InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Sistem Deteksi dan Respons Cepat Jadi Kunci Rendahnya Angka Kematian DBD di Kaltim

by Eka Mandiri
Selasa, 15 Juli 2025, 23:46
in Advertorial, Diskominfo kaltim, Kaltim
Bagikan

Foto : Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin

Infobenua.com, Samarinda — Di tengah lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang melanda Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total 2.836 kasus hingga pertengahan Juli 2025, sistem layanan kesehatan di provinsi ini menunjukkan ketangguhannya. Tingkat kematian akibat DBD tetap terkendali di bawah 0,5 persen angka yang menandakan kesiapan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi dan menangani kasus secara cepat dan tepat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, menyebut bahwa capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti bahwa sistem kesehatan daerah mampu merespons krisis dengan pendekatan yang efektif.

“Ini adalah capaian penting yang menunjukkan sistem deteksi dini dan penanganan cepat di fasilitas layanan kesehatan kita masih berjalan optimal. Kami berupaya keras agar case fatality rate tetap terkendali di bawah 0,5 persen,” ungkap Jaya, Selasa (15/7/2025).

Beberapa daerah dengan jumlah kasus tertinggi seperti Balikpapan (765 kasus) dan Kutai Kartanegara (606 kasus), tetap mampu mempertahankan tingkat kematian yang rendah. Kabupaten Paser memang mencatat dua korban jiwa, sementara Kutai Timur, Balikpapan, Kukar, Berau, dan Penajam Paser Utara masing-masing mencatat satu kasus kematian.

Menurut Jaya, keberhasilan ini tak lepas dari kesiapan fasilitas kesehatan, distribusi tenaga medis, serta pelatihan yang berkelanjutan bagi petugas lapangan. Namun ia juga menegaskan bahwa sistem yang baik di hilir harus didukung oleh tindakan pencegahan kuat di hulu.

“Rumah sakit bisa menyelamatkan nyawa, tapi pencegahan di masyarakat adalah kunci utama untuk menekan angka kasus. Karena itu kami terus dorong Gerakan 3M Plus dan edukasi lingkungan,” ujarnya.

Gerakan 3M Plus yang dimaksud mencakup menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas, serta ditambah upaya lain seperti penyemprotan larvasida, pemakaian kelambu, dan promosi vaksinasi di daerah berisiko tinggi.

Dinkes Kaltim juga tengah memperluas jangkauan promosi kesehatan hingga ke tingkat RT dan desa, menggandeng tokoh masyarakat dan kader kesehatan dalam menyampaikan pesan hidup bersih dan sehat.

“DBD adalah ancaman yang terus datang, terutama saat cuaca tidak menentu. Tapi dengan kolaborasi antara fasilitas kesehatan yang siaga dan masyarakat yang aktif menjaga lingkungan, risiko bisa ditekan secara signifikan,” tegas Jaya.

Dengan tetap rendahnya angka kematian sebagai tolok ukur keberhasilan sistem, Dinkes Kaltim berharap pola respons cepat dan pencegahan terpadu ini bisa dijadikan model berkelanjutan untuk menghadapi tantangan penyakit menular di masa depan.

(ADV DiskominfoKaltim)

Penulis : Nurfa | Editor: Eka Mandiri

Views Count: 6

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1542675
Users Today : 2482
Total Users : 1542675
Views Today : 4671
Total views : 7007816
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com