Infobenua.com, New York — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9/2026), ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York dalam situasi geopolitik yang ditandai perang Iran, konflik Rusia-Ukraina, gejolak energi, serta perdebatan mengenai masa depan organisasi internasional tersebut.
Sidang tahun ini berlangsung ketika sejumlah jalur diplomasi menghadapi kebuntuan. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menggambarkan kondisi global sebagai periode dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
“Para pemimpin dunia akan berkumpul di PBB dalam era ketidakpastian yang mendalam. Pada saat yang sama, kekuatan sedang bergeser. Dunia berubah. Dan institusi kita harus berubah bersamanya,” kata Guterres.
Kehadiran Trump menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut. Gedung Putih menyebut Trump akan menggunakan pidatonya untuk menekankan kebijakan luar negeri pemerintahannya, termasuk klaim bahwa perang terhadap Iran telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz juga mengatakan Trump akan menyoroti pendekatan pemerintahannya dalam menangani sejumlah persoalan internasional.
Selain menyampaikan pidato, Trump dijadwalkan melakukan serangkaian pertemuan bilateral dan multilateral dengan para pemimpin negara lain. Agenda tersebut mencakup pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Presiden Venezuela Delcy Rodríguez, serta para pemimpin negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Perang Iran dan ancaman energi
Perang antara AS dan Iran menjadi salah satu isu utama yang membayangi pertemuan para pemimpin dunia. Konflik tersebut telah berlangsung hampir tujuh bulan dan turut meningkatkan risiko terhadap keamanan energi serta jalur perdagangan regional. Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz mulai membaik dalam beberapa pekan terakhir setelah kapal-kapal mendapat pengawalan Angkatan Laut AS. Namun, arus pengiriman minyak masih berada di bawah level sebelum perang.
Harga minyak Brent juga masih berada di sekitar US$100 per barel, jauh di atas level sekitar US$70 sebelum konflik. Perkembangan terbaru menunjukkan harga minyak mulai bergerak turun setelah muncul sinyal mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pulihnya sebagian jalur ekspor minyak Arab Saudi.
Arab Saudi sebelumnya menutup salah satu jalur pipa alternatif yang digunakan untuk mengalirkan minyak guna mengurangi ketergantungan pada jalur Teluk. Jalur tersebut diserang kelompok militan yang didukung Iran di Irak. Sementara itu, aktivitas kelompok Houthi yang berbasis di Yaman juga meningkatkan risiko terhadap kapal pengangkut minyak dan pelayaran komersial di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Di tengah situasi tersebut, Qatar dan sejumlah mediator lainnya berusaha membuka kembali jalur perundingan Washington dan Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari menyebut kedua pihak masih menghadapi persoalan kepercayaan.
“Yang ingin kami katakan adalah, ‘Dengar, ini akan berakhir di meja perundingan.’ Kita bisa menandatangani kesepakatan sekarang atau 10 bulan lagi. Satu-satunya perbedaan adalah jumlah orang yang tewas dan kehancuran yang kita lihat,” kata al-Ansari.
Perkembangan terbaru menunjukkan AS dan Iran kembali memberikan sinyal mengenai kemungkinan menghidupkan kembali perundingan untuk mengakhiri konflik. Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB.
Trump dan Zelenskyy bahas gencatan senjata energi
Perang Rusia-Ukraina juga menjadi bagian penting dari agenda diplomatik Trump di New York. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bertemu Trump untuk membahas kemungkinan gencatan senjata yang menyasar infrastruktur energi kedua negara.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika serangan udara Rusia dan Ukraina kembali meningkat. Ukraina khawatir Rusia akan kembali menargetkan fasilitas pembangkit listrik dan sistem pemanas menjelang musim dingin. Pada Selasa, serangan Rusia dilaporkan menewaskan sejumlah orang di Ukraina, sementara serangan jarak jauh Ukraina merusak fasilitas kilang minyak Rusia.
