Infobenua.com, Washington – Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pasar minyak dunia masih akan menghadapi tekanan dalam jangka waktu yang cukup panjang akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Kantor Berita Mehr yang merujuk pada Sputnik, Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, mengatakan lembaganya belum melihat peluang harga minyak kembali ke level sebelum pecahnya operasi militer terhadap Iran.
Dalam konferensi pers, Kozack menjelaskan bahwa sekalipun aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan mulai membaik pada pertengahan Juli, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mengembalikan harga minyak ke posisi sebelum dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Berdasarkan pembaruan proyeksi IMF yang dipublikasikan pada Rabu (8/7), rata-rata harga minyak dunia pada 2026 diperkirakan mencapai US$89,27 per barel, meningkat sekitar 33 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya. Pada 2027, harga diperkirakan turun menjadi sekitar US$78,70 per barel.
IMF menyatakan bahwa proyeksi tersebut disusun dengan mempertimbangkan perkembangan situasi keamanan di kawasan serta dinamika pasar komoditas global yang dapat memengaruhi pasokan dan harga energi.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Menurut laporan Mehr, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran dengan alasan melindungi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz yang diklaim menghadapi ancaman. Di sisi lain, Iran menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan merespons dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai bagian dari operasi balasan. (red)




















Users Today : 911
Total Users : 1368520
Views Today : 4153
Total views : 6617807