Teks foto: Hartati (36), pemilik Butik Simanis Madu (sebelah Kiri) dan Rahman Penjaga Toko Aibo (sebelah kiri)
Infobenua.com.Samarinda — Penurunan jumlah pengunjung membuat sejumlah penyewa gerai di Mal Lembuswana Samarinda mulai merasakan tekanan usaha.
Di tengah pergantian pengelola, para tenant berharap ada kebijakan baru yang dapat membantu pelaku usaha bertahan, mulai dari penyesuaian biaya sewa hingga upaya menghidupkan kembali aktivitas mal.
Hartati (36), pemilik Butik Simanis Madu, mengaku penjualan tokonya mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Ia menyebut kondisi semakin terasa sejak awal 2026 setelah muncul kabar mengenai rencana penutupan Mal Lembuswana yang ramai beredar di media sosial.
“Sekarang sudah sangat turun. Setiap ada pembeli datang, sering ditanya apakah benar mal ini mau ditutup. Itu berpengaruh karena membuat orang ragu datang,” ujar Hartati saat ditemui Infobenua, Sabtu (1/8/2026).
Pedagang pakaian muslimah yang sudah berjualan di Mal Lembuswana sejak 2013 itu mengatakan, sebelumnya omzet tokonya masih berada di kisaran Rp46 juta per bulan. Namun kini pendapatan turun hingga sekitar separuhnya.
“Sekarang sekitar Rp24 juta saja. Itu belum dihitung sewa, listrik, stok barang, dan biaya lainnya,” katanya.

Di tengah omzet yang menurun, Hartati menyebut beban operasional yang harus dibayarkan masih tetap berjalan. Untuk kios yang ditempatinya, biaya sewa mencapai sekitar Rp11,3 juta per bulan, di luar tagihan listrik sekitar Rp500 ribu.
Ia juga mempertanyakan kebijakan denda keterlambatan pembayaran sewa yang dinilai cukup memberatkan penyewa ketika kondisi usaha sedang lesu.
“Kalau lewat tanggal 15, dendanya 11 persen. Dalam kondisi mal sedang sepi seperti ini, seharusnya ada toleransi atau kebijakan yang bisa membantu tenant,” ungkapnya.
Menurut Hartati, persoalan yang dihadapi pedagang bukan hanya soal biaya, tetapi juga bagaimana pengelola mampu kembali menarik masyarakat datang ke Mal Lembuswana.
Ia berharap pengelola baru dapat menghadirkan berbagai kegiatan yang membuat suasana mal kembali ramai.
“Kalau sering ada event dan pengunjung kembali ramai, pedagang juga pasti terbantu. Kami berharap ada perubahan ke arah yang lebih baik,” ucapnya.
Selain persoalan pengunjung dan biaya sewa, Hartati juga meminta perbaikan sejumlah fasilitas pendukung di dalam mal. Ia menyebut beberapa fasilitas seperti eskalator, pendingin ruangan, dan penerangan masih perlu mendapat perhatian.
“Kalau fasilitas nyaman, masyarakat juga akan lebih tertarik datang,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Rahman, penjaga salah satu lapak Aibo di Mal Lembuswana. Ia mengatakan penurunan penjualan paling terasa sepanjang 2026.
“Kalau dibandingkan saat Covid masih lumayan. Tapi tahun ini turunnya terasa drastis,” ujarnya.
Rahman yang sudah menjaga lapak sejak 2018 menyebut biaya sewa tempat usahanya mencapai sekitar Rp17 juta. Ia berharap pengelola baru dapat melakukan pembenahan agar aktivitas ekonomi di dalam mal kembali bergerak.
“Semoga ke depan lebih diperhatikan. Mulai dari kondisi mal, AC, eskalator, sampai penerangan,” katanya.
Diketahui, pengelolaan Mal Lembuswana akan beralih kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya (PT KMBS), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pengelola baru tersebut menggantikan PT Cipta Sumena Indah Satresna (PT CSIS) yang masa kerja samanya berakhir pada 26 Juli 2026.
Penulis: Frida | Editor: Eka Mandiri.



















Users Today : 1567
Total Users : 1400392
Views Today : 3202
Total views : 6700188