Infobenua.com, Kyiv — Serangan udara Rusia terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Senin (19/10/2026) menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya. Di tengah eskalasi militer tersebut, hubungan Washington dan Kyiv kembali menjadi sorotan setelah muncul perbedaan pernyataan mengenai pertukaran intelijen Amerika Serikat (AS) dengan Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan berskala besar menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan 269 drone. Sistem pertahanan udara Ukraina diklaim berhasil menghancurkan atau melumpuhkan 243 drone dan empat rudal.
Serangan tercatat di 25 lokasi, sedangkan puing-puing dari sasaran yang berhasil dijatuhkan dilaporkan jatuh di delapan lokasi lainnya. Otoritas setempat juga melaporkan kerusakan bangunan dan infrastruktur di tiga distrik Kyiv.
Di Distrik Desnianskyi, sebuah fasilitas medis swasta dan stasiun metro mengalami kerusakan. Sementara itu, sejumlah institusi pendidikan dan fasilitas olahraga di Distrik Dniprovskyi terdampak puing-puing serangan. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di lantai tiga sebuah fasilitas medis di Distrik Solomianskyi.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah melancarkan “serangan besar-besaran” terhadap sejumlah sasaran di Ukraina dengan menggunakan “senjata dan drone yang presisi”. Moskow mengklaim serangan tersebut menyasar pusat data, fasilitas logistik, serta industri yang memproduksi komponen drone dan rudal jelajah Flamingo. Depo lokomotif yang disebut menjadi lokasi penyimpanan rudal juga masuk dalam daftar sasaran yang diklaim Rusia.
Selain itu, Moskow menyatakan telah menyerang sebuah kapal kargo curah di laut yang diduga membawa muatan militer serta barang yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Washington dan Kyiv berbeda pernyataan soal intelijen
Di tengah serangan yang berlanjut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah bahwa pemerintah Washington pernah menghentikan sebagian pertukaran informasi intelijen dengan Ukraina. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan keterangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang sebelumnya mengungkapkan bahwa akses terhadap informasi intelijen sempat terhenti.
Dalam wawancara dengan NBC pada Minggu (18/10), Zelenskyy mengatakan akses terhadap informasi intelijen sempat diblokir untuk sementara waktu sebelum kembali dibuka. Ia juga menyampaikan apresiasi atas pemulihan akses tersebut.
Namun, Rubio menegaskan tidak pernah ada penghentian pertukaran intelijen ketika berbicara kepada wartawan di Uzbekistan pada Senin.
“Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkan informasi ini atau mengapa dia menyampaikan hal-hal seperti ini kepada pers. Tidak ada penghentian,” kata Rubio. Ia menambahkan bahwa Zelenskyy seharusnya berfokus pada upaya mengakhiri perang.
Perbedaan pernyataan tersebut menambah ketegangan dalam hubungan AS dan Ukraina. Informasi intelijen dari Washington selama ini menjadi salah satu unsur penting bagi Kyiv untuk mendeteksi ancaman, termasuk peluncuran rudal balistik Rusia yang mengarah ke kota-kota Ukraina.
Sebelumnya, Zelenskyy juga sempat menduga pemerintah AS berada di balik pembatasan penggunaan Starshield, teknologi komunikasi berbasis satelit dari SpaceX yang berperan dalam mendukung pertahanan Ukraina terhadap drone dan rudal Rusia. Pejabat AS membantah tuduhan tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington masih berbagi informasi intelijen dengan Ukraina. Meski demikian, sejumlah pejabat Ukraina melaporkan adanya serangan Rusia yang berlangsung tanpa peringatan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kelancaran dan efektivitas pertukaran informasi kedua negara.
Putin usulkan pertemuan trilateral dengan Trump dan Xi
Di jalur diplomatik, Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengusulkan pertemuan dengan Trump dan Presiden China Xi Jinping pada November untuk membahas kemungkinan penyelesaian perang Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun.
Usulan tersebut dilaporkan The Wall Street Journal pada Minggu (18/10), dengan mengutip sejumlah pihak yang mengetahui pembicaraan tersebut. Menurut laporan itu, kesepakatan yang mungkin dibahas berpotensi memberikan keuntungan bagi Moskow.
Putin disebut menyampaikan usulan pertemuan tersebut dalam percakapan telepon dengan Trump pada 9 Oktober. Pembicaraan itu juga dilaporkan menghasilkan kesepakatan terkait pembelian diesel Rusia oleh AS.
Langkah pembelian diesel dan penangguhan sejumlah sanksi penting terhadap Moskow menuai kritik dari Zelenskyy. Presiden Ukraina itu memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memperkuat posisi Putin dan mendorong berlanjutnya perang.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengonfirmasi bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan pertemuan sedang berlangsung. Namun, ia menyatakan belum ada kepastian mengenai agenda yang akan dibahas.
Menurut laporan yang beredar, Kremlin mengusulkan agar pertemuan tiga pemimpin tersebut berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada 18–19 November di Shenzhen, China.
Seorang pejabat senior AS mengatakan Trump belum menyetujui usulan tersebut, meskipun masih mungkin mempertimbangkannya. Hingga laporan sumber disusun, Gedung Putih, Kremlin, dan pemerintah China belum memberikan tanggapan mengenai rencana pertemuan itu.
Perkembangan di medan perang dan jalur diplomasi tersebut menunjukkan bahwa upaya penyelesaian konflik Ukraina masih dihadapkan pada sejumlah persoalan. Sementara Rusia melanjutkan serangan militernya, perbedaan pandangan antara Washington dan Kyiv serta ketidakpastian mengenai rencana pertemuan para pemimpin dunia menjadi faktor penting dalam dinamika konflik selanjutnya. (*)








Users Today : 1874
Total Users : 1546604
Views Today : 4611
Total views : 7017050