Infobenua.com, Washington — Amerika Serikat mulai menerapkan pola serangan berulang terhadap kemampuan militer Iran sebagai bagian dari fase baru konflik di kawasan Teluk Persia. Strategi tersebut diarahkan untuk mencegah Teheran memulihkan sistem pertahanan dan kemampuan militernya, terutama di sekitar Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menggambarkan pola tersebut setelah gelombang serangan terbaru terhadap Iran. Menurut Trump, Amerika akan membiarkan Iran membangun kembali sebagian kemampuan militernya sebelum kembali menyerangnya.
“Jadi kami menunggu sampai hampir selesai dibangun kembali, lalu kami menghantamnya,” ujarnya.
Pada Selasa (1/9), militer AS kembali menyerang sejumlah sasaran di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut menghantam dan menghancurkan sistem radar serta pertahanan udara, fasilitas maritim, kemampuan penanaman ranjau laut, dan fasilitas komunikasi milik militer Iran serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas Amerika Serikat di Timur Tengah. Rangkaian serangan itu menunjukkan mulai terbentuknya pola perang baru yang sebelumnya telah diantisipasi CENTCOM.
Menurut Axios, Washington mempertimbangkan serangan terbatas yang dapat dilakukan berulang kali jika diperlukan. Tujuannya adalah mencegah Iran mengembalikan kemampuan militernya di sekitar Selat Hormuz.
Seorang pejabat pemerintah AS menggambarkan pendekatan tersebut menggunakan istilah yang dikenal dalam strategi keamanan Israel, yakni “memotong rumput.”
Strategi tersebut tidak bertujuan mencapai kemenangan mutlak dalam satu rangkaian operasi militer. Sebaliknya, kemampuan lawan dikurangi secara berkala hingga ancaman dianggap masih berada dalam tingkat yang dapat dikendalikan. Ketika kemampuan tersebut kembali berkembang, serangan dilakukan lagi.
Jika diterapkan terhadap Iran, pendekatan itu berarti Washington akan memantau kemampuan militer yang dibangun kembali Teheran dan melancarkan serangan ketika kemampuan tersebut dinilai telah melewati batas tertentu.
Kemampuan Iran Tidak Hilang
Amerika Serikat telah mencatat sejumlah keberhasilan militer dalam beberapa bulan terakhir. Operasi AS berhasil mengurangi kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan mulai menargetkan kemampuan Iran dalam memasang ranjau laut.
Namun, kerusakan tersebut tidak bersifat permanen. Iran masih mampu memperbaiki atau memperoleh kembali sejumlah sistem radar, pertahanan udara, serta rudal antikapal.
Serangan udara AS dapat menghancurkan fasilitas militer tertentu, tetapi tidak serta-merta menghilangkan pengetahuan teknis maupun basis industri pertahanan Iran.
Dengan demikian, kemampuan Iran dapat diperlambat pemulihannya, tetapi belum tentu dapat dicegah sepenuhnya. Washington menghadapi pilihan berulang antara membiarkan Teheran membangun kembali kekuatannya atau kembali menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkannya.
Pakar Timur Tengah Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington telah memperingatkan risiko tersebut sejak April. Menurutnya, perkembangan ini dapat mengarah pada “konflik berkepanjangan berintensitas rendah yang diselingi intervensi lebih intensif.”
Strategi yang Tidak Dirancang untuk Perang Antarnegara
Pendekatan “memotong rumput” juga memiliki keterbatasan. Strategi tersebut pada awalnya dikembangkan Israel untuk menghadapi kelompok nonnegara, seperti Hamas, bukan negara yang memiliki struktur pemerintahan, kemampuan militer, dan basis industri pertahanan seperti Iran.
Menurut Yacoubian, penerapan strategi tersebut terhadap negara seperti Iran berpotensi berubah menjadi “strategi militer yang usang”.
Persoalan itu terlihat jelas di Selat Hormuz. Amerika Serikat harus memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka, sedangkan Iran tidak harus menutupnya secara permanen untuk menciptakan gangguan. Cukup dengan membuat pelayaran di kawasan tersebut dipandang berisiko, Teheran sudah dapat meningkatkan biaya ekonomi dan keamanan bagi Washington.
Iran juga memiliki keleluasaan dalam menentukan bentuk respons terhadap serangan AS. Washington dapat memilih intensitas serangannya sendiri, tetapi tidak dapat mengendalikan bagaimana Teheran membalas.
Trump telah berulang kali memperingatkan Iran agar tidak melancarkan serangan balasan. Namun, Teheran tetap merespons dengan meluncurkan rudal ke fasilitas Amerika di kawasan.
Yordania, misalnya, melaporkan 13 rudal balistik memasuki wilayah udaranya dan 10 di antaranya berhasil dicegat.
Risiko Perlombaan Senjata Nuklir
Serangan yang dilakukan berulang kali juga membawa risiko strategis yang lebih besar. Yacoubian memperingatkan bahwa Teheran dapat menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk membangun daya tangkal permanen adalah “dengan mengejar senjata nuklir.”
Jika skenario tersebut terjadi, strategi militer Washington dan Israel justru dapat mempercepat perkembangan yang selama ini ingin mereka cegah melalui serangan terhadap Iran.
Bagi pemerintahan Trump, membiarkan Iran memulihkan kemampuan militernya juga bukan pilihan tanpa risiko. Penguatan kembali kemampuan Iran di sekitar Selat Hormuz dapat membuka kemungkinan serangan terhadap kapal-kapal dan mengganggu salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian global.
Sementara itu, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan. Perbedaan kedua pihak tetap lebar meskipun ketegangan militer dan perundingan berlangsung berulang kali.
Trump dan Risiko “Perang Tanpa Akhir”
Strategi “memotong rumput” memiliki daya tarik tersendiri bagi Trump dari sisi politik domestik. Pendekatan tersebut memungkinkan Amerika Serikat melakukan operasi militer tanpa harus menduduki wilayah Iran, membangun kembali negara tersebut, atau mengerahkan pasukan darat dalam jumlah besar.
Model itu juga memungkinkan Trump menjaga jarak dari apa yang selama ini ia sebut sebagai “forever wars”, atau perang tanpa akhir, yang kerap ia kritik sebagai warisan pemerintahan sebelumnya.
Namun, terdapat paradoks dalam pendekatan tersebut. Strategi yang dirancang untuk menghindari perang berkepanjangan justru berpotensi menciptakan konflik yang tidak memiliki titik akhir yang jelas.
Yacoubian menyebut pendekatan “memotong rumput” sebagai “strategi Sisyphus: pengikisan tanpa akhir.”
Selama Washington tidak menerima kemungkinan bahwa Iran pada akhirnya akan kembali membangun kemampuan militernya, setiap serangan yang berhasil menghancurkan kekuatan Teheran juga berpotensi menjadi alasan bagi serangan berikutnya.
Dengan demikian, fase baru perang di sekitar Iran dapat berkembang menjadi siklus serangan, pemulihan, dan serangan kembali tanpa penyelesaian politik yang mendasar. (*)



















Users Today : 847
Total Users : 1462815
Views Today : 2636
Total views : 6842023