Infobenua.com, Berlin — Penyakit pes masih menjadi ancaman kesehatan meski sudah berabad-abad berlalu sejak wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa. Kasusnya kini relatif jarang dan dapat diobati dengan antibiotik, tetapi keterlambatan diagnosis masih dapat berakibat fatal.
Salah satu kasus terjadi pada Paul Gaylord di Oregon, Amerika Serikat. Gejala awal yang dialaminya menyerupai flu setelah ia digigit dan dicakar kucing yang sedang sakit. Dokter semula memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi akibat luka tersebut.
Namun, kondisinya terus memburuk. Gaylord akhirnya dirawat di unit perawatan intensif dan mengalami koma. Pemeriksaan kemudian menunjukkan bahwa penyakit yang dideritanya bukan flu maupun infeksi biasa akibat cakaran kucing, melainkan pes.
Gaylord berhasil bertahan hidup dan pada 2014 menceritakan pengalamannya kepada surat kabar Inggris The Guardian.
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh melalui sejumlah jalur, berkembang dengan cepat, merusak jaringan dan organ, serta menyebabkan perdarahan. Tanpa pengobatan, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi.
Tiga bentuk utama pes
Bentuk yang paling umum adalah pes bubonik, yang umumnya ditularkan melalui kutu. Kutu dapat memperoleh bakteri setelah menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, kemudian menularkannya kepada manusia. Setelah masuk ke tubuh, Yersinia pestis menyebar melalui sistem kelenjar getah bening dan menyebabkan pembengkakan yang biasanya terasa nyeri.
Jika bakteri masuk ke aliran darah, termasuk melalui gigitan mamalia yang terinfeksi, penyakit dapat berkembang menjadi pes septikemik.
Sementara itu, pes pneumonik terjadi ketika bakteri mencapai paru-paru. Penularannya dapat berlangsung melalui tetesan atau aerosol dari manusia maupun hewan yang terinfeksi. Bentuk ini merupakan satu-satunya jenis pes yang memungkinkan penularan antarmanusia.
Menurut Institut Robert Koch (RKI), hingga sekitar 3.000 kasus pes dilaporkan setiap tahun di seluruh dunia. Wilayah yang kini paling terdampak antara lain Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Madagaskar. Di Madagaskar, sekitar 250 hingga 500 orang terinfeksi setiap tahun. Kasus juga masih ditemukan di wilayah barat Amerika Serikat.
Bakteri pes berusia ribuan tahun
Hubungan manusia dengan Yersinia pestis sebenarnya jauh lebih tua daripada pandemi Eropa pada Abad Pertengahan. Para arkeolog telah menemukan bukti keberadaan bakteri tersebut pada kerangka manusia berusia lebih dari 5.500 tahun.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman Yersinia pestis terhadap manusia telah berlangsung jauh sebelum Wabah Hitam. Pada periode 1347–1353, pes menyebabkan sekitar 25 juta kematian dalam beberapa tahun. Pandemi tersebut kemudian berkembang dalam rentang lebih dari lima abad dan diperkirakan menewaskan sekitar 60 persen populasi Eropa.
Ben Krause-Kyora, arkeolog dan ahli biokimia di Institut Biologi Molekuler Klinis Universitas Kiel, meneliti DNA purba dan hubungan antara patogen dengan sistem kekebalan manusia. Menurutnya, evolusi kemampuan Yersinia pestis untuk menular merupakan salah satu aspek penting dalam memahami sejarah penyakit tersebut.
“Memiliki gen tertentu yang hilang sehingga penyakit tidak dapat ditularkan melalui vektor (seperti kutu),” kata Krause-Kyora.
Pada fase awal evolusinya, bakteri tersebut kemungkinan memiliki cara penularan yang berbeda. Penularan juga diduga dapat berlangsung melalui vektor lain atau konsumsi hewan pengerat yang terinfeksi.
“Pada akhir abad pertengahan, terjadi sesuatu yang menarik,” kata Krause-Kyora.
Menurutnya, Yersinia pestis kemudian memperoleh gen ymt, yang memungkinkan bakteri tersebut bertahan dan berkembang dalam kutu sehingga dapat ditularkan melalui vektor tersebut. Perubahan itu membuat kemampuan penularan bakteri meningkat secara drastis dan berperan dalam munculnya wabah besar.
Pes menghilang dari Eropa
Meskipun pernah menjadi penyebab pandemi besar, pes telah menghilang dari Eropa sejak 1945. Kasus terakhir di kawasan tersebut tercatat di Pulau Korsika, Prancis.
Holger Scholz, ahli biologi molekuler sekaligus kepala Laboratorium Konsiliasi Nasional untuk Yersinia pestis di Pusat Bahaya Biologis dan Patogen Khusus RKI, mengatakan perubahan lingkungan turut berperan dalam hilangnya penyakit tersebut dari Eropa.
