InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
InfoBenua.Com
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Serangan Ukraina Picu Krisis BBM di Rusia, Sedikitnya 30 Wilayah Terdampak

by Hery Kuswoyo
Senin, 24 Agustus 2026, 20:37
in Internasional
Salah satu SPBU di Rusia

Salah satu SPBU di Rusia

Bagikan

Infobenua.com, Moskow — Serangkaian serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia memicu krisis bahan bakar baru yang kini meluas ke sedikitnya 30 wilayah negara tersebut. Kelangkaan kali ini bahkan mulai dirasakan di Moskow dan daerah sekitarnya.

Reuters melaporkan kondisi tersebut berbeda dari krisis bahan bakar sebelumnya yang berlangsung sejak akhir Mei hingga pertengahan Juli. Sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan antrean dan pembatasan penjualan bahan bakar di berbagai wilayah.

Jaringan stasiun pengisian bahan bakar milik Gazprom Neft dan Tatneft dilaporkan telah membatasi penjualan BBM di ibu kota Rusia.

“Tidak bisa dikatakan bahwa bahan bakarnya tidak ada sama sekali. Namun, jelas ada krisis,” kata Oleg Grigorenko, pemimpin redaksi portal media independen Rusia 7×7 yang dicap sebagai “agen asing” oleh pemerintah Rusia.

“Ini bukan sekadar masalah pribadi ketika, misalnya, Anda meninggalkan kota dan tidak tahu apakah bisa kembali lagi. Ini juga merupakan masalah ekonomi,” tambahnya.

Menurut Grigorenko, dampak kelangkaan mulai dirasakan oleh berbagai sektor yang bergantung pada pasokan bahan bakar. Di sejumlah daerah, pengemudi taksi, pekerja layanan kurir, dan industri konstruksi mulai kehilangan bisnis akibat terganggunya rantai pasokan.

“Logistik perusahaan konstruksi swasta sangat bergantung pada bensin,” jelas Grigorenko.

Antrean panjang di kawasan selatan

Media lokal Rusia juga melaporkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di wilayah Krasnodar, Rusia selatan. Pemerintah daerah menyebut lonjakan permintaan selama periode liburan sebagai penyebab utama kondisi tersebut.

Namun, sebagian warga menggambarkan situasi musim panas tahun ini jauh lebih buruk.

Igor Zakharchenko, agen properti di Sochi, kota yang terletak di pesisir Laut Hitam, menggambarkan situasi tersebut melalui unggahan di Instagram.

“Dengan suasananya yang tenang dan ritme hidup yang santai, Sochi saat ini mengingatkan pada masa sebelum Olimpiade, ketika belum banyak mobil di jalan dan jumlah wisatawan maupun penduduk kota masih jauh lebih sedikit. Namun masalahnya, tidak ada bensin di Sochi.”

Wakil pertama ketua komite energi parlemen Rusia, Igor Ananskikh, mengatakan kepada stasiun penyiaran RTVI bahwa pasokan bahan bakar diperkirakan kembali normal dalam waktu dua hingga tiga pekan.

Namun, ekonom Nikolai Korzhenevsky meragukan perkiraan tersebut. Ia meninggalkan Rusia sebagai bentuk penolakan terhadap perang di Ukraina dan kini tinggal di luar negeri.

Dalam wawancara dengan DW, Korzhenevsky juga menyoroti persoalan kualitas BBM yang beredar di Rusia. Ia mengatakan sejumlah kenalannya mengirimkan foto panel kendaraan yang menunjukkan pesan kesalahan, yang diduga berkaitan dengan kerusakan mesin akibat kontaminasi bahan bakar.

“Mobil tidak bisa menyala dan harus dibawa ke bengkel. Orang-orang yang sama juga mengatakan bahwa bengkel memiliki daftar tunggu hingga beberapa bulan, bahkan di Moskow,” kata Korzhenevsky.

“Setelah itu, Anda masih harus menunggu berbulan-bulan untuk suku cadang pengganti. Jelas, sebagian kendaraan tidak bisa menggunakan bensin tersebut ke tangki mereka.”

