Ket foto : Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin.
Infobenua.com Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat langkah pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah masih tingginya jumlah kasus yang ditemukan sepanjang 2026. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan risiko penularan, mulai dari memperluas layanan vaksinasi hingga mendorong penerapan teknologi Wolbachia.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim menunjukkan hingga pertengahan tahun ini terdapat 1.530 kasus DBD yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Dari jumlah tersebut, dua pasien dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu.
Situasi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk memperkuat strategi pencegahan. Selain penanganan kasus, upaya perlindungan masyarakat juga terus ditingkatkan agar penyebaran virus dengue dapat ditekan.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan salah satu langkah yang kini diperkuat adalah pemberian vaksin DBD. Menurutnya, vaksin dapat menjadi perlindungan tambahan bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman infeksi dengue.
“Vaksinasi bukan pengganti upaya pencegahan yang selama ini dilakukan, tetapi menjadi perlindungan tambahan agar risiko terinfeksi dengue dapat ditekan dan dampak penyakitnya tidak semakin berat,” ujarnya pada Jumat (3/7/2026).
Jaya menjelaskan layanan vaksin DBD saat ini telah tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan dan rumah sakit. Dengan semakin mudahnya akses masyarakat terhadap vaksin, pemerintah berharap angka kasus dapat ditekan secara bertahap.
Selain vaksinasi, Dinkes Kaltim juga mulai mendorong implementasi teknologi Wolbachia sebagai bagian dari strategi pengendalian jangka panjang. Teknologi tersebut memanfaatkan bakteri Wolbachia yang hidup di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti sehingga kemampuan nyamuk dalam membawa dan menularkan virus dengue menjadi berkurang.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu inovasi yang dapat melengkapi berbagai program pengendalian DBD yang selama ini dijalankan.
“Teknologi Wolbachia merupakan inovasi yang memberi harapan baru dalam pengendalian DBD karena mampu menekan potensi penularan virus melalui nyamuk secara lebih efektif,” katanya.
Meski demikian, Jaya menegaskan keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada program pemerintah. Peran masyarakat tetap menjadi faktor penting dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut.
Karena itu, warga terus diimbau untuk menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin dengan menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan pada pagi dan sore hari saat nyamuk Aedes aegypti berada pada periode paling aktif menggigit manusia.
“Pengendalian DBD membutuhkan keterlibatan semua pihak. Lingkungan yang bersih dan bebas jentik nyamuk tetap menjadi benteng pertama untuk mencegah penyebaran penyakit ini,” tegas Jaya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan harus dilakukan secara konsisten karena capaian Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kalimantan Timur saat ini baru mencapai 83,55 persen. Angka tersebut masih perlu ditingkatkan agar target pengendalian DBD di daerah dapat tercapai secara optimal.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri



















Users Today : 673
Total Users : 1361482
Views Today : 3786
Total views : 6545147