Teks Foto: Plt Kepala Disbun Kaltim Arief Murdiyatno
Infobenua.com.Samarinda– Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai sekitar 1,4 juta hektare, dengan potensi ekonomi yang dinilai strategis untuk menopang transformasi ekonomi daerah. Namun, besarnya luasan perkebunan tersebut perlu diimbangi pembenahan tata kelola agar produktivitas meningkat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan sektor perkebunan memiliki peluang besar untuk menjadi penopang ekonomi daerah ketika ketergantungan terhadap sektor ekstraktif mulai dikurangi.
Hal itu disampaikannya setelah mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kaltim, Senin (26/10/2026).
“Potensi perkebunan kelapa sawit kita sangat baik. Aset ini harus kita jaga dan rawat karena bisa menjadi salah satu tulang punggung transformasi ekonomi ke depan, setelah era ekonomi yang berbasis ekstraktif,” ujarnya.
Dari total luas perkebunan sawit tersebut, sekitar 233 ribu hektare merupakan perkebunan milik masyarakat. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dengan jumlah pekerja yang disebut mencapai lebih dari 200 ribu orang.
Arief menyebut kontribusi subsektor perkebunan terhadap laju pertumbuhan ekonomi Kaltim mencapai sekitar 9,2 persen. Sementara itu, nilai tukar petani pekebun (NTP) tercatat sebesar 107, yang menunjukkan nilai yang diterima petani relatif lebih tinggi dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
Menurutnya, capaian tersebut memperlihatkan bahwa perkebunan masih memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Meski demikian, potensi tersebut tidak akan optimal apabila pengelolaan perkebunan belum dibarengi peningkatan produktivitas dan tata kelola yang memadai.
Pembenahan perlu dilakukan agar perkebunan yang telah berkembang luas dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar, baik bagi perusahaan maupun pekebun rakyat. Peningkatan produktivitas juga menjadi perhatian agar sektor ini mampu mempertahankan kontribusinya terhadap perekonomian daerah.
Di sisi lain, Arief menekankan bahwa pengembangan sawit tidak boleh mengesampingkan aspek lingkungan. Perlindungan kawasan konservasi dan kelestarian alam harus tetap menjadi bagian dari pengelolaan perkebunan, sehingga kepentingan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Ke depan, tata kelolanya harus terus kita perbaiki, terutama dari sisi produktivitas dan keberlanjutan. Lingkungan dan kawasan konservasi tetap harus dijaga, begitu juga hubungan dengan mitra plasma, pekebun swadaya, serta masyarakat sekitar,” jelasnya.
Selain produktivitas dan lingkungan, hubungan antara perusahaan perkebunan, mitra plasma, pekebun swadaya, serta masyarakat di sekitar perkebunan juga menjadi perhatian. Menurut Arief, keseimbangan hubungan antarpihak diperlukan agar manfaat ekonomi sektor sawit dapat dirasakan secara lebih luas.
Dengan luas perkebunan mencapai sekitar 1,4 juta hektare, pembenahan tata kelola menjadi salah satu tantangan penting bagi pemerintah daerah.
“Kita berharap sektor perkebunan dapat terus berkontribusi terhadap perekonomian sekaligus berkembang dengan memperhatikan produktivitas, kepentingan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan,” tutupnya.
penulis Frida editor redaksi







Users Today : 1416
Total Users : 1568881
Views Today : 1877
Total views : 7064372