Infobenua.com — Kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap produk asal Brasil mulai berlaku pada Rabu (22/7), menandai babak baru dalam meningkatnya ketegangan perdagangan global. Di saat yang sama, puluhan negara lain bersiap menghadapi penerapan tarif baru Washington seiring berakhirnya tarif sementara sebesar 10 persen yang selama ini berlaku secara global.
Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif sebesar 25 persen terhadap sejumlah produk Brasil setelah menuduh negara tersebut menerapkan praktik perdagangan yang tidak adil. Kebijakan itu diterapkan menyusul penyelidikan yang dilakukan Washington selama satu tahun.
Penerapan tarif tersebut terjadi di tengah dampak kebijakan sebelumnya yang sempat menetapkan bea masuk tinggi terhadap Brasil. Di pasar domestik Brasil, harga pangan tercatat melambat setelah sebelumnya naik hampir 4 persen hingga Mei. Laju kenaikan harga kemudian turun menjadi sekitar 1,17 persen.
Keputusan Washington menuai penolakan dari Brasil. Namun, Wakil Presiden Geraldo Alckmin menegaskan pemerintah akan mengedepankan jalur diplomasi dibandingkan mengambil langkah pembalasan.
Dalam konferensi pers pada Selasa (21/7), Alckmin mengatakan Brasil akan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut melalui negosiasi.
Meski tarif mulai diberlakukan, sejumlah komoditas utama Brasil seperti daging sapi, kopi, dan suku cadang pesawat tetap dikecualikan. Peneliti Atlantic Council, Valentina Sader, memperkirakan sekitar separuh ekspor Brasil ke Amerika Serikat juga tidak terdampak oleh kebijakan tersebut.
Namun demikian, langkah Washington dipandang sebagai bagian dari strategi Presiden Donald Trump yang kembali menjadikan tarif sebagai instrumen utama dalam negosiasi perdagangan, sehingga meningkatkan risiko aksi balasan dari negara mitra.
Menurut Sader, kebijakan tersebut memiliki pesan yang lebih luas daripada sekadar hubungan dagang bilateral.
“menggunakan Brasil sebagai contoh untuk menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai prioritas dan pendekatan negosiasi mereka.”
Meski Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari lalu membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump, pemerintahan AS kini berupaya membangun kembali kebijakan perdagangannya dengan memanfaatkan dasar hukum lain yang masih tersedia.
Sader juga menilai alasan Washington yang mengaitkan tarif dengan sikap Presiden Luiz Inácio Lula da Silva memperkuat persepsi bahwa kebijakan tersebut memiliki dimensi politik.
“memperkuat persepsi bahwa tindakan ini tidak hanya ditujukan pada praktik perdagangan Brasil, tetapi juga bermotif politik terhadap Lula sendiri,” kata Sader.
Persoalan tarif kini menjadi salah satu isu penting menjelang pemilihan presiden Brasil yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Kamar Dagang Amerika di Brasil sebelumnya memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi ekspor Brasil ke Amerika Serikat senilai lebih dari US$11 miliar.
Selain terhadap Brasil, Presiden Trump pada Selasa (21/7) juga mengumumkan tarif sebesar 100 persen untuk obat-obatan generik yang akan mulai berlaku pada Agustus 2028. Pengumuman itu disampaikan sehari setelah Washington menetapkan tarif 50 persen terhadap berbagai produk asal Kanada yang dijadwalkan berlaku dalam waktu 30 hari.
Gelombang kebijakan tarif berikutnya diperkirakan akan menjangkau lebih banyak negara.
Pada Juni lalu, pemerintah Amerika Serikat mengusulkan tarif antara 10 persen hingga 12,5 persen terhadap sekitar 60 mitra dagang atas dugaan kegagalan mereka mengambil langkah untuk mencegah praktik kerja paksa.
Sejumlah analis memperkirakan skema tarif baru tersebut akan menggantikan tarif global sementara sebesar 10 persen yang akan berakhir pada Jumat. Tarif sementara itu sebelumnya diterapkan setelah kebijakan tarif Trump menghadapi hambatan hukum di Mahkamah Agung.
Utusan Perdagangan Amerika Serikat Jamieson Greer mengisyaratkan bahwa kebijakan lanjutan akan segera diumumkan.
“Kami memperkirakan akan segera ada langkah lanjutan,” kata Utusan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada CNBC.
Greer mengatakan kebijakan terkait isu kerja paksa akan mencakup sebagian besar perdagangan Amerika Serikat dengan negara lain.
“AS memiliki undang-undang untuk melarang perdagangan barang dengan kerja paksa. Negara-negara lain, sebagian besar tidak memiliki undang-undang tersebut, dan bagi yang memiliki pun tidak benar-benar menegakkannya,” tegas Jamieson Greer mengenai alasan pengetatan aturan perdagangan tersebut.
Ia menambahkan bahwa kebijakan baru tersebut akan mencakup mayoritas perdagangan Amerika Serikat meskipun berpotensi kembali meningkatkan ketegangan dagang internasional.
Dalam skema yang diusulkan, tarif sebesar 10 persen akan dikenakan terhadap impor dari Kanada, Uni Eropa, Meksiko, Taiwan, dan Inggris karena dinilai telah mengambil langkah dalam menangani praktik kerja paksa.
Sementara itu, produk dari lebih dari 40 negara lainnya, termasuk Cina, India, dan Jepang, akan dikenai tarif sebesar 12,5 persen.
Uni Eropa menyatakan tidak menerima alasan yang digunakan Washington dan menyebut kebijakan tarif tersebut sebagai tindakan yang “tidak beralasan.”
Di luar isu tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga masih melakukan penyelidikan terhadap 16 negara terkait dugaan kelebihan kapasitas industri yang dapat berujung pada penerapan tarif tambahan.
Hubungan dagang Washington dengan Kanada juga masih diwarnai ketidakpastian di tengah proses peninjauan Perjanjian Amerika Serikat–Meksiko–Kanada (USMCA). Pemerintah AS telah menyatakan tidak akan memperpanjang perjanjian dalam bentuknya saat ini.
Jamieson Greer dijadwalkan mengunjungi Meksiko pada Rabu hingga Jumat untuk membahas proses evaluasi USMCA, sementara pembicaraan dengan Kanada berlangsung lebih lambat.
Sejumlah pakar hukum menilai penggunaan Pasal 338 dalam Tariff Act 1930 yang belum pernah diuji sebelumnya merupakan upaya Washington memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi perdagangan dengan Kanada.
Menanggapi perkembangan tersebut, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan pemerintahnya masih mempertimbangkan berbagai langkah yang dapat diambil.
Ia menyatakan Ottawa sedang mengevaluasi “semua opsi.” Carney juga mengatakan bahwa dirinya dan Presiden Trump telah sepakat untuk “mengintensifkan pembahasan” dalam beberapa pekan mendatang. (*)


















Users Today : 1097
Total Users : 1386232
Views Today : 2662
Total views : 6669866