Infobenua.com, Oslo — Norwegia menggelar upacara pemakaman Raja Harald V pada Rabu (9/9/2026), mengakhiri masa berkabung nasional selama 13 hari setelah wafatnya raja yang telah memimpin negara Skandinavia tersebut selama 35 tahun.
Prosesi dimulai ketika peti jenazah Harald meninggalkan Istana Kerajaan menuju Katedral Lutheran Oslo. Sebanyak 21 tembakan penghormatan terdengar saat rombongan bergerak menuju lokasi upacara.
Ribuan warga memenuhi jalan-jalan di pusat Oslo untuk memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah ruas jalan ditutup bagi kendaraan dan skuter listrik, sementara polisi meminta masyarakat tidak membawa sepeda, payung, maupun benda tajam.
Prosesi tersebut juga diawali dengan mengheningkan cipta selama satu menit sebagai tanda dimulainya upacara pemakaman. Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre mengatakan Harald berhasil mempertahankan wibawa sebagai kepala negara sekaligus kedekatannya dengan masyarakat.
“Ia mampu menyeimbangkan wibawa seorang kepala negara dengan sikap yang membumi,” kata Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre dalam pidato penghormatannya. “Ia membuat Norwegia menjadi lebih besar. Ia berbicara tentang ‘kita’ di Norwegia, di mana setiap orang hadir untuk saling membantu.”
Puluhan Ribu Warga Beri Penghormatan
Penghormatan terhadap Harald berlangsung di berbagai wilayah Norwegia. Negara berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa itu menyediakan sejumlah lokasi bagi masyarakat untuk menyaksikan prosesi secara bersama-sama.
Menurut penyiar publik NRK, puluhan gereja, perpustakaan, pusat kebudayaan dan balai kota memasang layar besar untuk menyiarkan upacara pemakaman. Pemerintah tidak menetapkan hari tersebut sebagai hari libur nasional. Namun, sekolah dan tempat kerja diberi keleluasaan untuk mengizinkan siswa dan karyawan mengikuti atau menyaksikan prosesi.
Antusiasme masyarakat juga terlihat selama Harald disemayamkan di kapel Istana Kerajaan. Warga rela mengantre berjam-jam untuk memberikan penghormatan terakhir. Pada akhir pekan, waktu tunggu bahkan mencapai tujuh jam. Selama masa persemayaman, lebih dari 46.000 orang tercatat mendatangi kapel tersebut.
Uskup Olav Fykse Tveit, yang memimpin upacara pemakaman, mengatakan penghormatan masyarakat menunjukkan besarnya ikatan antara Harald dan rakyat Norwegia.
“Cinta rakyat kepada Raja Harald tidak berakhir dengan kepergiannya, justru sebaliknya,” ujar Uskup Olav Fykse Tveit, yang memimpin upacara pemakaman, merujuk pada berbagai penghormatan yang ditinggalkan warga di luar istana setelah sang raja wafat. “Lautan bunga, beserta pesan dan gambar yang menyertainya, menjadi bukti besarnya rasa hormat dan kasih sayang yang dimiliki masyarakat kepadanya.”
Setelah upacara di katedral berakhir, peti jenazah Harald dibawa kembali ke kapel Istana Kerajaan untuk ditempatkan di tempat peristirahatan terakhir. Keluarga kerajaan kemudian menggelar upacara tertutup yang hanya dihadiri kerabat dekat.
Raja Baru Hadir Bersama Keluarga
Raja Haakon VIII, putra Harald yang kini meneruskan takhta, hadir dalam prosesi bersama keluarganya. Ia didampingi ibunya, Ratu Sonja, dan istrinya, Ratu Mette-Marit. Berbeda dengan sejumlah kerajaan Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir menyaksikan penguasa berusia lanjut memilih turun takhta, Harald tetap memegang posisi sebagai raja hingga akhir hayatnya.
Kenaikan Haakon VIII menandai pergantian kepemimpinan monarki setelah tiga setengah dekade pemerintahan Harald. Pemakaman kenegaraan tersebut dihadiri sejumlah kepala negara, kepala pemerintahan, serta anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara.
Dari Inggris hadir Pangeran William dan Putri Anne. Jepang mengirim Putra Mahkota Fumihito dan Putri Kiko, sementara Raja Felipe dan Ratu Letizia hadir mewakili Spanyol. Sejumlah anggota keluarga kerajaan Skandinavia dari Denmark dan Swedia juga menghadiri upacara tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier turut hadir. Di Berlin, bendera di sejumlah gedung pemerintahan dikibarkan setengah tiang untuk menghormati Harald.
Sorotan terhadap Keluarga Kerajaan
Di antara para pelayat terdapat Marius Borg Høiby, putra sulung Ratu Mette-Marit sekaligus anak tiri Raja Haakon VIII. Høiby tidak memiliki gelar maupun menjalankan tugas resmi sebagai anggota keluarga kerajaan. Kehadirannya mendapat perhatian karena ia tengah mengajukan banding atas vonis pemerkosaan yang dijatuhkan dalam persidangan awal tahun ini.
Kasus tersebut menjadi salah satu persoalan yang membayangi keluarga kerajaan Norwegia dalam beberapa waktu terakhir.
Monarki Norwegia Bertahan Sejak 1905
Norwegia mempertahankan sistem monarki setelah memperoleh kemerdekaan dari Swedia pada 1905. Dalam referendum pada tahun tersebut, sekitar tiga perempat pemilih mendukung keberadaan kerajaan.
Keluarga kerajaan Norwegia juga memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah kerajaan Eropa. Harald V dan Haakon VIII memiliki hubungan keluarga dengan Raja Charles III dari Inggris dan Raja Felipe VI dari Spanyol melalui garis keturunan Ratu Victoria, yang memerintah Britania Raya dari 1837 hingga 1901.
Meski demikian, monarki Norwegia saat ini tidak memiliki kekuasaan politik langsung. Pemerintahan dijalankan oleh pemerintah dan parlemen yang dipilih secara demokratis. Keluarga kerajaan tetap menjalankan fungsi simbolis dan menjadi salah satu representasi resmi Norwegia dalam hubungan internasional.
Dengan pemakaman Harald V, Norwegia menutup satu era pemerintahan monarki dan memasuki babak baru di bawah Raja Haakon VIII. (*)

















Users Today : 897
Total Users : 1473344
Views Today : 2021
Total views : 6865684