Infobenua.com, Berlin – Ketua fraksi blok konservatif di Bundestag, Jens Spahn, mengundurkan diri dari jabatannya setelah kontroversi terkait keputusan dirinya dan suaminya memiliki anak melalui ibu pengganti di Amerika Serikat memicu tekanan politik. Pengunduran diri tersebut terjadi setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz meminta Spahn melepaskan posisi strategisnya di parlemen.
Keputusan itu menambah tekanan terhadap Partai Demokrat Kristen (CDU), yang selama ini secara tegas menolak legalisasi praktik surogasi di Jerman. Meski mundur sebagai ketua fraksi, Spahn menegaskan tetap mempertahankan kursinya sebagai anggota Bundestag.
Pada Minggu (19/7), Merz mengatakan proses penunjukan pengganti Spahn akan segera dibahas bersama mitra koalisi dari Uni Sosial Kristen (CSU), termasuk pemimpin CSU Markus Söder.
“Fraksi parlemen, jika diperlukan, tetap berfungsi. Kami akan membicarakan ini dalam komite partai dalam beberapa hari ke depan dan kami akan mengajukan proposal relatif segera, tapi kami tidak sedang dikejar waktu,” katanya kepada stasiun penyiaran layanan publik ZDF.
Merz juga membuka peluang terjadinya penyesuaian komposisi pemerintahan seiring proses pencarian ketua fraksi yang baru.
“Ini bisa menjadi peluang,” katanya, ketika ditanya apakah politisi dari pemerintahan bisa mengambil alih posisi ketua fraksi.
Sejumlah media Jerman menyebut nama Kepala Kanselir Thorsten Frei, Menteri Kesehatan Nina Warken, dan Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt sebagai kandidat potensial menggantikan Spahn. Namun, Merz menegaskan pembahasan resmi baru akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang karena Bundestag sedang memasuki masa reses musim panas hingga September.
Mengundurkan diri setelah menjadi sorotan
Spahn mengumumkan pengunduran dirinya pada Sabtu (18/7), beberapa hari setelah ia dan suaminya, Daniel Funke, mengungkapkan telah menjadi orang tua melalui ibu pengganti di Amerika Serikat. Pengumuman tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan politik karena dinilai bertentangan dengan sikap resmi CDU yang mendukung larangan praktik surogasi di Jerman.
Dalam pernyataannya, Spahn mengakui bahwa kehidupan pribadinya telah menimbulkan persoalan politik yang tidak dapat diabaikan.
“Dalam beberapa hari terakhir, saya menyadari bahwa kebahagiaan pribadi saya dalam membangun keluarga bersama suami dan menjadi seorang ayah tidak bisa sejalan dengan jabatan politik saya,” kata Spahn dalam sebuah pernyataan yang dilihat oleh kantor-kantor berita.
Merz menyambut keputusan tersebut dan menilai pengunduran diri Spahn merupakan langkah yang diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi politik.
“kredibilitas adalah aset paling berharga dalam politik.”
Ia menambahkan proses pemilihan ketua fraksi baru akan dilakukan melalui koordinasi antara pimpinan partai dan fraksi parlemen.
“Prosedur dan jadwalnya akan dikoordinasikan dengan komite partai dan fraksi parlemen,” katanya.
Kontroversi surogasi
Perdebatan mengenai kasus Spahn berpusat pada persoalan konsistensi antara sikap politik dan keputusan pribadinya. Sebagai salah satu tokoh senior CDU, Spahn selama ini mendukung larangan penggunaan ibu pengganti dan pernah memberikan suara sesuai garis partai untuk mempertahankan aturan tersebut.
Dalam wawancara podcast dengan harian Bild pada Jumat (17/7), Spahn mengatakan keputusan memiliki anak melalui surogasi tidak diambil secara mudah.
“bergulat dengan diri sendiri dalam waktu lama, termasuk soal surrogasi.”
Meski demikian, secara hukum Spahn tidak menghadapi pelanggaran di Jerman karena undang-undang hanya melarang praktik surogasi dilakukan di dalam negeri. Membesarkan anak yang lahir melalui ibu pengganti di luar negeri tidak termasuk tindak pidana menurut hukum Jerman.
Kontroversi ini bukan pertama kalinya Spahn menjadi sorotan publik. Saat menjabat Menteri Kesehatan selama pandemi COVID-19, ia sempat diselidiki atas dugaan penyalahgunaan dana publik. Namun, penyelidikan tersebut dihentikan oleh jaksa negara pada Maret lalu.
Sebelum kontroversi terbaru mencuat, Spahn masih dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di blok konservatif. Ia kembali terpilih sebagai ketua fraksi CDU/CSU pada Mei 2026 dengan dukungan sekitar 85 persen suara anggota parlemen. (*)




















Users Today : 878
Total Users : 1382760
Views Today : 1464
Total views : 6660952