Ket foto : Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar.
Infobenua.com Samarinda — Ambruknya tiang penyangga jaring setinggi sekitar 40 meter di fasilitas driving range milik Pemerintah Kota Samarinda menjadi sorotan luas.
Kejadian tersebut viral di media sosial dan memunculkan kekhawatiran publik terkait mutu konstruksi proyek bernilai puluhan miliar rupiah itu.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, menegaskan perlunya penjelasan menyeluruh atas insiden tersebut. Ia menilai, dengan usia bangunan yang belum genap satu tahun, kondisi konstruksi seharusnya masih dalam keadaan baik.
“Kami meminta penjelasan komprehensif mengenai penyebab robohnya struktur tersebut. Mengingat usia bangunan yang relatif baru, perlu ditelusuri apakah terdapat persoalan pada pondasi atau kondisi tanah yang kurang stabil,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Berdasarkan informasi awal yang diterima dari Dinas PUPR, tahap awal pekerjaan pada 2024 difokuskan pada penyiapan lahan. Area tersebut sebelumnya merupakan kawasan rawa yang telah melalui proses penimbunan, sehingga karakteristik tanahnya dinilai belum sepenuhnya merata.
Menurut Deni, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan perbedaan daya dukung tanah di sejumlah titik. Ia juga mengungkapkan adanya laporan terkait tiang lain yang mulai terlihat miring dan perlu segera ditindaklanjuti.
“Terdapat kemungkinan perbedaan daya dukung tanah pada beberapa titik. Kami juga menerima laporan bahwa terdapat struktur lain yang mulai condong, sehingga hal ini harus menjadi perhatian serius,” jelasnya.
Politikus Partai Gerindra itu menekankan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama sebelum fasilitas tersebut dioperasikan untuk masyarakat. Ia mengingatkan agar kejadian serupa tidak terulang saat area sudah digunakan secara luas.
“Keselamatan pengguna harus menjadi prioritas utama. Dengan nilai anggaran yang besar, hasil pembangunan harus dipastikan aman serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” tegasnya.
Diketahui, proyek pembangunan driving range tersebut menelan anggaran sekitar Rp61,8 miliar dari APBD, yang terbagi dalam dua tahap, yakni Rp27,9 miliar pada 2024 dan Rp33,9 miliar pada 2025. Fasilitas ini dirancang memiliki 32 bay, dua ruang VIP, serta dilengkapi sistem digital modern.
Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek, Hendra Irawan, menyampaikan bahwa dugaan awal penyebab kejadian mengarah pada kondisi tanah yang belum stabil.
“Indikasi awal menunjukkan adanya ketidakstabilan pada struktur tanah. Ketika terlihat mengalami kemiringan, tiang tersebut telah kami turunkan sebelum akhirnya dilakukan pembongkaran total untuk keperluan perbaikan,” ungkapnya.
Ia memastikan proses pembenahan akan segera dilakukan agar proyek dapat kembali berjalan sesuai rencana.
“Kami menargetkan dalam beberapa pekan ke depan sudah terdapat perkembangan signifikan dalam proses perbaikan,” pungkasnya.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri










Users Today : 1898
Total Users : 1520864
Views Today : 4540
Total views : 6960667