BALIKPAPAN – Borneo Forum ke-10 tahun 2027 akan digelar di Kalimantan Selatan (Kalsel). GAPKI Cabang Kalsel menargetkan forum tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan dan langkah konkret untuk mendorong transformasi serta hilirisasi industri sawit.
Estafet penyelenggaraan Borneo Forum ditandai dengan penyerahan panji Borneo Forum ke-10 dari Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono kepada Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Selatan Eddy S. Binti.
Penyerahan panji tersebut dilakukan dalam acara penutupan Borneo Forum ke-9 di Hotel Platinum Balikpapan, Jumat (7/8/2026).
Ketua GAPKI Cabang Kalsel Eddy S. Binti mengatakan, Kalimantan Selatan dinilai strategis menjadi tuan rumah Borneo Forum ke-10 karena memiliki potensi besar dalam industri kelapa sawit, mulai dari perkebunan rakyat, perusahaan perkebunan, pengolahan hingga peluang pengembangan hilirisasi.
“Borneo Forum ke-10 bukan hanya sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai momentum untuk menunjukkan potensi Kalimantan Selatan sekaligus membahas solusi konkret bagi pengembangan sawit yang berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” kata Eddy dalam keterangan tertulis kepada media, Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, pengalaman dan dinamika industri sawit di Kalsel juga relevan untuk dibahas dalam konteks pembangunan industri sawit di Pulau Kalimantan.
Eddy mengatakan, isu transformasi dan hilirisasi masih menjadi agenda penting dalam industri sawit. Namun, tantangan ke depan semakin luas sehingga forum tersebut perlu membawa perspektif yang lebih strategis.
“Kami ingin forum ini membahas bagaimana sawit Kalimantan dapat naik kelas, bukan hanya sebagai komoditas bahan baku, tetapi menjadi bagian dari industri yang menghasilkan nilai tambah, energi, produk turunan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Selain hilirisasi, kata Eddy, sejumlah isu strategis juga akan menjadi perhatian, seperti keberlanjutan, biodiesel, perubahan kebijakan perdagangan global, ketertelusuran, penerapan ISPO serta tuntutan pasar internasional.
Karena itu, tema besar Borneo Forum ke-10 diarahkan pada transformasi sawit Kalimantan menuju industri yang berkelanjutan, berdaya saing dan bernilai tambah, dengan petani sebagai bagian penting dari transformasi tersebut.
Fokus pada Petani
Eddy menegaskan, ukuran keberhasilan Borneo Forum ke-10 bukan sekadar jumlah peserta maupun tingginya level narasumber, melainkan dampak yang dihasilkan setelah forum berakhir.
Bagi petani, GAPKI Kalsel berharap forum dapat memperkuat posisi petani dalam rantai pasok, meningkatkan produktivitas dan kualitas tandan buah segar (TBS), memperluas akses terhadap teknologi, pembiayaan dan legalitas, serta mendorong kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan.
Sementara bagi pelaku industri, forum diharapkan membuka peluang investasi, memperkuat hilirisasi, memperluas pasar dan membangun kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, petani, lembaga keuangan, akademisi serta pemangku kepentingan lainnya.
“Yang paling penting, kami ingin Borneo Forum 10 memberikan manfaat nyata bagi petani sawit dan pelaku industri di Kalimantan Selatan,” katanya.
Ia menambahkan, industri sawit ke depan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Hilirisasi harus terus didorong agar nilai tambah tidak berhenti pada produk primer.
Biodiesel juga dinilai menjadi bagian penting karena sawit tidak hanya berkaitan dengan ekspor, tetapi juga memiliki peran dalam ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, tuntutan terhadap aspek keberlanjutan juga semakin tinggi. Industri harus mampu memenuhi persyaratan terkait lingkungan, ketertelusuran, tata kelola, hak pekerja dan aspek sosial.
“Jangan sampai regulasi keberlanjutan justru menjadi beban yang tidak proporsional bagi petani. Pemerintah dan industri perlu memastikan bahwa petani mendapatkan pendampingan dan akses agar mampu memenuhi tuntutan pasar global,” tegas Eddy.
Dorong Dukungan Pemprov Kalsel
Untuk menyukseskan Borneo Forum ke-10, GAPKI Kalsel berharap dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya berupa fasilitasi penyelenggaraan acara.
GAPKI juga mendorong agar forum tersebut menjadi momentum menghasilkan langkah dan kebijakan konkret bagi pengembangan industri sawit di Kalsel.
“Kami berharap ada forum tindak lanjut yang mempertemukan pemerintah daerah, GAPKI, petani, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun rekomendasi yang jelas dan terukur,” ujarnya.
Sejumlah isu yang dinilai penting untuk ditindaklanjuti antara lain peningkatan produktivitas perkebunan rakyat, penguatan kemitraan, percepatan legalitas dan kepastian usaha, peningkatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur pendukung, hilirisasi serta penguatan investasi sektor sawit.
GAPKI Kalsel berharap Borneo Forum ke-10 tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan agenda bersama, rekomendasi kebijakan dan tindak lanjut yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani maupun industri sawit.
“Kami ingin Borneo Forum ke-10 menjadi momentum untuk memperkuat posisi Kalimantan Selatan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri sawit di Indonesia. Sawit harus tumbuh bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi nilai tambah, keberlanjutan, daya saing dan kesejahteraan petani,” kata Eddy.
Sementara itu, usai menyerahkan panji Borneo Forum ke-10 kepada GAPKI Cabang Kalimantan Selatan, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono berharap penyelenggaraan Borneo Forum ke-10 di Kalsel pada 2027 dapat berlangsung lebih baik dibandingkan gelaran Borneo Forum ke-9 di Kalimantan Timur.
Ia berharap estafet penyelenggaraan tersebut dapat menjadi momentum bagi GAPKI Kalsel untuk menghadirkan forum yang semakin kuat, strategis dan memberikan manfaat nyata bagi perkembangan industri kelapa sawit di Kalimantan.
Penulis: Irwanto. S

















Users Today : 975
Total Users : 1417488
Views Today : 1463
Total views : 6728820