Penulis Dr. Fatimah Asyari, S.H., M.Hum. Advokat dan Dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Infobenua.com. Samarinda.Belakangan ini, Kota Samarinda semakin sering menjadi tuan rumah berbagai kegiatan budaya, olahraga, pemerintahan, hingga pertemuan nasional. Festival budaya digelar, ruang publik semakin tertata, dan wajah kota terus berbenah.
Ini tentu perkembangan yang patut diapresiasi.
Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu dijawab secara jujur.
“Mengapa banyak wisatawan datang ke Samarinda, tetapi tidak tinggal lebih lama?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan pariwisata.
Pariwisata bukan hanya tentang banyaknya orang yang datang. Yang lebih penting adalah berapa lama mereka tinggal dan berapa besar uang yang mereka belanjakan selama berada di daerah tersebut.
Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar manfaat ekonomi yang dirasakan hotel, restoran, UMKM, transportasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat lokal.
Sebaliknya, apabila wisatawan datang pagi dan pulang sore, maka dampak ekonominya tentu sangat terbatas.
“Di sinilah tantangan yang masih dihadapi Samarinda.,Kota ini sebenarnya memiliki banyak potensi.
Ada Sungai Mahakam yang menjadi ikon Kalimantan Timur.
Ada Desa Budaya Pampang yang menyimpan kekayaan budaya Dayak Kenyah.
Ada Teras Samarinda yang mulai menjadi ruang publik favorit masyarakat.
Ada wisata kuliner yang terus berkembang.
Ada pula posisi strategis sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara.
Namun, seluruh potensi tersebut belum sepenuhnya dirangkai menjadi pengalaman wisata yang utuh.
Wisatawan sering datang ke satu lokasi, berfoto, menikmati suasana beberapa jam, kemudian kembali ke daerah asal.
Bukan karena Samarinda tidak menarik.
Melainkan karena belum banyak alasan yang membuat mereka ingin tinggal lebih lama.
Menurut saya, inilah tantangan sesungguhnya.Pariwisata bukan lagi sekadar menjual tempat.
Pariwisata modern menjual pengalaman,Wisatawan ingin menikmati budaya, mencicipi kuliner, berinteraksi dengan masyarakat lokal, menyaksikan pertunjukan seni, berbelanja produk khas, hingga mengikuti aktivitas yang hanya bisa ditemukan di daerah tersebut.
“Jika semua pengalaman itu tersedia dalam satu paket, maka wisatawan tidak akan merasa cukup hanya berkunjung beberapa jam.
Mereka akan memilih menginap.Dari sinilah ekonomi daerah bergerak.
Karena itu, ke depan Samarinda perlu membangun ekosistem pariwisata, bukan sekadar memperbanyak agenda kegiatan.
Festival budaya, wisata sungai, kuliner, ekonomi kreatif, pusat oleh-oleh, museum, ruang publik, dan desa wisata harus saling terhubung.
“Bayangkan jika seorang wisatawan memulai pagi dengan menikmati Festival Budaya Pampang, siang mencicipi kuliner khas Samarinda, sore menyusuri Sungai Mahakam, malam menikmati suasana Teras Samarinda, lalu keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Kalimantan Timur.
Pola perjalanan seperti ini akan memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi daerah.
Promosi juga perlu berubah.
Jangan hanya mengajak orang datang.
Ajak mereka tinggal lebih lama.
Sampaikan bahwa Samarinda tidak cukup dinikmati dalam satu hari.
“Sebagai akademisi hukum, saya juga melihat pentingnya dukungan kebijakan yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat adat, perguruan tinggi, dan komunitas kreatif. Pengembangan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan perencanaan yang terpadu, target yang jelas, dan evaluasi yang berbasis data.
Di era Ibu Kota Nusantara, Samarinda memiliki peluang yang belum tentu datang dua kali.
Arus kunjungan ke Kalimantan Timur akan terus meningkat. Pertanyaannya bukan lagi apakah wisatawan akan datang, melainkan apakah Samarinda mampu membuat mereka bertahan lebih lama.
“Inilah pekerjaan rumah yang perlu kita jawab bersama.Karena keberhasilan pariwisata bukan diukur dari ramainya sebuah acara.
Bukan pula dari banyaknya foto yang beredar di media sosial.
Keberhasilan pariwisata adalah ketika wisatawan berkata,
“Satu hari di Samarinda ternyata tidak cukup. Saya harus kembali lagi.”
Kalimat sederhana itulah yang sesungguhnya menjadi ukuran keberhasilan sebuah kota wisata.
“Pariwisata bukan sekadar menghadirkan wisatawan. Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan alasan agar mereka betah tinggal, kembali berkunjung, dan dengan sukarela menceritakan pengalaman mereka kepada dunia.”


















Users Today : 309
Total Users : 1358787
Views Today : 886
Total views : 6529149