Setelah berbicara dengan Trump melalui telepon pada Minggu (20/9), Zelenskyy mengatakan terdapat “momentum diplomatik” dan peluang untuk mendorong langkah deeskalasi.
“Sektor energi Ukraina, infrastruktur kritis, dan ekspor pangan kami harus berhenti menjadi sasaran Rusia, dan ini akan diikuti langkah-langkah deeskalasi yang sepadan dari pihak kami. Solusi dimungkinkan,” tulis Zelenskyy di X.
Trump sebelumnya mengatakan Rusia dan Ukraina telah mencapai kesepakatan untuk tidak menyerang sasaran energi. Namun, kesepakatan tersebut kemudian tidak bertahan setelah Rusia menyerang stasiun pengisian bahan bakar di Kyiv dan Ukraina menyerang kilang minyak Rusia. Menurut seseorang yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump meminta Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia sebagai bagian dari upaya deeskalasi.
Kyiv disebut enggan menghentikan serangan secara sepihak. Pemerintah Ukraina memandang serangan terhadap industri minyak Rusia sebagai salah satu instrumen untuk menekan Moskow agar kembali ke meja perundingan. Trump juga menyoroti dampak perang terhadap industri energi Rusia.
“Rusia sayangnya telah kehilangan kendali atas industri minyak dieselnya akibat perang dengan Ukraina,” tulis Trump di Truth Social.
Ia kemudian menambahkan, “Perang yang konyol dan tidak pernah berakhir dengan Ukraina ini harus diakhiri.”
Masa depan PBB ikut dipertanyakan
Selain perang dan keamanan energi, masa depan PBB menjadi salah satu persoalan yang turut membayangi Sidang Umum tahun ini. Pertemuan tersebut berlangsung ketika organisasi internasional itu menghadapi tekanan terkait efektivitas multilateralisme, konflik bersenjata, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan (AI), serta pergeseran hubungan dan aliansi antarnegara. Reuters mencatat agenda Sidang Umum ke-81 juga mencakup isu AI, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan dan kerja sama multilateral.
Mantan Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood mengatakan organisasi tersebut sedang menghadapi periode penting.
“PBB benar-benar berada pada titik balik. Tidak diragukan lagi. Tahun lalu kondisinya buruk. Tahun ini tidak jauh lebih baik,” katanya.
Salah satu persoalan yang kembali menjadi pembahasan adalah reformasi Dewan Keamanan PBB. Rusia mendukung penambahan anggota tetap, tetapi menginginkan hak veto yang saat ini dimiliki lima anggota tetap tetap dipertahankan. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia mendukung reformasi sekaligus perluasan keanggotaan permanen Dewan Keamanan.
“Pada saat yang sama, kami percaya bahwa institusi anggota tetap Dewan Keamanan, serta hak veto, merupakan elemen yang sangat penting dari keseluruhan struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Peskov.
Pandangan tersebut berseberangan dengan seruan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menginginkan penghapusan kategori anggota tetap sekaligus hak veto. Erdogan telah lama mengkritik struktur Dewan Keamanan yang menurutnya tidak lagi mencerminkan konfigurasi masyarakat internasional.
Di tengah perbedaan tersebut, para pemimpin dunia juga menghadapi isu lintas batas lainnya, termasuk perkembangan AI, perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi global. Menteri Luar Negeri Slovenia Tone Kajzer mengatakan perubahan hubungan antarnegara membuat penyelarasan kepentingan semakin kompleks.
“Dalam hubungan internasional, semuanya berubah: persahabatan berubah dan aliansi berubah. Namun yang tetap adalah kepentingan dan bagaimana menyelaraskan kepentingan tersebut agar kita hidup dalam damai dan bukan dalam konflik permanen,” kata Kajzer. (*)



















Users Today : 1257
Total Users : 1492878
Views Today : 2450
Total views : 6902914