Korzhenevsky melihat gangguan di sektor minyak dan gas sebagai indikasi awal dari persoalan ekonomi yang lebih luas dan berpotensi berlangsung lama.

Produksi minyak Rusia ikut tertekan

Bloomberg melaporkan ekspor minyak Rusia selama perang mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan periode sebelumnya. Produksi minyak nasional juga disebut mengalami penyusutan.

Korzhenevsky mengatakan kapasitas produksi Rusia kini jauh di bawah tingkat sebelum perang.

“Pada 2019, Rusia memproduksi 11,5 juta barel minyak per hari,” kata Korzhenevsky. “Kini jumlahnya kurang dari 9 juta barel. Jika tren ini berlanjut dan masalah pengolahan minyak memburuk, produksi dapat turun menjadi 8 juta barel. Kondisi itu akan menciptakan situasi menuju krisis ekonomi dan sistemik secara menyeluruh.” ujarnya.

Ia menilai tidak terdapat solusi cepat untuk mengatasi persoalan tersebut. Dalam jangka panjang, menurutnya, Rusia bahkan berisiko mengalami kondisi ekonomi yang menyerupai Venezuela, dengan pendapatan nasional yang terus mengalami penurunan.

Pemerintah Rusia telah mengusulkan kemungkinan mendatangkan bahan bakar dari India, Cina, dan negara lain untuk menutup kekurangan pasokan.

Namun, jurnalis bisnis Rusia Vyacheslav Shiryaev menilai rencana tersebut menghadapi hambatan besar. Menurutnya, isolasi Rusia membuat pengadaan bahan bakar dalam jumlah besar menjadi sulit.

Shiryaev mengatakan kepada DW bahwa Rusia tidak dapat dengan mudah memastikan pasokan sekitar 200.000 ton bensin dan solar per hari, yang diperkirakan merupakan kebutuhan harian negara tersebut. Ia secara terbuka menentang perang di Ukraina dan juga masuk daftar “agen asing” pemerintah Rusia.

BBM diprioritaskan untuk layanan publik

Ekonom Rusia Igor Lipsits, yang juga masuk dalam daftar tersebut, mengatakan kilang minyak yang rusak akibat serangan tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Fasilitas yang telah diperbaiki pun tetap berpotensi menjadi sasaran serangan udara berikutnya.

Kondisi tersebut, menurut Lipsits, menjadi salah satu alasan pemerintah mulai menerapkan pembatasan konsumsi bahan bakar.

Kendaraan yang menjalankan layanan publik diprioritaskan untuk memperoleh BBM, termasuk ambulans, kendaraan petugas penyelamat, polisi, dan pemadam kebakaran. Aparat keamanan serta pejabat pemerintah juga memperoleh prioritas serupa.

“Hal ini terjadi di hadapan orang-orang yang telah menunggu berjam-jam dan menimbulkan banyak kekecewaan,” kata Lipsits, seorang pengkritik Kremlin yang meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar di Higher School of Economics di Mosow karena tekanan politik yang meningkat. Ia juga kini tinggal di pengasingan di Eropa.

Lipsits membandingkan situasi tersebut dengan periode menjelang runtuhnya Uni Soviet. Ia mengatakan ketika itu terdapat mekanisme distribusi khusus bagi kelompok elite yang memungkinkan mereka memperoleh barang tanpa harus menghadapi antrean panjang.

“Dulu ada sistem pasokan khusus bagi kelompok elite, dengan toko dan gudang sendiri, tempat mereka bisa membeli apa pun yang mereka inginkan tanpa banyak kesulitan, tanpa mengantre, dan dengan harga yang relatif rendah. Hal itu membuat warga Rusia sangat marah,” ujarnya. “Ketika Boris Yeltsin mengumumkan akan menghapus pusat-pusat distribusi tertutup itu, masyarakat mendukungnya dengan antusias. Kini, kita berada dalam situasi yang serupa.”