Salah satu faktor utamanya adalah berkurangnya kontak antara manusia dan hewan pengerat yang membawa Yersinia pestis. Pada Abad Pertengahan, rumah-rumah manusia banyak dihuni tikus sehingga menciptakan kondisi yang mendukung perpindahan bakteri melalui kutu.
“Tikus, terutama tikus hitam, umumnya bukanlah hewan reservoir sejati,” kata Scholz. “Mereka jatuh sakit dan mati.”
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tikus di kawasan endemi dapat mengembangkan tingkat resistensi tertentu terhadap bakteri akibat paparan berulang.
Berbeda dengan populasi hewan pengerat Eropa, sejumlah spesies di wilayah lain diketahui berperan sebagai reservoir Yersinia pestis. CDC, misalnya, memasukkan beberapa jenis tikus semak Amerika dan hewan pengerat dari keluarga marmot, termasuk marmot Mongolia, dalam kelompok tersebut.
Diagnosis terlambat masih menjadi masalah
Scholz dan tim RKI bekerja sama dengan institusi kesehatan di wilayah endemi, termasuk Laboratoire d’Analyses Médicales Malagasy di bawah Kementerian Kesehatan Madagaskar.
Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah memperkuat kemampuan laboratorium untuk mendeteksi pes dengan lebih cepat. Menurut Scholz, diagnosis menjadi salah satu tantangan utama karena gejala awal penyakit sering menyerupai penyakit lain.
Ia mencontohkan kasus seorang pelari muda asal Amerika Serikat yang mengalami gejala mirip flu. Pasien tersebut sempat diminta pulang untuk beristirahat sebelum akhirnya meninggal.
“Dia meninggal karena tidak ada yang memikirkan kemungkinan pes.”
Padahal, pes dapat ditangani dengan antibiotik yang efektif jika diberikan tepat waktu.
“Pasien-pasien biasanya meninggal karena terlambat diagnosis dan terapi tidak segera dimulai,” kata Scholz.
Persoalan lain adalah ketersediaan obat. Di sejumlah wilayah seperti Madagaskar, pengiriman antibiotik ke lokasi yang membutuhkan dapat memakan waktu berhari-hari. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi penderita pes pneumonik. Bentuk penyakit ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu sekitar 48 jam setelah gejala muncul.
Risiko pandemi baru dinilai rendah
Meski Yersinia pestis masih menyebabkan kasus dan wabah lokal, Scholz menilai kemungkinan munculnya kembali pandemi pes seperti pada Abad Pertengahan relatif kecil.
Pes tidak menular semudah influenza maupun SARS-CoV-2. Selain itu, kemampuan medis dan standar kesehatan masyarakat saat ini jauh berbeda dibandingkan ratusan tahun lalu.
“Kita memiliki cara penanggulangan yang sangat berbeda” dibandingkan pada Abad Pertengahan, kata Scholz.
Saat pandemi besar terjadi di Eropa, antibiotik belum tersedia dan standar kebersihan serta sistem kesehatan modern belum berkembang. Risiko yang berbeda muncul apabila bakteri tersebut dimanipulasi secara genetik untuk digunakan sebagai senjata biologis. Karena itu, Pusat Bahaya Biologis dan Patogen Khusus RKI juga meneliti aspek yang berkaitan dengan bioterorisme.
Analisis genom memungkinkan peneliti membedakan berbagai strain Yersinia pestis dan menghubungkannya dengan wilayah tertentu.
“Kita juga dapat menilai apakah itu strain alami atau mungkin telah dimanipulasi,” kata Scholz.
Sistem deteksi harus terus diperkuat
Scholz tidak menutup kemungkinan Yersinia pestis kembali masuk ke Eropa atau Jerman melalui pelancong, meskipun risikonya dinilai rendah. Karena itu, kemampuan mendeteksi bakteri tersebut secara cepat tetap diperlukan.
“Kita harus mampu mendeteksi patogen pes dari segala jenis bahan,” kata Scholz.
Material untuk pemeriksaan dapat berasal dari pasien, lingkungan, maupun benda di sekitar masyarakat, termasuk sampel yang diperoleh dari sistem ventilasi kereta bawah tanah. Pengembangan metode diagnosis dan pengawasan terhadap patogen dinilai penting untuk memastikan setiap kasus dapat segera dikenali dan ditangani. Dengan deteksi yang lebih cepat, risiko berkembangnya kasus lokal menjadi wabah yang lebih luas dapat ditekan.(*)

















Users Today : 786
Total Users : 1445499
Views Today : 3052
Total views : 6784714