Infobenua.com, Washington – Departemen Perang Amerika Serikat mengumumkan dimulainya pengembangan sistem senjata laser generasi baru untuk memperkuat pertahanan terhadap rudal jelajah (cruise missile) dan pesawat tanpa awak (unmanned aerial system/UAS). Program tersebut diawali dengan pemberian dua kontrak kepada perusahaan pertahanan nLIGHT Defense dan Lockheed Martin Aculight.
Kedua kontrak tersebut diberikan melalui skema Other Transaction Authority (OTA) yang dijalankan oleh program Scaled Directed Energy (SCADE) Critical Technology Area (CTA). Nilai awal kontrak mencapai US$86 juta, sementara total anggaran program diperkirakan dapat mencapai US$847 juta.
Program Joint Laser Weapon System (JLWS) berada di bawah koordinasi Office of the Under Secretary of War for Research and Engineering (OUSW(R&E)). Tujuan utamanya adalah mempercepat transisi teknologi senjata energi terarah (*directed energy weapon*) dari tahap uji coba menuju sistem yang siap diproduksi dan dioperasikan oleh militer.
Departemen Perang AS menjelaskan, sistem yang dikembangkan menggunakan laser berenergi tinggi dalam konfigurasi berbasis kontainer sehingga dapat dipasang secara modular pada berbagai platform, baik kendaraan darat maupun kapal perang. Desain tersebut diharapkan mempercepat proses pengerahan ke berbagai wilayah operasi.
Teknologi ini diklaim memiliki sejumlah keunggulan dibanding sistem persenjataan konvensional, antara lain mampu menyerang target dengan kecepatan cahaya, memiliki kapasitas tembakan yang jauh lebih besar (*deep magazine*), serta biaya intersepsi yang lebih rendah. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk menghadapi ancaman serangan kawanan drone maupun rudal jelajah modern.
Pada tahap awal, prototipe JLWS akan menggunakan laser berkekuatan sekitar 150 kilowatt (kW). Selanjutnya, kapasitas sistem akan ditingkatkan hingga kisaran 300–500 kW untuk memenuhi kebutuhan pertahanan terhadap rudal jelajah.
Selain itu, Departemen Perang juga akan mengembangkan sistem laser terintegrasi berkekuatan 500 kW dengan memanfaatkan teknologi yang berasal dari program High Energy Laser Scaling Initiative (HELSI).
Wakil Menteri Perang Amerika Serikat Bidang Riset dan Rekayasa, Emil Michael, mengatakan pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pertahanan nasional menghadapi ancaman yang terus berkembang.
“Kami harus secara aktif melindungi wilayah Amerika Serikat dari ancaman yang terus berkembang,” ujar Michael.
Ia menambahkan pemerintah bekerja sama dengan industri pertahanan untuk mempercepat penyediaan kemampuan senjata energi terarah yang memiliki kapasitas tembakan besar dan dapat dioperasikan di berbagai domain militer.
“Kami bekerja sama dengan industri untuk mempercepat penyediaan kemampuan senjata energi terarah dengan kapasitas tembakan besar bagi Pasukan Gabungan, yang dapat diterapkan secara mulus di berbagai domain operasi.”
Departemen Perang menilai penggunaan mekanisme Other Transaction Authority (OTA) memungkinkan proses pengembangan berlangsung lebih cepat dibanding sistem pengadaan konvensional. Skema tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengembangan prototipe sekaligus mempercepat transisi menuju tahap produksi untuk memenuhi kebutuhan operasional militer Amerika Serikat. (*)

















Users Today : 1138
Total Users : 1367376
Views Today : 4686
Total views : 6612329