BALIKPAPAN— Perkembangan harga barang dan jasa di Kota Balikpapan menunjukkan tren yang lebih terkendali pada Agustus 2026. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Sebaliknya, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi sebesar 0,52 persen (mtm) pada periode yang sama.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan perbedaan tersebut menunjukkan dinamika harga di kedua wilayah berjalan dengan arah yang berbeda.
“Secara tahunan Kota Balikpapan inflasinya tercatat sebesar 3,79 persen (yoy), sedangkan Kabupaten PPU mencatat inflasi sebesar 3,68 persen (yoy),” kata Robi dalam keterangan tertulis, 1 September 2026.
Inflasi tahunan di Balikpapan maupun PPU masih berada di atas inflasi nasional yang tercatat 3,19 persen (yoy). Namun, angka tersebut masih berada di bawah inflasi tahunan gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,83 persen.
Sementara itu, secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026, inflasi Balikpapan tercatat 2,47 persen, sedangkan PPU mencapai 3,53 persen.
Angkutan udara dan bensin tekan inflasi Balikpapan
Deflasi di Balikpapan terutama berasal dari kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,26 persen (mtm).
Sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain angkutan udara, bensin, bawang merah, kangkung, dan tomat.
Penurunan tarif angkutan udara antara lain dipengaruhi turunnya harga avtur yang diberlakukan Pertamina sejak 1 Agustus 2026. Harga avtur untuk Bandara Sepinggan Balikpapan turun menjadi Rp21.825 per liter dari sebelumnya Rp22.104 per liter.
Harga bensin juga turun setelah Pertamina menurunkan harga Pertamax (RON 92) mulai 1 Agustus 2026 menjadi Rp16.300 per liter dari sebelumnya Rp16.650 per liter.
Sementara itu, penurunan harga bawang merah dan tomat didukung meningkatnya pasokan seiring masuknya periode panen di sejumlah daerah sentra produksi, terutama Jawa dan Sulawesi.
Harga kangkung juga turun karena pasokan dari petani lokal di sekitar Balikpapan meningkat. Kondisi cuaca yang semakin minim hujan membuat tanaman kangkung tumbuh lebih optimal dan mengurangi risiko kerusakan akibat genangan air.
Namun, tekanan inflasi masih terlihat dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil sebesar 0,18 persen (mtm).
Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain ikan layang, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis, dan ketimun.
Kenaikan harga ikan layang dipengaruhi terbatasnya hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya. Kondisi itu terjadi seiring berakhirnya periode ikan pelagis kecil pada triwulan III 2026 dan tingginya gelombang laut yang membatasi aktivitas nelayan.
Adapun kenaikan harga cabai rawit, jagung manis, dan ketimun dipengaruhi berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi akibat kondisi kemarau.
Sementara kacang panjang mengalami kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan petani lokal di sekitar Balikpapan karena kondisi cuaca yang kering.
PPU mengalami inflasi 0,52 persen
Berbeda dengan Balikpapan, PPU mencatat inflasi sebesar 0,52 persen (mtm) pada Agustus 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 0,41 persen.
Komoditas yang paling mendorong inflasi PPU antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, biaya pemeliharaan atau servis, dan buncis.
Harga daging ayam ras meningkat akibat terbatasnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari PPU serta daerah sekitarnya. Kenaikan juga dipengaruhi meningkatnya biaya pakan ternak, sementara permintaan masih kuat.
Harga ikan tongkol ikut meningkat akibat menurunnya hasil tangkapan nelayan karena gelombang laut yang tinggi di perairan PPU dan sekitarnya.
Sementara cabai rawit dan buncis mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi yang terdampak kondisi kemarau.
Biaya pemeliharaan dan servis juga meningkat seiring naiknya biaya operasional bengkel, terutama harga suku cadang, pelumas, dan bahan pendukung lainnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi PPU. Komoditas penyumbang deflasi terdalam antara lain tomat, bawang merah, ikan layang, kelapa, dan bawang putih.
Penurunan harga tomat dan bawang merah didukung meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi yang memasuki periode panen.
Harga ikan layang juga turun karena hasil tangkapan nelayan masih tinggi seiring migrasi ikan pelagis kecil ke perairan PPU dan sekitarnya.
Adapun harga kelapa turun karena pasokan dari petani lokal meningkat. Sementara bawang putih mengalami penurunan harga seiring meningkatnya pasokan impor.
TPID perkuat pengendalian harga
Robi mengatakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balikpapan dan PPU terus memperkuat langkah pengendalian harga, terutama untuk memastikan pasokan dan distribusi pangan strategis tetap terjaga.
Upaya tersebut dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah, operasi pasar, serta penguatan Kerja Sama Antardaerah (KAD).
Hingga Agustus 2026, TPID Kota Balikpapan telah melaksanakan 87 kali GPM, termasuk tujuh kali sepanjang Agustus.
Sementara TPID Kabupaten PPU telah melaksanakan 27 kali GPM, pasar murah, dan operasi pasar, termasuk empat kegiatan selama Agustus 2026.
Pengendalian juga dilakukan melalui operasi pasar LPG 3 kilogram serta optimalisasi Kios GESIT dan Kios Penyeimbang.
Dari sisi produksi, penguatan ketahanan pangan dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan penerapan Good Agricultural Practice (GAP), antara lain melalui Tani Camp, Gerakan Tanam Cabai, dan pemanfaatan pekarangan di Balikpapan maupun PPU.
Untuk mengamankan pasokan, kerja sama antardaerah juga diperkuat. Balikpapan dan PPU menjalin kerja sama dengan Kabupaten Karo, sementara Balikpapan juga bekerja sama dengan Kabupaten Bulukumba untuk mendiversifikasi dan mengamankan pasokan komoditas strategis, khususnya hortikultura.
Pemantauan harga dan pasokan dilakukan secara terintegrasi melalui sistem peringatan dini (early warning system), pembaruan harga bahan pokok penting (bapokting), serta neraca pangan.
El Nino jadi risiko inflasi ke depan
Bank Indonesia memperkirakan sejumlah risiko masih dapat meningkatkan tekanan inflasi ke depan.
Salah satunya adalah musim kemarau yang puncaknya diprakirakan terjadi pada triwulan III 2026. Kondisi tersebut berpotensi menekan produksi komoditas pertanian.
Risiko semakin besar dengan prakiraan dampak El Niño yang lebih kuat, terutama terhadap daerah sentra produksi di Jawa yang menjadi salah satu sumber utama pasokan pangan strategis bagi Balikpapan, PPU, dan Paser.
Selain itu, akselerasi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sepanjang 2026 diperkirakan dapat meningkatkan permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan.
Karena itu, KPw Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui TPID Balikpapan, PPU, dan Paser akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi.
Robi mengatakan penguatan tersebut diarahkan untuk memastikan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) berjalan konsisten, terukur, dan berkelanjutan.
Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga inflasi daerah tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2026, yakni 2,5 persen plus-minus 1 persen.
“Ke depan, KPwBI Balikpapan akan terus membangun dan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID,” ujar Robi.
Sumber: KPwBI Balikpapan/Irwanto



















Users Today : 847
Total Users : 1462815
Views Today : 2635
Total views : 6842022