Ket Foto: Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso.
Infobenua.com Samarinda — Memasuki pertengahan tahun, Pemerintah Kota Samarinda mulai memperketat langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang cenderung lebih kering pada Juli hingga Agustus 2026 diperkirakan meningkatkan risiko munculnya titik-titik kebakaran di sejumlah kawasan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menghadapi kemungkinan terjadinya karhutla selama musim kemarau berlangsung. Pemantauan terhadap wilayah yang memiliki riwayat kebakaran juga terus dilakukan secara berkala.
Menurutnya, tren cuaca dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan berkurangnya intensitas hujan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Situasi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat memicu kondisi lahan menjadi lebih mudah terbakar.
“Awal Juli sampai Agustus diperkirakan menjadi puncak panas. Kami juga menerima informasi adanya potensi dampak El Nino yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran, termasuk di kawasan tempat pembuangan akhir,” ujar Suwarso, Sabtu (11/7/2026).
BPBD mencatat sejumlah wilayah seperti Sambutan, Palaran, dan Sungai Kunjang menjadi kawasan yang mendapat perhatian khusus. Ketiga daerah tersebut beberapa kali mengalami kejadian kebakaran lahan saat musim kemarau sehingga masuk dalam peta pengawasan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, koordinasi dengan berbagai instansi terkait terus diperkuat. BPBD menggandeng Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, hingga perangkat kelurahan untuk memastikan penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila ditemukan titik api.
Selain mengandalkan petugas, keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana juga dimanfaatkan sebagai ujung tombak pemantauan di tingkat masyarakat. Warga diharapkan dapat segera melaporkan apabila melihat indikasi kebakaran sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum api membesar.
“Semua unsur sudah siap. Ketika ada laporan dan titik lokasi diketahui, penanganan bisa langsung dilakukan bersama-sama,” katanya.
Suwarso menegaskan bahwa sebagian besar kasus kebakaran lahan masih dipicu oleh aktivitas manusia, terutama praktik pembakaran terbuka untuk membersihkan lahan maupun membuang sampah. Karena itu, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan cara-cara tersebut.
Ia mengingatkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa. Pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan adanya korban akibat terjebak asap saat melakukan pembakaran lahan secara mandiri.
“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi,” tegasnya.
BPBD berharap kerja sama antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat dapat menekan risiko karhutla selama musim kemarau tahun ini. Dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, potensi kebakaran diharapkan dapat dicegah sejak dini sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Penulis Nisnun Editor Eka Mandiri




















Users Today : 702
Total Users : 1369480
Views Today : 3486
Total views : 6622748