Teks foto: Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahroni Passie
Infobenua.com.Samarinda —Komisi IV DPRD Kota Samarinda meminta tenaga kesehatan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial setelah komentar seorang dokter RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda terhadap keluhan pasien menuai reaksi publik.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Muhammad Novan Syahroni Passie menilai sikap dan ucapan tenaga kesehatan, termasuk di ruang digital, tetap berkaitan dengan tanggung jawab profesi.
Menurutnya, dokter maupun perawat tidak hanya dinilai dari pelayanan di rumah sakit, tetapi juga dari cara berkomunikasi kepada masyarakat.
“Status profesi itu tetap melekat walau di media sosial. Jadi jangan berpikir ini di luar jam kerja. Jaga tutur kata, jangan sampai omongan sendiri malah merugikan diri dan memperlihatkan minimnya rasa empati kepada masyarakat,” kata Novan (9/8/2026).
Kasus ini bermula dari unggahan pasien Yurizal Tri Chaerawan di Threads pada 22 Juli 2026. Saat itu, Yurizal menyampaikan keluhan karena belum mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam.
“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya. Soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal.
Unggahan tersebut mendapat ribuan komentar dari warganet. Namun, salah satu komentar dari akun yang diduga milik dr RMF, dokter RSUD IA Moeis Samarinda, justru memicu perhatian.
Dalam kolom komentar unggahan tersebut, akun RMF menulis kalimat “Bacot nih pasien”. Tangkapan layar komentar itu kemudian beredar luas di sejumlah platform media sosial.
Reaksi masyarakat semakin besar setelah Yurizal diketahui meninggal dunia pada 31 Juli 2026, sekitar sepekan setelah menyampaikan keluhan terkait layanan rumah sakit.
Manajemen RSUD IA Moeis Samarinda telah mengambil langkah dengan menonaktifkan dr RMF. Namun, Novan meminta kejadian tersebut menjadi evaluasi bagi seluruh fasilitas kesehatan di Samarinda.
Menurutnya, persoalan pelayanan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga bagaimana rumah sakit menyampaikan informasi kepada pasien dan keluarga.
“Kalau memang ruang rawat penuh atau ada antrean, pasien harus diberikan penjelasan. Jangan sampai pasien merasa tidak diperhatikan. Orang yang sedang sakit membutuhkan kepastian dan rasa tenang,” ujarnya.
Novan mengatakan komunikasi yang kurang baik sering kali menjadi penyebab munculnya kesalahpahaman antara pasien dan fasilitas kesehatan.
Ia meminta rumah sakit dan puskesmas memastikan saluran pengaduan berjalan efektif agar keluhan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti.
Selain itu, pimpinan fasilitas kesehatan diminta melakukan evaluasi terhadap kesiapan tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien.
“Ini bisa menjadi masalah besar kalau salah menyampaikan sesuatu. Orang sakit kondisinya berbeda, mendengar nada bicara sedikit saja bisa menimbulkan persepsi lain. Pelayanan harus tetap diberikan dengan baik,” tegas Novan.
“Harapan kita kejadian tersebut menjadi pengingat bagi seluruh tenaga kesehatan untuk menjaga sikap profesional, baik saat bertugas maupun ketika beraktivitas di media sosial,” demikian Novan.
Penulis Frida editor Eka mandiri

















Users Today : 1504
Total Users : 1415334
Views Today : 2187
Total views : 6725520