gambut membuat api sering kali tersembunyi di bawah permukaan tanah sehingga sulit diketahui keberadaannya. Meski demikian, kebakaran jenis ini mampu menghasilkan asap tebal yang menyebar hingga ke kawasan permukiman.
“Pada lahan gambut, api bisa berada di bawah permukaan tanah sehingga yang terlihat justru asapnya. Ini yang membuat penanganannya lebih sulit,” jelasnya.
Dampak kabut asap juga dirasakan pada sektor transportasi udara. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menyebut jarak pandang di area bandara mengalami penurunan hingga berada pada kisaran 1.000 sampai 1.500 meter.
“Visibilitas di bandara berkisar antara 1.000 hingga 1.500 meter,” ungkap Riza.
Meski jarak pandang menurun, operasional penerbangan di Bandara APT Pranoto masih berjalan normal dan belum terdapat laporan penundaan maupun pembatalan penerbangan akibat kabut asap.
Riza menjelaskan kondisi cuaca saat ini turut memperburuk akumulasi asap di wilayah Samarinda. Fenomena lapisan inversi atmosfer menyebabkan pergerakan udara vertikal terhambat sehingga asap tidak mudah terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
“Udara cenderung tertahan sejak pagi. Adanya lapisan inversi membuat pergerakan massa udara ke atas tidak berlangsung optimal sehingga asap berkumpul di dekat permukaan,” terangnya.
Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih terus dijalankan untuk mendukung penanganan kekeringan dan karhutla di Kalimantan Timur. Pada Rabu, tim OMC melakukan dua sorti penerbangan guna mencari awan potensial yang dapat disemai, masing-masing ke wilayah Kutai Kartanegara dan Kutai Timur.
Penyemaian juga dilakukan di sekitar Samarinda. Namun BMKG menegaskan kabut asap yang saat ini menyelimuti Kota Tepian bukan merupakan dampak kegiatan OMC, melainkan berasal dari kebakaran lahan yang masih berlangsung di sejumlah lokasi.
“Kami fokus mencari awan yang paling berpotensi agar proses modifikasi cuaca bisa memberikan hasil yang optimal,” tutup Riza.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri


















Users Today : 725
Total Users : 1484549
Views Today : 1133
Total views : 6887234