Foto : Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin
Infobenua.com, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan kasus mulai terlihat pada pekan ke-33 hingga ke-34 tahun 2026, yang dipengaruhi munculnya titik api, kabut asap, serta minimnya curah hujan.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, meski terjadi peningkatan, jumlah kasus ISPA saat ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kondisi pada awal tahun. Berdasarkan catatan Dinkes, kasus berada di kisaran 9.400 kasus, sementara pada Januari tercatat sekitar 9.300 kasus.
“Memang ada peningkatan, tetapi kalau dibandingkan dengan Januari, Februari, Maret itu kecil, masih sekitar 9.400 kasus. Kalau Januari itu 9.300 sekian,” ujarnya.
Menurutnya, kasus ISPA sempat mengalami penurunan pada pertengahan tahun. Namun, dalam beberapa pekan terakhir kembali meningkat seiring munculnya sejumlah titik api dan asap kiriman dari wilayah lain.
“Memang kecil, tapi meningkat karena sempat turun di pertengahan tahun, kemudian naik lagi karena dipicu titik-titik api yang ada. Ditambah asap kiriman dari Kalbar, Kalteng, kemudian Kaltim,” jelasnya.
Selain kabut asap, kondisi cuaca dengan curah hujan yang minim turut memengaruhi kualitas udara. Debu menjadi lebih mudah beterbangan sehingga dapat mengganggu saluran pernapasan masyarakat.
Dinkes Kaltim juga memberi perhatian khusus terhadap kondisi udara di Kabupaten Kutai Barat. Jaya menyebut, kualitas udara di wilayah tersebut sempat mencapai kategori berbahaya berdasarkan indikator standar udara.
“Di Kutai Barat sempat ISPU, indikator standar udara, mencapai tingkat berbahaya. Itu 318 mikrogram per meter kubik. Itu sudah berbahaya. Harusnya di bawah 55, ini sudah 318,” katanya.
Sementara itu, dari sisi jumlah kasus, wilayah dengan populasi penduduk besar tercatat menjadi daerah dengan kasus ISPA tertinggi. Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara menjadi tiga daerah yang mencatat jumlah pasien ISPA paling banyak di Kaltim.
“Memang peningkatan yang paling banyak tentu di Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara yang banyak pasiennya, karena banyak penduduknya,” pungkasnya.
Penulis : Nurfa | Editor: Redaksi



















Users Today : 325
Total Users : 1465393
Views Today : 689
Total views : 6847314