Menurut Lipsits, pola distribusi BBM yang semakin tertutup mulai terbentuk di Rusia. Jika kondisi tersebut berlanjut, akses untuk mendapatkan bahan bakar dapat berubah menjadi sesuatu yang hanya mampu dinikmati oleh kelompok tertentu, sementara memiliki dan menggunakan kendaraan menjadi kemewahan.

Serangan Ukraina dinilai dapat tekan ekonomi Rusia

Shiryaev menilai serangan Ukraina terhadap fasilitas Rusia yang memiliki fungsi militer maupun sipil berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian negara tersebut sekaligus mempercepat berakhirnya perang.

Menurut dia, konflik dapat berakhir dalam hitungan pekan apabila negara-negara Barat membantu Ukraina meningkatkan intensitas serangan hingga dua atau tiga kali lipat.

“Ukraina dapat menciptakan disorganisasi dan kekacauan di dalam Rusia, yang berujung pada hilangnya kendali secara menyeluruh,” kata Shiryaev.

Ia menilai gangguan pasokan bahan bakar dapat menjadi salah satu faktor yang memperlemah stabilitas pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Krisis BBM terbaru menunjukkan bahwa dampak serangan terhadap infrastruktur energi Rusia tidak hanya berkaitan dengan kapasitas pengolahan minyak, tetapi juga mulai merembet ke transportasi, logistik, industri, dan aktivitas ekonomi masyarakat. (*)

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Warga Muara Badak Resahkan Rehabilitasi Jembatan Sambera yang Dinilai Tak Sesuai Spesifikasi

Kamis, 24 Februari 2022, 21:32
Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Tambang Diduga Koridor di Siluq Ngurai , Minta Aparat Eksekusi

Kamis, 9 Juni 2022, 23:48
H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

H. Sigit Alfian Nahkodai SIJAKA di Kota Bontang Berikut Harapannya

Jumat, 1 April 2022, 10:02
Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Persiapan Pelantikan KMB Kaltim 2022, KMB Kaltim akan Meningkatkan Eksistensi, Gerakan, Elektabilitas Organisasi, Serta Mampu Mengabdi untuk Masyarakat

Rabu, 9 Maret 2022, 22:17
Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

Danlanud Dhomber Balikpapan Dedy Susanto Pamitan, Kepada Anggota DPRD Balikpapan

0
Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

Ketua DPRD Balikpapan Belum Terima Nama Dari Fraksi Untuk Perubahan AKD

0
DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

DPRD Balikpapan Akan Melakukan Perombakan AKD

0
HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

HUT Kota Samarinda ke-354 dan HUT Pemkot Samarinda ke-62, Pemkot Melakukan Penghijauan di sungai Karang mumus

0
Amunisi Perang Dunia di Laut Jerman Berubah Menjadi Ancaman Lingkungan

Amunisi Perang Dunia di Laut Jerman Berubah Menjadi Ancaman Lingkungan

Senin, 24 Agustus 2026, 20:51
Serangan Ukraina Picu Krisis BBM di Rusia, Sedikitnya 30 Wilayah Terdampak

Serangan Ukraina Picu Krisis BBM di Rusia, Sedikitnya 30 Wilayah Terdampak

Senin, 24 Agustus 2026, 20:37
Aturan Baru Pengisian BBM Bersubsidi di Balikpapan, Ini Jadwal Pertalite dan Biosolar

Aturan Baru Pengisian BBM Bersubsidi di Balikpapan, Ini Jadwal Pertalite dan Biosolar

Senin, 24 Agustus 2026, 19:10
Rumah Zakat Beri Penghargaan untuk 8 Veteran Balikpapan Lewat Program Kado Cinta

Rumah Zakat Beri Penghargaan untuk 8 Veteran Balikpapan Lewat Program Kado Cinta

Senin, 24 Agustus 2026, 18:51

Infobenua.com TVChannel

Statistik Pengunjung

1443322
Users Today : 502
Total Users : 1443322
Views Today : 1621
Total views : 6779430
  • Home
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Blog
  • Infografis
  • Video
  • KODE ETIK PERUSAHAAN PERS
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Copyright © 2017-2025 InfoBenua.com