Foto : Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy
Infobenua.com, Samarinda — Lonjakan harga plastik di pasaran mulai berdampak pada pelaku usaha kecil di Samarinda. Kenaikan tersebut diduga dipicu gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), mengingat plastik berbahan PE dan PP masih bergantung pada turunan minyak sebagai bahan baku utama.
Kondisi itu membuat biaya operasional pelaku usaha, khususnya UMKM yang menggunakan kemasan plastik untuk layanan bungkus dan take away, ikut meningkat.
Di pasaran, harga plastik jenis kresek dilaporkan naik dari sekitar Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Sementara beberapa jenis plastik lainnya mengalami kenaikan dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan pemerintah masih melakukan penelusuran terkait penyebab kenaikan harga tersebut.
“Ini masih kita investigasi kenapa. Tapi plastik itu bukan kebutuhan mendesak, dia kebutuhan yang mengikuti. Kalau belanja tanpa plastik juga sebenarnya bisa,” ujarnya.
Menurutnya, dampak kenaikan harga plastik saat ini memang belum terlalu dirasakan langsung oleh masyarakat luas seperti kenaikan bahan pangan. Namun kondisi tersebut mulai menjadi beban tambahan bagi pedagang dan pelaku usaha kecil.
“Katanya bisa sampai tiga kali lipat kenaikannya, ini yang sedang kita cari kenapa dan mengapa. Nanti setelah kita temukan, baru kita ambil langkah,” katanya.
Marnabas menjelaskan plastik berbahan PE (polyethylene) umumnya digunakan untuk kantong kresek karena sifatnya lentur dan tahan air, sedangkan PP (polypropylene) lebih banyak dipakai untuk wadah makanan karena lebih kuat dan tahan panas.
Pemkot Samarinda, lanjut dia, mulai mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sekaligus membuka peluang penggunaan bahan kemasan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Plastik itu sebenarnya bisa didaur ulang. Jadi kita lihat juga alternatifnya,” ujarnya.
Ia juga mengimbau pelaku usaha mulai mempertimbangkan jenis kemasan lain agar tidak terlalu bergantung pada plastik.
“Kalau saran saya, pakai alternatif. Nasi bungkus tidak harus selalu pakai boks, masih banyak pilihan lain,” tuturnya.
Ke depan, pemerintah daerah berencana melibatkan dinas terkait untuk menelusuri rantai distribusi hingga faktor yang memicu lonjakan harga plastik di pasaran. Selain itu, masyarakat juga diimbau lebih bijak menggunakan plastik guna mengurangi timbulan sampah di Kota Samarinda.
Penulis : Nurfa | Editor: Redaksi



















Users Today : 662
Total Users : 1306956
Views Today : 2704
Total views : 6404766