Infobenua.com – Organisasi Migrasi Internasional (IOM) memperingatkan bahwa ratusan ribu orang setiap tahun menjadi korban perdagangan manusia dan dipaksa bekerja dalam jaringan penipuan daring di Asia. Sebagian besar korban direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu yang beredar di media sosial.
Dalam laporan yang dirilis Selasa (28/7/2026), badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut jumlah orang yang dipaksa bekerja di kompleks-kompleks penipuan daring terus meningkat secara signifikan.
IOM menyatakan pusat-pusat penipuan berskala besar kini berkembang di Myanmar, Kamboja, dan Laos. Kompleks tersebut mempekerjakan hingga 300.000 orang untuk menjalankan berbagai modus penipuan daring yang umumnya menyasar korban di negara-negara Barat, terutama kelompok lanjut usia.
Mengutip data Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), IOM menyebut kerugian akibat penipuan daring di kawasan Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru sepanjang 2025 mencapai US$114 miliar atau sekitar Rp2.052 triliun.
Meski demikian, IOM menegaskan bahwa sebagian besar pekerja di pusat-pusat penipuan tersebut juga merupakan korban perdagangan manusia. Mereka direkrut melalui tawaran pekerjaan fiktif dengan iming-iming kontrak kerja dan penghasilan yang menarik, terutama bagi pencari kerja yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan tingkat pendidikan tinggi.
Setelah tiba di lokasi kerja, dokumen identitas para korban disita. Mereka kemudian dipaksa menjalankan aktivitas penipuan daring di bawah ancaman kekerasan dan intimidasi.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan para korban tidak hanya mengalami eksploitasi, tetapi juga menghadapi berbagai dampak psikologis dan sosial, termasuk stigma, beban utang, trauma akibat kekerasan seksual, hingga penahanan di sel isolasi.
“Orang-orang yang terjebak di kompleks penipuan daring merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa melakukan tindak kejahatan lewat kekerasan, ancaman, dan pemaksaan,” kata Pope.
“Kita harus bekerja sama untuk mendukung para penyintas, menghentikan para pelaku perdagangan manusia, dan menutup celah-celah yang selama ini dimanfaatkan jaringan kriminal tersebut,” tambahnya.
Menurut Pope, korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat-pusat penipuan tersebut berasal dari lebih dari 80 negara.
“Jaringan-jaringan utama memang berbasis di Asia, tetapi berkat media sosial dan kemampuan untuk menjangkau orang-orang di begitu banyak negara, cakupan operasi mereka kini telah berkembang secara signifikan,” ujar Pope.
Sejak 2022 hingga 2025, IOM telah memberikan bantuan kepada lebih dari 3.500 korban yang berasal dari hampir 40 negara. Warga Indonesia, India, Sri Lanka, Etiopia, Kenya, dan Bangladesh tercatat sebagai kelompok yang paling banyak menerima pendampingan.
Sebagian korban berhasil melarikan diri atau dibebaskan melalui operasi aparat pemerintah. Namun, menurut Pope, tidak sedikit dari mereka yang masih menghadapi ancaman proses hukum ketika kembali ke negara asal.
Pope juga mengapresiasi langkah sejumlah negara, termasuk Thailand, yang dinilai semakin aktif mengidentifikasi dan menindak pusat-pusat penipuan daring. Meski demikian, ia menilai upaya penegakan hukum masih perlu diperkuat, terutama di wilayah-wilayah terpencil di Asia yang menjadi lokasi operasi jaringan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, IOM menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi korban perdagangan manusia.
“IOM menyerukan dukungan berkelanjutan untuk membantu korban perdagangan manusia melalui perlindungan, pemulangan yang aman, dan reintegrasi, sambil mendorong peningkatan kesadaran publik mengenai taktik para pelaku, sehingga masyarakat dapat mengenali risiko dan mengetahui ke mana harus mencari bantuan,” kata pernyataan IOM. (*)


















Users Today : 845
Total Users : 1393821
Views Today : 1811
Total views : 6687382